55617c4f0423bd6e1c8b4567

Perubahan Tren Social Media, Bagaimana Antisipasinya?

Artikel yang menarik dipublikasikan di Daily Social kemarin, dan mungkin sedikit mengagetkan bagi para praktisi digital dan social media. Judul artikelnya saja sangat provokatif “Indonesia Kehilangan 5 Juta Pengguna Facebook, Turun ke Posisi #8“. Walaupun ada beberapa kontroversi mengenai keakuratan statistik Social Baker yang ditampilkan, berdasarkan beberapa komentar di artikel tersebut. Namun yang menjadi fundamental disini bukan soal statistik, tapi lebih kepada tren konsumsi social media tertentu yang sifatnya tidak abadi, akan ada siklus dimana audiens bosan, lalu berpindah ke social media baru. Masih ingat sebelum era Facebook (FB), audiens berkumpul di Friendster, lalu blog, dan Myspace? Lalu akhirnya saya tergerak untuk sharing di Twitter mengenai fenomena ini, terutama dikaitkan dengan brand, yang sebagian besar masuk digital fokusnya hanya 2: FB dan Twitter.

Bila dilihat lebih mendalam, investasi yang ditanamkan di FB itu lebih besar lagi. Ini sedikit berbahaya, karena bila Facebook ditinggalkan maka semua investasi yang sudah dibenamkan  akan sia-sia.  Misal di Facebook brand sangat bergantung karena berinvestasi: store locator, mini site, F-Commerce, jor-joran pasang iklan untuk meningkatkan jumlah FB Fans dll. Ketika FB mulai ditinggalkan, berarti kan harus memulai dari awal lagi, bukankah begitu? Kalau ingin mengetahui diskusi via Twitter. Dony Riyanto berbaik hati mengumpulkan tweet saya di chirpstory. Intinya, brand dan agency harus mempunyai mindset bahwa investasi di Facebook, Twitter dll atas nama membangun komunitas atau apapun itu sifatnya sementara. Karena pengguna  mudah berpindah ke social media baru, yang menawarkan fitur yang lebih inovatif, dan keren. Berapa lama life cycle sebuah social media mainstream? Hasil diskusi di Twitter juga tak bisa memberikan angka pasti rata-rata berapa lama sebuah social media akan bertahan. Jawaban sangat bervariasi antara 2-5 tahun. Bahkan beberapa social media sudah terlupakan, dengan rentang waktu yang lebih pendek.

Masih ingat dengan Plurk? Itu mungkin salah satu contohnya. Beberapa langkah strategis ini bisa dilakukan, untuk mengamankan investasi brand Anda di dunia digital:

Social Media Life Cycle Awareness

Hal pertama yang harus ditanamkan di benak Anda sebagai pemasar adalah, investasi yang ditanamkan di sebuah medium social media itu sifatnya bukan jangka panjang tapi jangka pendek. Dalam artian begini, social media secara keseluruhan, di dalamnya ada blog, FB, Twitter dan beragam bentuk lainnya itu adalah tren jangka panjang. Tetapi mediumnya sendiri, katakanlah Facebook, sifatnya jangka pendek. Konsekuensinya apa? Jangan fokus dan jor-joran hanya pada satu medium social media. dan juga dengan kesadaran bahwa siklus hidup sebuah media itu pendek. Sebagai pengambil keputusan bisa mengira-ngira apakah investasi yang dibenamkan itu layak tidak hanya untuk sekian periode. Untuk periode masa keemasan sebuah social media, asumsinya sangat relatif, mungkin Anda bisa membuat standar, dan asumsi sendiri.

Balancing Budget: Owned Media, Paid Media & Shared Media

Dalam skema online marketing media mix. Lee Odden dalam salah satu artike di blog Top Rank, membagi menjadi 4:  Owned Media, Paid Media, Shared Media & Earned Media. Owned media adalah media yang dimiliki oleh brand, misalnya website, minisite dll. Paid media adalah iklan di online, lalu earned media adalah perbincangan di dunia digital yang tak dibayar karena program PR baik di Online maupun offline. Dan yang terakhir share media adalah media yang dimiliki brand di social media untuk berinteraksi dengan audiens, disini termasuk Facebook, Twitter, Blog dll. Kaitannya dengan tema yang kita diskusikan adalah, penting untuk menyeimbangkan budget paid media, dalam investasi di owned media dan shared media. Kecenderungan saat ini paid media lebih banyak digunakan untuk mengembangkan jumlah komunitas di shared media.  Betul gak? Sementara owned media seperti tak terlalu dihiraukan, bahkan mungkin beberapa brand membuat website seadanya, atau lebih parah lagi tidak punya website sama sekali mengandalkan minisite yang ditaruh di Facebook misalnya. Keputusan ini menurut saya kurang bijak, kenapa? Karena seperti kasus yang disebutkan diatas Facebook, atau medium social media apapun sifatnya sementara. Untuk jangka pendek memang akan lebih mudah menggiring audiens dan berinteraksi dengan konsumen di Facebook dll, tapi harus diseimbangkan juga dengan kepentingan jangka panjang brand. Oleh karena itu menurut saya, lebih bijaksana bila investasi paid media,  sebagian diarahkan untuk menarik trafik ke owned media, atau kalau tidak, budget paid media  dikonversikan untuk pengembangan owned media itu sendiri misalnya, mengupdate konten secara reguler, menambahkan fitur baru, SEO dll yang tujuan akhirnya sama untuk meningkatkan kunjungan ke owned media.

Database Marketing & Digital CRM

Antisipasi lain untuk membuat investasi yang telah dilakukan di social media tidak sia-sia untuk jangka panjang, maka penggunaan social media harus dilihat dengan visi yang jauh ke depan yaitu digital CRM. Caranya bagaimana? Setiap campaign yang diinvestasikan di social media yang sedang tren saat ini, misalnya Facebook atau Twitter kita mendapatkan database dari konsumen tersebut, misalnya nomor HP atau e-mail, dan juga data standar mereka misalnya kota tempat tinggal dan umur. Database menjadi krusial terutama e-mail, karena orang relatif jarang berganti alamat e-mail, dibandingkan berpindah social media. Dan ketika akan membuat akun social media pun mereka pasti akan menggunakan akun emailnya untuk registrasi. Database e-mail yang dimiliki, bisa digunakan untuk mengkontak kembali mereka secara reguler, bahkan ketika konsumsi social media mereka telah berubah. Kita masih bisa mengkomunikasikan produk terbaru, hingga kampanye terbaru dari produk tanpa bergantung pada tren social media.

Apakah Anda setuju dengan pendapat ini? Atau ada yang ingin ditambahkan mari kita berdiskusi.