literacy

5 Konsep Dasar Literasi Media, Untuk Melihat Peluang dan Mitigasi Risiko Media Sosial

Beberapa waktu yang lalu saatakan membuat materi pelatihan terkait dengan media sosial, menemukan artikel yang sangat menarik, dan sangat relevan untuk membangun kesadaran kita bersama. Artikel ini terkait dengan 5 konsep dasar dan kunci tentang media, yang kemudian dianalogikan ke media sosial yang sedang tren saat ini. Artikelnya Anda bisa baca di sini.

Pertama, semua konten di media itu pesan yang dibentuk dan dikonstruksi, bukan 100% menggambarkan realitas

Anda mungkin tidak menyadari foto apapun yang diunggah di media sosial oleh diri kita sendiri, atau orang lain, adalah pesan yang sudah dibentuk, sesuai dengan keinginan dan harapan apa yang ingin disampaikan ke publik, bukan benar-benar menyampaikan realitas.

Kesadaran ini penting, pertama misalnya agar kita tidak terjebak pada bujuk rayuan rekomendasi, dan kedua paham bahwa kehidupan orang lain tentu saja tidak seindah yang ditampilkan di media sosial. Karena mereka yang mengunggah konten, sadar atau tidak sadar sudah memilih momen tertentu sesuai dengan apa yang ingin dipersepsikan orang lain tentang dirinya.

Jadi intinya, telan informasi di media sosial dengan berpikir kritis, dan penuh kesadaran bahwa ini bukan benar-benar realitas yang dipilih secara “telanjang” dan apa adanya.

Kedua, pesan di media sosial akan membentuk persepsi kita akan realitas entah itu isu, keadaan, produk atau pun jasa

Informasi yang muncul di timeline media sosial tanpa sadar akan membentuk persepsi kita akan realitas, dan bisa jadi tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Ini misalnya apabila Anda berteman dengan orang yang menyebar hoax, dan tiap hari itu yang akan muncul di lini masa Anda, maka tidak heran bila realitas versi Anda adalah realitas berdasarkan hoax.

Di sisi lain sebagai pemilik merek, Anda perlu menekankan konsistensi dan membangun merek dengan mengkomunikasikan produk sesuai dengan persepsi yang ingin dibangun. Misalnya saya ingin dikenal sebagai Fashionable Trainer dan Digital Expert, maka konten yang disajikan harus selalu konsisten dengan ini di media sosial. Konsistensilah yang akan membangun persepsi, bukan realitas yang sebenarnya. Ini perlu dicamkan dan diingat..

Ketiga, audiens yang berbeda akan mempersepsikan dan memahami dengan berbeda untuk konten yang sama, sesuai dengan latar belakang masing-masing.

Audiens akan mempersepsikan sebuah pesan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengetahuan, didikan keluarga, sudut pandang moral yang dianut, impian dan kecemasannya masing-masing. Oleh karena itu, pikirkan dengan seksama konten apa yang ingin diunggah. Jangan sampai konten ini akan membuat kita menyesal esok, atau bahkan 10 tahun lagi.

Karena konten yang sama bisa jadi bagi si penulis sesuatu yang biasa saja, tapi bagi orang lain sangat kontroversial. Kesadaran akan hal ini akan membuat kita lebih bijak mengunggah konten di media sosial yang sifatnya publik, bahkan privat.

Oleh karena itu bagi konten media sosial brand, saya sangat tidak menyarakan memasuki area Suku Ras Agama dan Antargolongan (SARA), dan juga isu kontekstual yang negatif. Mengapa? Akan sangat mudah konten ini mengalami mispersepsi, dan berujung kontroversi.

Keempat, pesan di media sosial punya dampak komersial walau Anda bukan influencer dengan jutaan follower, dan sering kali kita tidak menyadari

Konten media sosial yang kita unggah akan menginspirasi orang lain untuk mencoba atau membeli produk atau jasa yang sama, atau sebaliknya. Ini sebabnya diperlukan juga kejujuran kita, agar tidak menjerumuskan orang lain.

Di sisi lain, fitur media sosial yang gratis itu berarti penyedia layanan akan membuat profil mengenai diri kita, yang kemudian mentarget iklan berdasarkan profil tersebut. Di sisi lain, ini juga digunakan untuk membuat profil teman-teman kita di media sosial, dan tanpa mereka sadari mereka disuguhi iklan berdasarkan konstruksi ini, yang kadang tidak mereka sadari. Oleh karena itu, perlu kesadaran dan pemikiran bijak untuk produk dan jasa yang kita bagikan di media sosial.

Kelima, pesan yang kita unggah di media sosial memuat sudut pandang kita tentang sebuah isu, layanan atau produk yang sangat subyektif, dan menyensor apa yang kita tidak ingin publik tahu

Media konvensional secara eksplisit atau implisit menyatakan ideologi atau nilai-nilai yang dianggap benar versi mereka. Sehingga audiens bisa menilai dengan penuh kesadaran. Sayangnya hal ini tidak terjadi di media sosial yang sangat demokratis, dan semua orang bisa menjadi pembuat konten.

Kita tidak pernah mengunggah konten ketika sedih, galau. Netizen biasanya hanya mengunggah momen terbaik yang ingin orang lain tahu, bahwa dia bahagia, selalu jalan-jalan, berpesta, punya teman yang keren dll.Ini bisa jadi akan menyesatkan. Perubahan kanal media begitu cepat, sementara bagaimana audiens mengevaluasi media tidak beradaptasi secapat itu.

Baca Juga:Selain Merdeka dari Hoax, Apa Kompetensi Lain di Era Digital?

Apakah setuju dengan lima poin ini? Ditunggu di kolom komentar ya

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.