Mengapa Nge-Tweet Lebih Banyak Aturan?

Seorang teman beberapa bulan yang lalu sempat kesal, dan nanya ke saya. Emang siapa sih yang berhak mengklaim bahwa dia Tweet Police, maksudnya mereka yang mengawasi update dari orang-orang yang menggunakan Twitter.

Persoalan yang sering kali muncul di Twitter adalah, timeline kita dibanjiri oleh update satu orang, akibat dia terlalu semangat update dalam waktu yang sangat berdekatan. Kedua, ada yang belum bisa membedakan antara Reply, dan ReTweet yang memaksa followernya untuk membaca percakapan yang sifatnya personal.

Pertanyaannya adalah, loh kalo di FS, FB atau Blog kok perasaan aturannya gak sebanyak ini yah? Padahal ini kan cuman update 140 karakter, kenapa bisa banyak aturan gitu? Coba-coba kita runut akarnya, mengapa kok bisa gitu?

Pertama, Twitter memang lebih dipersepsikan sebagai wadah untuk berbagi informasi, beda dengan Facebook, yang dibuat untuk berteman dan ngerumpi. Jadi hal-hal yang gak penting akan diterima dengan OK OK ajah, oleh para temennya.

Kedua, sistem following dan follower membuat Twitter adalah arena terbuka. Orang tak perlu persetujuan dari akun yang di follow updatenya (kecuali memang di block). Sehingga biasanya Tweeps (sebutan pengguna Twitter) hanya follow mereka yang dikagumi, atau dianggap penting. Makanya karena merasa sudah follow, para follower ini punya hak untuk memprotes, dan secara tak terlihat membuat kesepakatan-kesepakatan tak tertulis yang berlaku buat semuanya.

Ketiga, di Twitter itu fokus utama hanya pada teks, tidak ada yang lainnya. Jadi apabila teks yang dibaca itu tidak menarik, apa lagi yang bisa dilakukan? Kalo di facebook kan ada foto, ada diskusi, ada video dll. Jadi makin jelas donk, knapa orang-orang kok mendadak cerewet dan sok ngatur di Twitter. Intinya teknologi yang dibuat ini, membentuk perilaku kita dalam menggunakannya.