IMG_0449

3 Dampak Digital ke Industri Travel

Industri travel saat ini sedang booming, social media memang pengaruhnya sangat besar, membuat orang-orang punya obsesi baru jalan-jalan, dan foto foto di tempat keren . Foto teman di social media memberikan pengaruh yang besar pada jumlah traveller terutama konsumen Indonesia yang sangat gemar social media, dan sangat bergantung pada pengakuan dari orang lain. Lalu apa saja hal yang berubah di industri ini akibat hadirnya digital? Selain tentunya booming turis di mana-mana?

Zero Moment of Truth (ZMOT)

ZMOT sangat mempengaruhi industri ini. Review-review di blog, situs jalan-jalan, rating di berbagai portal menjadi sangat penting bagi pelancong dari seluruh dunia. Pelancong mencari informasi jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, browsing di internet untuk menentukan destinasi wisata, mencari hotel, spot spot yang akan dikunjungi, makanan lokal yang akan dicoba, suvenir yang akan dibeli, atraksi wisata dll.

Jadi jangan heran bila Trip Advisor saat ini menjadi standar di industri, bila tidak eksis di sana atau reviewnya jelek di sini maka ini pertanda buruk. Karena ini adalah sumber utama bagi pelancong dari seluruh dunia. Ketika saya ke Taman Nasional Tanjung Puting, Tour Guidenya, pemilik Orang Utan Voyage menyadari betul pentingnya review Trip Advisor terhadap penjualan yang dihasilkan. Oleh karena itu beliau sangat menjaga, dan memantau review yang ada di sana.

Anda mesti sangat hati-hati, jangan hanya sibuk berpromosi tapi tidak pernah memperhatikan review konsumen yang ada di berbagai website tentang produk atau layanan yang dimiliki. Karena konsumen sangat memperhatikan berbagai review ini. Misalnya saya hanya akan memilih hotel di Traveloka, dengan rating di atas 7,5 dan sangat memperhatikan komentar-komentar dari para pengguna sebelumnya.

Online Booking & Transaction

Generasi milenial bukan hanya memanfaatkan internet untuk mencari informasi sebelum travelling. Tapi mereka sudah terbiasa memesan tiket pesawat, hotel, kereta api bahkan tiket masuk berbagai atraksi wisata via online. Karena pembelian di online dipersepsikan lebih praktis, murah dan tak perlu antri, atau takut kehabisan.

Saya pernah bertemu dengan beberapa pengusaha penjual tiket pesawat, mereka  menyebut pasarnya sudah turun 60% digerus Online Travel Agent (OTA). Saya bertemu dengan tim marketing hotel di Anyer dan Bali, mereka bilang bahwa pemesanan via online pun saat ini jumlahnya sudah sangat signifikan.

Subtitute Products / Services

Ini yang mungkin paling tidak disadari atau diantisipasi para peian industri travel. Hotel-hotel mulai gerah, karena adanya Air BnB, di Bali permintaan hotel sudah turun sampai 35% berdasarkan laporan dari Daily Social. Uber dan Go-Jek mulai menggantikan rental mobil dan motor sebagai alat transportasi para pelancong. Tour Agent semacam KAHA Tour yang sangat besar, sekarang dilindas oleh popularitas Traveloka.

Travel agent yang menawarkan paket tur juga mulai digerogoti oleh paket tour online atau individu yang menjadi tour planner. Sky Scanner pun punya fitur baru FB Bot yang menggantikan fungsi travel agent, karena bisa memberikan rekomendasi rute perjalanan.

Jadi agar tetap relevan, Anda harus masuk ke digital pertama untuk berinteraksi dan merespon, kedua membuat bisnis Anda ramah ke generasi milenial dengan misalnya bisa pesan via online dll. Dan strategi lain,  Anda memberikan nilai tambah yang tidak bisa dilakukan oleh produk substitusi. Apabila produk atau layanan Anda digerogoti pasarnya karena kehadiran digital. Kunci utamanya di era digital saat ini adalah kemampuan beradaptasi dan berinovasi dengan cepat.

Apakah Anda sudah siap dengan gelombang digital ini?

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini