Social CRM Part 8: Effective E-mail Blast

Dalam blog-blog sebelumnya saya sudah banyak membahas mengenai database konsumen. Lalu setelah mengumpulkan database terus ngapain? Langkah yang paling sederhana memanfaatkan setumpuk database itu adalah mengirimkan e-mail marketing sebagai bagian dari strategi digital untuk membuat konsumen loyal.

Agar  e-mail marketing ini efektif dan terkonversi ke penjualan, ada beberapa hal perlu diperhatikan.

Content

Pertama yang harus diperhatikan adalah judul e-mail yang membangkitkan orang untuk mau membuka e-mail tersebut. Kedua kontennya harus singkat, padat, dan punya call to action yang jelas di akhir. Misalnya “Klik link disini” , “Buruan hanya satu hari”, “Informasi lengkap liat di website” dll.

Berdasarkan pengalaman, jangan terlalu banyak gambar yang fancy, karena di beberapa provider e-mail, gambar akan dihilangkan untuk mempercepat loading, dan ada pilihan untuk display image bila diinginkan. Jadi perhatikan agar pesan disampaikan dalam bentuk teks bukan menyatu dengan gambar.

Saya beberapa kali menerima e-mail blast yang kosong, gak ada isinya karena pesannya terintegrasi dengan gambar desain. Ya akhirnya percuma, karena saya tidak akan buang waktu untuk display gambar. Kecuali ini sesuatu yang bagi saya sangat menarik.

Frequency

Frekuensi pengiriman e-mail juga perlu diperhatikan. Biaya untuk mengirimkan e-mail ke database mungkin memang lebih murah dibanding beriklan, dan riset yang dilakukan oleh Database Marketing Institute menambah jumlah frekuensi pengiriman email memang akan meningkatkan penjualan dalam jangka pendek, tapi akan merugikan dari sisi branding dan penjualan jangka panjang.

Mengapa? Karena semakin sering mengirimkan e-mail akan menyebabkan makin banyak yang unsubscribe, dan akan dipersepsikan sebagai spam. Dan hal yang lebih celaka pelanggan loyal kemungkinan juga akan unsubscribe.

Saya juga mengalami sendiri, misalnya Air Asia sekarang makin sering e-mail promo ini itu, kok lama-lama kayak promo sepanjang tahun ala Ramayana Robinson, sebagai konsumen jadi kebal dan tidak ada efek mengejutkan. Dibandingkan dengan e-mail promo dari Citilink, atau Qatar Airways dimana saya juga subscribe.

Incentive

Mereka yang subscribe ke newsletter seharusnya juga diberikan insentif-insentif lebih dibandingkan mereka yang tidak subscribe, misalnya mereka mendapatkan informasi produk baru terlebih dahulu, akan diundang ke peluncuran produk, atau mungkin dapet kupon diskon tambahan yang bisa ditukarkan di merchant, atau untuk pembelanjaan online. Dengan begini akan tercipta word of mouth untuk menguatkan loyalitas mereka yang sudah tergabung. Dan akan menjadi daya tarik buat mereka yang belum bergabung di dalamnya.

Urgency

Apabila call to action dari e-mail blast itu adalah untuk penjualan, maka harus diberi alasan kuat kenapa mereka harus segera membeli. Misalnya diskon hanya dalam rentang periode tertentu, atau bila beli produk dalam jangka waktu tertentu, dapat bonus produk lain. Contoh lain, 30 pembeli pertama akan mendapatkan diskon tambahan atau bentuk lainnya yang akan membuat konsumen berpikir haru belanja sekarang!!!

Kalau tidak ada bedanya belanja sekarang atau nanti, maka ya sudah mereka akan menunda-nunda dan menempatkannya bukan sebagai prioritas, dan sangat sayang kalau akhirnya terlupakan tidak terkonversi ke penjualan.

Apakah ada yang mau ditambahkan?