Social Media Mencari Bakat…

Ketika Facebook tumbuh pesat, lalu disusul dengan kehebohan Twitter, sepertinya Indonesia sedang demam dengan social media. Pengelola merek tentunya tidak tinggal diam untuk memanfaatkan momen ini. Hampir setiap merek, berlomba masuk ke social media berusaha mencuri perhatian konsumen ditengah mereka yang lagi rumpi-rumpi. Atau yang lebih canggih, ikutan nimbrung ke perbincangan konsumen, biar lebih dekat di hati ke para konsumen.

Ditengah keriuhan brand masuk ke social media, yang tak kalah serunya adalah perebutan SDM yang paham mengenai social media. Agency-agency, bahkan perusahaan, berlomba merekrut orang-orang yang paham mengenai social media. Terus kenapa? Berita bagus donk?

Betul sekali ini berita bagus, tapi ada permasalahan mendasar yang menjadi tantangan. SDM yang punya kompetensi ini masih sangat terbatas. Dan kedua perusahaan, tidak punya bayangan orang seperti apa sebenarnya yang seharusnya mereka rekrut untuk memegang social media. Karena social media adalah makhluk baru, yang banyak orang pun masih sibuk meraba-raba.

Lalu kompetensi dasar apa yang dimiliki, untuk mereka yang berkecimpung di bidang ini? Mungkin beberapa variable yang dijelaskan berikut bisa dijadikan referensi dan sedikit mencerahkan bagi mereka yang sekarang sedang panik mencari orang yang tepat.

Pertama, kompetensi utama yang harus dilihat dari seseorang yang mengelola brand di social media adalah kemampuan  menganalisis. Ini kemampuan dasar yang tidak dapat ditawar. Karena social media itu hanya medium, dan medium bisa berubah. Sekarang Twitter dan Facebook, kita tak tahu besok mediumnya apa.

Kemampuan analisis penting untuk melihat, bagaimana brand harus berkomunikasi di medium tersebut. Kemampuan analisis juga penting untuk mengetahui, bagaimana seharusnya brand berinteraksi di social media tersebut, yang diakibatkan dari perbedaan fasilitas, aplikasi yang tersedia, serta perilaku konsumen yang berada di dalamnya.

Kedua, pemahaman mengenai dunia pemasaran dan komunikasi. Sebagian orang lupa, bahwa ketika mengelola brand di social media. Ini bukan tentang dirinya, tapi tentang citra sebuah merek. Untuk bisa membangun citra yang benar, dia harus mengerti dasar-dasar komunikasi dan pemasaran. Karena dengan inilah dia bisa melakukan pendekatan yang tepat untuk membangun sebuah interaksi antara brand dan konsumen di social media.

Ketiga, interpersonal skill. Kemampuan ini menjadi penting karena di social media yang dibutuhkan bukan sekadar otak yang  pintar, dan konseptual yang keren. Karena social media adalah tentang seorang konseptor yang juga seorang eksekutor di lapangan. Mengelola social media adalah mengelola komunitas. Dan hanya mereka yang punya kecerdasan emosional lah yang akan bisa luwes berkomunikasi dengan komunitas yang terbentuk.

Keempat, mengerti dan mencintai dunia online dan social media. Ini menjadi krusial bukan karena susah untuk memahami dunia Twitter, FB dll. Tapi pekerjaan ini membutuhkan kepedulian 24 jam dalam sehari. Ini bukan pekerjaan office hour. Mereka harus merasa bukan sedang bekerja, tapi berinteraksi di social media sebagai sebuah kesenangan.

Keempat hal tersebut memang adalah hal yang ideal, lalu bagaimana bila diantara sekian banyak kandidat hanya memiliki sebagian kompetensi? Sebagai pribadi saya lebih memilih mereka yang punya kompetensi dasar untuk analisis dan interpersonal skill. Kompetensi lainnya masih bisa dipoles sambil jalan.

Keandalan dan eksistensi kandidat di social media saja tidak cukup untuk membuat brand menonjol di social media, karena semua brand juga sedang merayu konsumen yang sedang Anda  incar. Butuh sebuah kreativitas, dan pemahaman yang mendalam sehingga brand Anda dilirik, dengan membuat pendekatan yang bikin mereka merasa “Gue bangetttttt”.

Di sisi lain, komunitas online haus akan sesuatu yang baru karena mereka pembosan. Apabila kita hanya bisa menciptakan sesuatu yang itu-itu saja, ya percuma saja karena orang tidak akan menoleh sedikit pun, dan investasi yang dikeluarkan menjadi sia-sia….

Ini sekedar berbagi pengalaman saja, dari apa yang diamati dan dijalani selama ini. Ada tambahan lainnya?