komunikasi digital

5 Kompetensi Komunikasi Digital yang Harus Dikuasai, Apa Saja?

Kecerdasan digital di era ekonomi digital saat ini menjadi hal yang tak bisa dhindari. Saya pernah membahas tentang 8 aspek mengenai kecerdasan digital di sini. Salah satu aspek dari kecerdasan digital adalah komunikasi digital.

Saya tertarik untuk menjabarkan lebih lanjut mengenai komunikasi digital. Karena berdasarkan diskusi, membaca hasil riset, dan data di internet. Ada beberapa aspek mengenai komunikasi digital yang harus Anda pahami, dan kuasai. Kompetensi ini menjadi sangat krusial yang menentukan Anda bisa bertahan atau tidak, di era ekonomi digital yang sangat kompetitif.

Pertama, kemampuan menulis dengan berbagai medium digital dan kenali struktur menulis dan bahasa yang digunakan di tiap medium sangat berbeda.

Aspek ini harus benar-benar dipahami, setiap medium digital mensyaratkan cara menulis yang berbeda. Tulisan di email sifatnya harus profesional dengan bahasa baku, dan memperhatikan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Anda tidak bisa menggunakan bahasa tulis di aplikasi chat, untuk diadopsi di e-mail misalnya. Mengapa saya menekankan ini? Karena saya sering kali mendengar keluhan, banyak sekali generasi milenial yang tidak bisa menulis e-mail.

Saya pernah mendengar langsung, generasi milenial fresh graduate yang stres karena biasanya dia butuh waktu dua minggu untuk menulis satu e-mail. Saya juga menemukan ada yang menulis email, dengan bahasa disingkat-singkat seperti chatting. Atau saya menemukan mereka yang menulis email surat lamaran, tanpa body text dan dikirimkan ke banyak perusahaan yang berbeda, tanpa bcc.

Hal yang lebih menyedihkan saya pernah menemukan, seorang dosen yang sudah lulus master, tidak paham EYD. Dia menulis di grup Facebook, dengan menggunakan huruf awal besar semua, seperti menulis judul.

Kedua, kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi lintas budaya. Ekonomi digital menuntut kerja tim yang lintas batas geografis, dan budaya karena diakomodasi oleh teknologi yang semakin canggih dan murah.

Jaman dahulu Anda bekerja di Jakarta, maka akan bekerja bersama tim yang orang Indonesia juga. Kerja berarti harus ada di ruangan yang sama, dan di waktu yang bersamaan. Teknologi memungkinkan kolaborasi dari berbagai lokasi, konsekuensinya akan semakin banyak kerja tim lintas negara, dan budaya.

Komunikasi antarbudaya bukan perkara gampang, komunikasi bisnis antarbudaya bisa sangat menantang, dan memicu konflik apabila Anda tidak mempunyai kepekaan tentang perbedaan budaya. Erin Meyer membuat buku yang sangat bagus tentang komunikasi antarbudaya, judulnya “Cultural Map”. Buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, apabila Anda ingin mengakuisisi kompetensi ini.

Ketiga, menggunakan beragam teknologi komunikasi sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan.

Teknologi komunikasi saat ini makin beragam, Anda bisa menggunakan teknologi berkirim pesan via teks, video, suara atau medium yang membantu Anda melakukan kolaborasi. Teknologi yang Anda harus kuasai misalnya, bagaimana membuat konten komunikasi yang menarik berbasis visual dan video.

Apakah Anda cukup familiar dengan Zoom, Google Doc, Basecamp, Canva, Snapseed???? Itu beberapa contoh teknologi yang populer digunakan untuk berkomunikasi dan berkolaborasi di ranah digital. Saya yakin masih banyak teknologi lainnya yang biasa digunakan, dan Anda tidak boleh gagap teknologi (gaptek).Sikap untuk selalu terbuka, mau belajar dan mencoba hal baru menjadi hal yang sangat penting.

Keempat, kemampuan menyampaikan pesan dengan efektif dan efisien, sehingga bisa memastikan diterima dengan baik, dan tidak terjadi miskomunikasi.

Saya sebelumnya sudah membahas ada begitu banyak teknologi digital yang bisa digunakan untuk membantu Anda dalam berkomunikasi, dan berkolaborasi. Anda harus punya kemampuan untuk memahami, medium apa yang paling cocok untuk menyampaikan pesan.

Misalnya apabila Anda sudah berbalas email, dan masih terjadi miskomunikasi, sebaiknya gunakan komunikasi via conference call sehingga tidak membuang waktu, dan menimbulkan konflik akibar miskomunikasi.

Atau sebaliknya setelah conference call dengan berbagai pihak di berbagai belahan dunia, kirim email kesimpulan dan kesepakatan yang sudah dihasilkan, beserta tenggat waktu, sehingga semua orang punya persepsi dan pemahaman yang sama.

Kelima, kemampuan menggunakan simbol dan etika tidak tertulis berkomunikasi di digital.

Anda perlu menyadari komunikasi di digital menghilangkan sampai dengan 70 persen pesan dari komunikasi, yaitu bahasa tubuh. Apalagi bila yang dikirim dalam bentuk pesan teks. Bahasa teks membuat penerima pesan, tidak bisa melihat gerak tubuh, ekspresi wajah dan intonasi suara.

Ini sering kali akan menyebabkan mispersepsi, dan miskomunikasi. Beberapa contoh yang sederhana bagaimana menggunakan emoticon yang tepat, untuk membantu mewakili bahasa tubuh kita. Lalu etika-etika yang tidak tertulis, misalnya menulis menggunakan huruf kapital semua atau berwarna merah dipersepsikan sebagai marah.

Baca Juga:Selain Merdeka dari Hoax, Apa Kompetensi Lain di Era Digital?

Ada lagi yang mau ditambahkan? Yuk ditunggu di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini