digital-disruption

Industri Yang Paling Terancam Disrupsi Digital di Indonesia

Digital bukan hanya bicara tentang kanal baru memasarkan produk, tapi lebih jauh lagi, era digital membuat banyak industri terancam disrupsi digital. Kok bisa? Karena digital menghadirkan bisnis model baru yang belum pernah ada sebelumya, dan bisa membunuh pemimpin pasar sekalipun, apabila tidak diantisipasi dengan cepat. Kasus yang mungkin paling menggemparkan adalah gejolak Blue Bird, versus moda transportasi berbasis aplikasi. Lalu agen travel konvensional semacam Kaha Tour versus Online Travel Agent (OTA) semacam Traveloka, Nusa Trip dll.

Harvard Business Review (HBR) membuat artikel berdasarkan riset ke top eksekutif. Industri mana saja yang merasa paling terancam oleh disrupsi digital. Anda bisa membacanya di sini . Lalu apa saja industri yang sudah kena dampaknya di Indonesia, dan paling terasa? Berikut beberapa industri menurut pendapat saya:

Media

Di industri media, yang sudah menjadi korban pertama keganasan digital adalah media cetak. Mungkin Anda sudah sering mendengar beberapa media cetak di Indonesia yang berhenti. Padahal mereka berasal dari grup media ternama, dan brand yang sangat terkenal.

Media ini sudah digantikan dengan kehadiran portal berita di digital, dan jangan lupa pesaing tidak langsung dari media cetak ini selain portal berita adalah blogger, vlogger, dan social media.

Ritel

Industri ritel juga mengalami ancaman yang besar, terutama sangat terasa sejak 2015, karena ecommerce makin banyak bermunculan, jadi makin banyak konsumen yang diedukasi berbelanja online. Pertumbuhan transaksi online juga semakin pesat. Industri ritel juga sudah melakukan berbagai strategi untuk bertahan, dan relevan dengan perubahan.

Strategi yang dilakukan misalnya di ritel fashion, mereka melakukan perombakan yang dijual bukan cuma baju tapi pengalaman berbelanja. Di kategori minimarket evolusinya adalah, mereka bukan hanya tempat berbelanja barang, tapi menjadi tempat pembayaran dari berbagai macam kebutuhan misal listrik, ecommerce dll. Mereka memanfaatkan peluang, sistem pembayaran di Indonesia yang masih belum mapan. Penetrasi kartu kredit yang sangat kecil, dan transaksi e-money yang juga masih kecil.

Transportasi

Industri transportasi ini juga langsung diguncang hebat setelah taksi konvensional dikeroyok dengan tiga pemain besar sekaligus yaitu Uber, Grab dan Go-Jek. Konsumen dengan cepat berpindah ke layanan transportasi berbasis aplikasi, sehingga sempat terjadi gonjang-ganjing dan demo besar-besaran pada bulan Maret lalu di Jakarta. Dan hal ini bukan hanya terjadi di Jakarta, di beberapa kota besar di dunia pun mengalami goncangan. Karena mereka tidak bisa menerima perubahan, yang mengusik industri transportasi yang sudah mapan selama puluhan tahun.

Perjalanan & Wisata

Diam-diam industri ini tergerogoti oleh pemain digital. Perkembangan social media dan digital membuat kue makin besar, karena orang jadi kepincut jalan-jalan setelah melihat tebaran foto di social media.  Di sisi lain, disrupsi digital mengintai pemimpin pasar yang sudah mapan untuk digeser. Misalnya di agen penjualan tiket, mulai tergeser oleh Online Travel Agent (OTA). Lebih seru lagi Sky Scanner bekerjasama dengan FB Messenger Bot, bisa membuat pemesanan tiket jadi lebih personal. Industri perhotelan juga diam-diam digerogoti kehadiran Air B&B.

Mereka yang ada diindustri ini harus segera berbenah, pemikiran tentang digital bukan hanya masalah komunikasi pemasaran melalui kanal ini. Tapi waspadalah kelangsungan perusahaan bisa musnah karena disrupsi digital, yang serangannya bisa sangat tiba-tiba lalu merenggut hampir semuanya kalau tidak diantisipasi, dan melakukan inovasi.

Adakah industri lain yang belum masuk? Setuju dengan pendapat ini? Yuk ditunggu di kolom komen ya…

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini