be-happy

NIP: Nrimo Ing Pandum, Setuju?

Momen Lebaran selalu menjadi saatnya pulang kampung, dan tahun ini bagi saya bukan hanya sekedar pulang, kumpul keluarga dll. Tapi juga tanpa sengaja, revisiting sistem nilai yang dianut, dipercaya. Evaluasi tentang segala pencapaian saat ini, dan harapan di masa mendatang.

Dalam sebuah acara keluarga besar kemarin, ada sebuah pernyataan yang mengganggu pikiran. Jadi orang itu harus Nrimo Ing Pandum (NIP), artinya adalah ikhlas atas apa yang kita terima. Dalam beberapa hari ini jadi terpikir, ini  sesuatu yang bertentangan dengan sistem nilai yang selama ini dikejar di dunia digital, yang saya geluti. Di mana semua bergerak sangat cepat, kita dituntut genjot dan genjot terus dan terus, lagi dan lagi. Semua harus bergerak cepat, terus menerus.

Tapi apakah memang harus NIP? Kalau dalam interpretasi, ya sudahlah terima saja nasib akan membawamu ke mana. Maka dengan tegas saya tak akan setuju, karena nasib itu kita sendiri yang menentukan mau jadi apa. Saya akan tetap menjadi manusia yang dianggap tak punya masa depan, apabila saya menerima nasib, dan opini orang sekitar yang saat itu menganggap saya ini anak yang bodoh.

Saya tak akan mungkin jadi alumni Hubungan Internasional (HI)UNPAD, karena ketika mau daftar itu semuanya bicara dengan sinis. Yakin bisa? Itu kan susah banget masuk HI. Jadi bagi saya, tidak bisa menerima begiru saja mengalir mengikuti ke mana nasib akan membawa kita. Dan banyak sekali cibiran lain yang pernah saya dengar, dan saya tak peduli yang akhirnya saya membuktikan semua bisa kok. Apalagi ini bicara industri digital yang saya geluti dan saya nikmati. Interpretasi yang dangkal itu tak akan membawa saya ke mana-mana.

Tapi di sisi lain, mereka-mereka yang percaya dengan NIP ini, saya melihatnya mereka lebih bahagia. Mereka lebih bisa menikmati hidupnya. Mereka tidak terjebak kerakusan, yang akan membuat kita kehilangan esensi yang kita cari di dunia. Meereka memaknai dan menjadi bahagia untuk apa yang dipunya.

Baca Juga: Apa Misimu di Dunia? 

Bagi saya memakanai NIP ini adalah ya terimalah dan ikhlas untuk apa yang terjadi. Apakah itu sukses atau gagal, setelah kita mencoba dan melakukan yang terbaik. Ketika gagal, ya sudah coba lagi dengan cara yang berbeda sampai berhasil. Dan nikmati setiap proses dan pembelajaran yang diperoleh dari situ. Sistem nilai Jawa ini, mengingatkan saya untuk tidak lupa menikmati dan menjadi bahagia, di tengah kehidupan metropolitan yang membuat kita sibuk mengejar materi dan berkompetisi tapi lupa memaknai.

Apakah kamu setuju? Any comment?

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini