learning

Mengapa Menjadi Dosen?

Di antara banyak kesibukan, di antara mengelola bisnis di Upnormals Pingfans, menjadi trainer dan pembicara tentang digital strategy dan social media, saya selalu mempunyai hati dan waktu untuk mengajar di kampus. Mengapa? Karena mengajar adalah panggilan hati, memberikan makna pada hidup, membuat saya merasa bahagia dan berarti.

Baca juga: Apa Misimu di Dunia?

Suatu masa ketika masih kuliah di MM UGM, saya berjanji suatu saat nanti apabila sudah punya pengalaman kerja maka ingin menjadi dosen paruh waktu. Karena menjadi pengajar yang sekaligus praktisi, itu menjadi solusi untuk jurang yang sangat jauh antara dunia pendidikan Indonesia, dan kecepatan perubahan di industri.

Kedua, saya merasa ada sebuah misi lain yang ingin saya kejar, setelah melihat generasi milenial. Generasi milenial harus diakui sangat kreatif, inovatif, lebih berani mengambil risiko. Namun di sisi lain, milenial sangat kurang soal daya tahan terhadap stres, penyelesaian masalah, dan ketajaman analisis. Mengapa? Karena teknologi dan internet yang membuat mereka menjadi seperti ini. Apalagi kultur masyarakat kita yang memang tidak dibudayakan membaca, dan menulis. Ketika bersinggungan dengan era teknologi, maka klop untuk menghasilkan generasi yang miskin analisis, dan tumpul dalam penyelesaian masalah.

Itu sebabnya di London School of Public Relations (LSPR), tempat di mana saya mengampu mata kuliah Social Media for Business untuk kelas Post Graduate Program (PGP), yang saya tekankan dan saya ajarkan adalah bagaimana melakukan analisis. Dan saya merasa senang, karena semester ini saya melihat perkembangan dan kemajuan signifikan cara mereka melakukan analisis. Karena baru saja selesai mengkoreksi tugas Ujian Akhir Semester (UAS).

Bagi saya tugas dosen itu kan bukan hanya memberikan ilmu, dan kasih nilai. Tapi lebih penting lagi adalah kompetensi apa yang kita harapkan mereka miliki setelah menyelesaikan mata kuliah ini. Semester berikutnya, saya akan terus berinovasi bagaimana tujuan ini bisa tercapai dan kompetensi yang mereka miliki lebih tajam. Fokus ke dua soft skill yaitu analytical thinking & problem solving. Dan tentu saja hardskill soal social media, itu sudah pasti.

Ada ide untuk bisa diterapkan? Atau ada yang juga menjadi dosen atau pengajar? Boleh dong dibagi pengalamannya…

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini