Wajah Baru, Sebuah Inovasi yang Tak Menyenangkan Semua Pihak

Beberapa waktu yang lalu Kompasiana berubah wajah. Kebetulan pas peluncuran wajah bau Kompasiana, saya ikutan datang walaupun tergolong anggota baru disini, tapi apa yang ingin saya kemukakan, ternyata perwajahan yang baru, dan inovasi serta fitur-fitur baru itu, tak semuanya mendapatkan tanggapan positif.

Hari ini saya menemukan paling tidak dua tulisan mengenai hal itu. Pertama, Kompasiana Lama Lebih Menarik dari Kompasiana Baru, dan kedua, Kompasiana Baru Lebih Sepi Pengunjung??.  Dan tak kalah seru adalah diskusi seru di kolom komentar masing-masing tulisan baik pro maupun kontra terhadap persepsi ini.

Kalau menurut saya pribadi, Kompasiana baru lebih trendi, fiturnya lebih bagus, tampilannya lebih segar. Semuanya lebih sempurna, tapi memang subyektif , karena saya adalah tipe petualang yang selalu tertarik dengan sesuatu yang baru.

Kejadian ini, sekaligus mengingatkan saya pada pergantian desain Facebook secara drastis, yang terjadi beberapa bulan lalu. Tampilan Facebook yang baru kala itu, menuai banyak protes, bahkan saat itu saya mendapatkan undangan untuk bergabung ke Groups yang tujuannya minta Facebook dikembalikan ke desain lama.

Walah-walah sampe segitunya, tapi itu justru menunjukkan bahwa Facebooker begitu cintanya dengan Facebook, sebagaimana Kompasianer begitu sayang dengan Kompasiana makanya protes. Karena memang tak semua orang bisa menerima perubahan dengan mudah. Beberapa orang akan bersuka ria, sementara yang lain tertatih-tatih, tapi lama-lama terbiasa juga.

Masalahnya, inovasi itu adalah sebuah keharusan, apalagi di media online, dimana perubahan sangat cepat. Kalau Kompasiana tidak segera tanggap, dan melakukan pembaharuan maka dia akan menua, dan ditinggalkan.

Lihatlah apa yang terjadi dengan Friendster, sekarang sudah hampir punah digilas Facebook yang agresif. Kenapa? Salah satunya karena FS tidak segera mengantisipasi masa depan. Facebook sangat mengerti hal ini, makanya selalu ada inovasi baru yang dikembangkan untuk membuat penggunanya loyal. Walaupun kadang penggunanya juga terengah-engah mengikuti perkembangannya.

Mungkin hal yang perlu didiskusikan, dan dicari solusinya adalah dalam periode berapa lama sebuah desain portal atau fitur itu harus ditambahkan agar tidak meresahkan penggunanya, tapi tetap juga mengantisipasi masa depan. Ini mungkin pertanyaan yang sulit, ada yang bisa berbagi?