Skor Klout & Strategi Digital Marketing

Kemarin dapat newsletter dari Klout, mereka akan melakukan update yang cukup revolusioner sepanjang sejarah, sejak mereka berdiri di tahun 2008. Berikut link update blognya. Intinya Klout akan membuat skor didasarkan pada indikator yang bersifat kuantitatif dan juga kualitatif. Melihat bagaimana konten yang dibuat seseorang itu menyebar, dan direspon oleh audiens. Di sisi lain, Klout akan menampilkan data-data social media manakah yang menyumbang pengaruh paling besar bagi seseorang, termasuk artikel di wikipedia.

Untuk yang masih awam dengan Klout. Ini adalah alat yang cukup populer untuk mengukur pengaruh seseorang atau brand di dunia digital. Klout menggunakan skor 0-100 untuk menghitung pengaruh seseorang, atau brand di ranah digital. Oleh karena itu, ada beberapa hal penting dari algoritma Klout dan juga fitur barunya yang bisa dimanfaatkan untuk menyusun strategi digital marketing.

Pemilihan Buzzer

Tren digital marketing di Indonesia saat ini, harus diakui tidak lepas dengan fenomena buzzer, terutama buzzer di Twitter. Biasanya buzzer itu dipilih hanya berdasarkan jumlah follower. Saya pernah membahas di blog sebelumnya mengenai ini disini. Kehadiran algoritma baru Klout membuat pemilihan buzzer bisa lebih tepat sasaran. Mengapa? Karena bisa memilih buzzer bukan hanya karena jumlah followernya banyak, tapi harus dilihat juga pengaruhnya besarkah pada followernya. Ini bisa dilihat indikatornya dari skor klout. Apalagi belakangan sangat mudah membeli follower palsu dengan biaya yang sangat murah, sehingga banyak yang tergoda. Tak mengherankan penghasilan sebagai buzzer sangat menggiurkan. Maka kemudian timbul keriuhan ketika muncul alat yang bisa mendeteksi follower palsu yaitu statuspeople. Hal semacam ini tidak akan terlalu membuat gundah, bila KPI memilih seorang buzzer bukan hanya soal jumlah follower, tapi juga berapa skor kloutnya. Karena esensi pemanfaatan social media itu kan memang bagaimana pengaruh mereka ke audiensnya, bukan hanya sekedar berapa total jumlah audiens. Di sisi lain, Klout yang mempunyai fitur terintegrasi berbagai macam social media, memudahkan untuk memilih buzzer di channel yang lain. Misalnya menjadi buzzer di Facebook. Karena tidak semua audiens yang mau kita dekati itu ada di Twitter kan? Fitur terbaru Klout mendukung hal ini, memungkinkan kita untuk melakukan pengecekan, sebenarnya pengaruh seseorang paling kuat ada dimana.

Evaluasi Brand Influence

Brand bisa melakukan evaluasi dari beragam social media channel yang dimiliki, mana yang berpengaruh paling besar? Dari sana mungkin bisa ketahuan ternyata pengaruh dan engagement lebih besar via blog, atau Facebook misalnya, dibandingkan Twitter. Maka campaign akan dipusatkan disana. Atau sebaliknya, tujuannya adalah membuat engagement lebih tinggi via Twitter. Maka bila melihat hasil yang sebaliknya bsa melakukan inovasi dan eksperimen untuk meningkatkan engagement di medium ini. Paling tidak ini bisa memberikan gambaran yang lebih jelas, di medium mana konten yang kita lempar mendapatkan reaksi dan respon paling tinggi.

Social Media Risk Management

Brand di social media sangat rentan digoyang berbagai isu, mulai dari konsumen yang komplain, black campaign dari kompetitor dll. Komplain yang masuk bisa bertubi-tubi tiap hari, dari beragam channel. Oleh karena itu perlu disiapkan skenario bagaimana mengantisipasi hingga mengendalikan krisis yang mungkin terjadi. Ketika ada komplain dll, maka kita bisa cek klout skor akun tersebut. Apakah skornya cukup tinggi, dan berpotensi besar untuk menciptakan krisis? Tentunya penanganannya akan berbeda dengan yang skornya rendah. Misalnya apabila skor klout dibawah 65, maka cukup direspon standar karena dianggap tak berbahaya. Apabila lebih dari 65 skornya, maka perlu segera direspon, meminta maaf, dan dimonitor selama 1 minggu kemudian reaksinya, alert ke  tim PR.

Ada lagi yang menurut teman-teman bisa dimanfaatkan dengan menggunakan indikator skor Klout? Kita diskusi yuk…