Tifatul Sembiring dan Komunikasi Horisontal

Beberapa hari yang lalu, dunia Twitter sedikit berguncang karena ada accout Twitter Tifatul Sembiring, saat itu banyak sekali yang meragukan bener gak nih ini Pak Menkominfo. Banyak yang curiga ini akun palsu, atau yang ngetweet adalah asistennya.

Ketika Pesta Blogger, pada tanggal 24 Oktober lalu akhirnya semua misteri itu terkuak. Ternyata memang benar bahwa yang ngetweet adalah Pak Mentri langsung. Dan dengan bangganya menyebutkan akun Twitternya, agar di follow oleh blogger yang datang di acara tersebut. Tujuannya Pak Mentri ingin mendapatkan masukan dari para blogger untuk perkembangan di bidang komunikasi dan informasi di Indonesia.

Sosok Tifatul Sembiring memang unik, banyak yang meragukan kemampuannya untuk menjadi Menkominfo, beberapa tulisan di Kompasiana pun merekam perdebatan mengenai ini, paling tidak bisa ditemukan di sini, dan di sini. Ketika SBY menyebutnya sebagai Menkominfo, banyak yang berpersepsi ini pasti hanya bagi-bagi jabatan mentri dari partai pendukung, tanpa melihat kompetensi.

Kemunculan akun Twitter, lalu kehadirannya yang mengejutkan di pembukaan Pesta Blogger, ditambah sikapnya yang low profile, langsung merebut hati para Blogger dan Tweeps (pengguna Twitter). Karena itu hanya selang beberapa hari semenjak pelantikannya sebagai Mentri. Meminjam istilah Hermawan Kertajaya, apa yang dilakukan oleh Pak Mentri adalah komunikasi horisontal, sebuah komunikasi dua arah, yang tak dapat dielakkan karena memang masyarakat juga sudah berubah.

Beliau menanggapi setiap masukan, dan kritik dengan suasana tenang, dan santai membuat para pengkritik menjadi segan padanya. Komunikasi horisontal yang dibangunnya membuahkan hasil, hanya dalam hitungan beberapa hari Pak Mentri mendapatkan simpati dan respek dari influencer yang punya pengaruh cukup besar. Tweeps  yang berpengaruh mulai memberikan respek padanya seperti Joko Anwar, dan Raditya Dika.

Hari gene, setiap Mentri seharusnya mengikuti gaya Tifatul Sembiring, karena gaya formal, menjaga jarak seperti yang selama ini dipraktekkan nggak laku lagi. Masyarakat itu hanya akan bersimpati kepada mereka yang mau mendengar, dan bisa diajak berdialog. Tifatul Sembiring, membuat sebuah gebrakan yang menarik untuk sebuah struktur pemerintahan yang dingin, dan generasi tua yang gaptek.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tuhunugraha/tifatul-sembiring-dan-komunikasi-horisontal_54ff10b5a33311874250f877