556219560423bde3738b4567

Donasi Era Digital: Belajar dari Indonesia Mengajar

Maraknya internet dan digital telah mengubah banyak hal, termasuk bagaimana sebuah organisasi nonprofit dan kegiatan kemanusiaan menarik simpati publik dan menggalang donasi. Di luar negeri bahkan ada beberapa blog yang khusus membahas mengenai pemanfaatan digital dan social media untuk kegiatan non profit salah satunya adalah blog BethKanter.Org . Namun di Indonesia, saya melihat ada yang menarik dengan penggalangan donasi yang dilakukan oleh Indonesia Mengajar yang diluncurkan bulan Agustus ini. Kampanye mengenai donasinya sangat kental menggunakan digital, dan mentarget dalam bahasa Yuswohady , Consumer 3000 dengan segmen Aspirator, yaitu segmen konsumen yang pengetahuannya sangat luas, dan networknya juga luas. Mereka ini berpikir bukan hanya tentang dirinya, tapi beerkontribusi lebih luas untuk kemanusiaan, lingkungan dll. Kalau Anda melihat bagaimana Indonesia Mengajar menggalang donasi publik pertamanya di link ini, maka ada banyak hal yang menarik yang bisa dipelajari, dan berbeda dibanding dengan organisasi non profit lainnya yang menggunakan cara-cara yang kadang mengganggu, misalnya menyebar orang-orang di jembatan penyebrangan, trotoar dll untuk menggalang donasi publik.

Eksklusivitas

Apabila organisasi  lain berusaha mengumpulkan donatur sebanyak-banyaknya. Indonesia mengajar justru mempersulit orang yang mau donasi. Donatur hanya dibatasi 3000 orang untuk tahap pertama, dan dibuka hanya selama Agustus. Bahkan digunakan sistem referral, akan dibuat sistem yang menjadi donatur harus didasarkan referensi mereka yang sudah menjadi donatur. Ini sangat menarik, karena audiens yang menjadi pendonor merasa dirinya eksklusif dan pahlawan. Sangat tepat dengan perilaku konsumen kelas menengah yang narsis. Apalagi para pendonor ini akan mendapatkan badge khusus, dan akan tercatat dalam sejarah Indonesia Mengajar sebagain donatur pertama.

Akuntabilitas

Hal kedua yang sangat penting dan dikomunikasikan dengan jelas berkali-kali dalam pesan Indonesia Mengajar, bahwa semua dana yang diterima akan dipertanggungjawabkan secara transparan. Mereka menggandeng PWC sebagai auditor independen untuk mengaudit keuangannya. Hal ini sangat penting bagi para donatur, karena mereka ingin memastikan uangnya akan tersalurkan dengan baik. Di Indonesia yang penuh dengan korupsi, tingkat kepercayaan publik sangat rendah, karena banyak kasus dana kemanusiaan pun dikorupsi. Artikel menarik mengenai ini dipaparkan Amalia Maulana, di blognya: Stoping power: Iklan Tong Fang Dan Zakat. Berdasarkan riset Etnomark, persoalan Zakat itu bukan soal kesadaran berzakat yang kurang, tetapi tingkat kepercayaan penyaluran dana zakatnya.

Kemudahan & Pilihan Beragam

Hal ini juga sangat penting dan menarik, ketika Anda masuk dan membuka website Indonesia Mengajar, langsung disuguhkan tiga pilihan kontribusi yang bisa Anda lakukan. Sebagai pengajar, relawan atau memberikan donasi. Ini memberikan pilihan yang jelas, sumber daya apa yang kita miliki, dan ingin dikontribusikan. Ketika Anda memilih untuk melakukan donasi pun, semua sangat transparan dan bisa dipilih. Donasi bisa dipilih dari Rp. 50.000 hingga Rp. 1.000.000 per bulan, dengan jangka waktu pilihan antara 6 bulan atau 1  tahun. Donasi akan langsung dipotong dar Kartu Kredit atau akun BCA Anda. Hal ini sangat memudahkan bagi segmen aspirator yang sibuk untuk berkontribusi dengan cara yang mudah, banyak pilihan dan tidak merepotkan. Semua bisa dilakukan hanya dengan terkoneksi internet, dan fleksibel kapan pun saat mereka senggang.

Interaksi & Komunitas

Para pendonor di Indonesia Mengajar juga tidak akan berhenti sebatas memberikan donasi, tujuan mereka mengapa dibatasi 3000, karena akan dibentuk komunitas agar mereka bisa memberikan sumbang saran, dan pengembangan Indonesia Mengajar ke depan. Mereka juga akan mendapatkan informasi dan undangan khusus untuk acara-acara Indonesia Mengajar. Ini sebuah ide yang sangat cerdas. Mengapa? Ketika datang era social media, maka semua bersifat dua arah dan interaktif. Audiens harusnya terlibat bukan hanya sebagai penonton pasif. Kalau di brand sudah dikenal adanya crowdsourcing, sepertinya disini juga akan diterapkan hal yang sama. Bagi pendonor hal ini tentu juga sangat menarik, karena mereka sebagai pemangku kepentingan bisa juga didengar suaranya untuk memberikan masukan-masukan. Ini sebuah emotional benefit yang dicari oleh segmen aspirator yang memang punya jaringan dan juga pengetahuan yang luas yang akan bisa berkontribusi untuk pengembangan Indonesia Mengajar. Apabila Anda sebagai pendonor apakah konsep yang ditawarkan oleh Indonesia Mengajar ini akan membuat Anda mau mendonasi? Atau lebih menyukai cara menarik donatur konvensional yang dilakukan beberapa NGO dengan turun ke jalan atau jembatan penyebrangan?