Stage lights at the concert

Confession of An Introvert Digital Expert Conquering The Spotlight

Suatu masa jaman SMA, dalam perkenalan dengan bimbingan para senior mahasiswa UNS. Saat perkenalan “Cita-cita saya pengen jadi orang terkenal”. Yes…. sejak dahulu saya memang terobsesi dengan spotlight, ingin jadi terkenal tapi bukan jadi artis. Karena saya sadar ngga suka dengan namanya kebisingan, dan diinvasi privasinya.

Ini sebenarnya sebuah paradoks, karena di sisi lain saya ini ternyata seorang introvert. Saya baru menyadarinya juga beberapa tahun belakangan ini. Karena obsesi yang begitu besar untuk spotlight, saya pikir dilahirkan sebagai extrovert. Makanya dulu suka iri, kok kalau hadir di sebuah acara, ngga bisa ya ngehitz kayak yang lain langsung kenalan sana sini, langsung akrab dll. I want to be like them!!! Rasanya seperti berdosa. Saya masuk ke sebuah ruangan di mana saya ngga kenal satu pun, rasanya dunia mau berakhir, karena ngga tahu gimana caranya kenalan ama orang.

Dan bayangkan dengan profesi saya sebagai seorang digital expert, maka mau ngga mau saya harus ketemu banyak orang. Karena saya menjalankan banyak profesi sekaligus mulai dari konsultan, trainer, dosen. Semua membutuhkan ketemu sama orang. Kok bisa? Introvert yang butuh spotlight? Itu seperti paradoks, tapi itulah saya.

Lalu bagaimana saya menaklukkan spotlight? Yang jelas bertentangan dengan sifat dasar yang dimiliki. Ditambah lagi, secara tampang juga pas-pasan. Pastinya butuh bukan cuma combo effort, tapi usaha empat kali lipat untuk dapetin spotlight.

Accept Just Who I am

Ini sepertinya sangat klise tapi memang penting. Dulu suka ngiri sama mereka yang extrovert, di konferensi digital atau di acara komunitas langsung melanglang buana, kenalan sana sini dan jadi spotlight. Saya dulu memaksakan diri buat begitu, lalu berakhir frustasi, karena memang tidak bisa. Akhirnya saya menyadari, saya ini memang tipe introvert, maka pakailah strategi orang introvert yang akhirnya aha!!! Saya menemukan tekniknya di artikel Harvard Business Review. Caranya ketika datang ke sebuah acara, di mana kita akan canggung. Nempellah sama orang extrovert, mereka yang akan mengenalkanmu ke orang lain, dan membuat saya merasa nyaman karena tidak seperti orang ilang, di tengah kerumunan manusia.

Be Bold and Make People Approach You

Saya menemukan tips ini juga saat membaca artikel HBR, tapi tanpa sadar saya telah mempraktekkannya. Saya selalu menarik perhatian orang lain dengan fashion yang autentik. Itu sebabnya saya konsisten pake hashtag #FashionableTrainer, baca lebih lengkap tentang alasan dibalik itu di artikel Mengapa #FashionableTrainer? . Saya juga membuat hashtag #MarketInsight, lalu banyak menulis karena ini adalah cara saya untuk menarik perhatian, dan membuat orang proaktif mendekati saya. Karena saya tidak nyaman untuk melakukan sebaliknya seperti halnya yang dilakukan mereka yang extrovert.

Ada saatnya saya memakai “topeng”, bersikap lebih proaktif dan ramah ke orang baru. Ini biasanya terjadi ketika jadi tuan rumah sebuah event, atau bertemu klien. Tapi sebenarnya di dalam hati, saya ngga bahagia, karena ada topeng yang harus dipakai. Dan pastinya saya tak akan bisa bertahan lama dengan topeng ini.

I Need My Cave Regularly

Ini adalah deskripsi aktivitas rutin tiap hari: koordinasi dengan tim Upnormals Pingfans, mengisi training tentang digital marketing dan social media, ketemu klien, presentasi ke calon klien, mengajar di pasca sarjana LSPR. Semua adalah hal-hal yang terkait sama ketemu orang. Ya saya memang menikmati ketemu dengan orang, apalagi orang baru. Saya ingin mendengar cerita dan pengalaman mereka.

Tapi sebagai seorang introvert, kadang akan lelah dan jenuh dengan “kebisingan” ini. Kebalikan dengan extrovert yang selalu makin berenergi dan memang nyaman ketemu banyak orang, bahkan orang yang baru sekalipun. Maka jangan heran kalau secara reguler saya akan menyepi. Bentuknya bisa macam-macam, tapi yang jelas pergi sendirian. Pergi hanya untuk merenung, dan lepas sejenak dari kebisingan. Itu sebabnya saya sangat menikmati jalan-jalan, sendirian ke daerah-daerah yang terpencil. Sekedar duduk-duduk, dari san muncul energi baru dan inspirasi untuk ide kreatif digital, visi Upnormals Pingfans dll.

Ini adalah cerita di balik layar yang mungkin banyak yang tak tahu. Mungkin mereka yang tak kenal secara mendalam, akan mengira saya ini extrovert. Lalu mengira sombong karena malas untuk menyapa duluan. Tapi yang ada sebenarnya saya adalah makhluk introvert, yang berusaha memahami dan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Untuk menaklukkan dunia, dan mendapatkan panggung. My life surely about paradox.

Bagaimana denganmu? Kamu extrovert atau introvert? Atau jangan jangan belum mengenal dirinya secara mendalam seperti diriku yang dulu.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini