Image from The Telegraph UK

Strategi Website Untuk Industri Properti

Di edisi perdana saya sudah membahas tentang strategi digital di industri properti. Salah satu yang paling penting adalah website. Pertanyaan sering kali muncul adalah, apa yang harus diperhatikan atau dipertajam dari website yang kita punya. Jangan sampai membuat website hanya asal ada, konsep dan strateginya sama sekali tidak terpikirkan. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi panduan

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah, tujuannya apa? Apakah website korporat atau website sebuah proyek yang sedang dikembangkan? Ini penting nantinya untuk menentukan fitur apa saja yang akan ditampilkan di halaman depan atau sering disebut sebagai first screen. Halaman depan ini sangat terbatas, jadi tidak bisa semua informasi berdesakan di sini. Tujuan utama, dan yang jadi prioritaslah yang ada di halaman utama ini. Misalnya tujuan utamanya membangun kredibilitas sebagai perusahaan properti terpercaya dengan portofolio yang banyak, atau tujuan utamanya adalah penjualan proyek baru yang sedang dibangun. Kalau tujuan utama adalah untuk branding membangun kredibilitas, maka di halaman utama yang perlu dipajang adalah portofolio proyek yang jadi andalan, dan dikenal luas oleh masyarakat.

Kedua perlu diperhatikan, dan saat ini sudah menjadi standar adalah website yang mobile friendly. Mengapa? Karena perilaku konsumen saat ini lebih banyak yang mengakses informasi via mobile device.  Jadi optimasi di mobile sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pengunjung akan frustasi apabila websitenya tidak optimal di mobile, karena harus scroll ke kanan kiri, arau atas bawah. Anda bisa kehilangan bisnis, karena ini. Anda perlu menyadari, saat ini sebelum membeli properti konsumen mencari informasi sebanyak-banyaknya via internet.

Ketiga yang perlu diperhatikan adalah User Experience (UX). Sering kalo dalam membuat website, obsesinya adalah desain yang keren, super kreatif penuh dengan gambar yang bergerak karena dipersepsikan sangat menarik. Padahal ketika pengunjung melihat webnya, loading lama, menunya susah dipahami, mereka bingung mencari informasi yang dicari.

Seharusnya yang dilakukan adalah, memberikan pengalaman yang terbaik ke konsumen untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Dan yang dibutuhkan oleh konsumen bukan desain yang kreatif, tapi mudah dipahami dan dicerna. Kenyamanan dan kemudahan menemukan informasi, ini yang harus jadi patokan utama.

Misalnya, coba kita cek apakah website perusahaan kita cukup mudah untuk konsumen mencari informasi produk, harga, kontak yang bisa dihubungi untuk komunikasi lebih lanjut. Menu “search” juga penting, untuk mengakomodasi konsumen yang membutuhkan informasi khusus.

Keempat dari sisi konten website, perusahaan properti paling tidak harus menampilkan informasi yang dibutuhkan oleh konsumen. Misalnya proyek apa saja yang sudah dikerjakan? Spesifikasi proyek yang akan dijual, beserta kelebihannya. Dan yang juga tidak kalah penting adalah kontak yang bisa dihubungi, semakin banyak channel akan lebih baik misalnya telpon, e-mail, social media, dan formulir kontak.

Apabila tujuan utamanya adalah untuk penjualan, maka formulir kontak seharusnya ada di halaman depan, dan di berbagai halaman lainnya. Karena dari data inilah kita mendapatkan data mereka yang berniat untuk membeli produk kita. Karena logikanya konversi akan lebih besar ketika mereka hanya cukup meninggalkan data misalnya e-mail dan nomor telpon untuk difollow up, dibandingkan kita mengharapkan mereka akan menghubungi kita.

Note:

Tulisan ini telah terbit di Majalah PropertyBusiness Edisi 2 Mei 2016