pokemon

Apa Saja Peluang Brand Memanfaatkan Tren Pokemon Go?

Permainan Pokemon Go dari Niantic, yang bahkan belum rilis resmi di Indonesia sudah menimbulkan kehebohan yang luar biasa. Game ini bukan hanya membuat sebuah tren yang menghebohkan, tapi benar-benar mewujudkan integrasi dari online ke offline. Dan bisa dimanfaatkan oleh brand, bukan hanya untuk engagement, tapi juga  bisa menghasilkan penjualan. Mengapa? Karena pemainnya dipaksa untuk berpindah tempat, dan bergerak demi berburu dan menangkap monster-monster.

Walaupun sebenarnya Pokemon Go bukan game pertama Niantic dengan tipe yang sama, sebelumnya ada Ingress. Faktor lain yang membuat ini heboh, karena Pokemon yang sudah legendaris, dan strategi pemasarannya yang disiapkan jauh hari. Video teaser Pokemon Go sudah hadir sejak September 2015, dan dibuat sangat menarik bikin audiens penasaran.

(updated berdasarkan masukan dan komen di FB)

Beberapa hal dasar yang perlu dipahami, permainan ini memanfaatkan Augmented Reality (AR). Pemahaman sederhana dari AR adalah kita bisa melihat, kalau memanfaatkan medium tertentu, kalau kasat mata tidak ada apa apa. Dalam kasus Pokemon Go, mediumnya adalah kamera belakang handphone.

Baca juga: Apa Itu WWW.HM di Buku “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Konsep lain yang harus dipahami dari Pokemon Go untuk pemilik brand, yang bisa digunakan pemasar adalah lure. Ini adalah cara paling gampang untuk menarik monster-monster datang ke Pokestop. Jadi para pemainnya tidak perlu berjalan jauh, buat berburu. Anda bisa membeli lure di aplikasinya. Lure yang dibeli, akan mampu menarik monster Pokemon selama setengah jam, dan lure seringkali menarik monster-monster langka.

Lalu peluang apa saja yang bisa dimanfaatkan?

Awareness & Trial Brand Stage

Kalau produk Anda masih dalam tahap mengenalkan, dan membuat orang mau mencoba produk Anda. Ini akan menjadi cara yang murah untuk menyumpukan massa. Anda cukup bermodal beberapa lure, maka para penggemar Pokemon akan dengan senang hati berdatangan. Di sana Anda bisa mengenalkan produk, dan memberi kesempatan mereka untuk mencoba produk Anda. Misalnya Anda jualan makanan, minuman atau layanan semacam pijat? Pasti para pemain akan menyambutnya dengan senang hati.

Engagement Stage

Apabila produk Anda tidak bisa dicoba dengan gratis karena misalnya ini bukan produk yang murah. Misalnya jualan gadget, kan tidak mungkin kasih produk gratis. Maka sebenarnya Anda bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun interaksi dengan konsumen Anda. Ingat kadang Anda harus membangun relevansi dengan audiens.

Bukan hanya manusia yang harus kekinian, tapi brand juga harus kekinian. Mengapa? Walaupun tidak langsung meningkatkan penjualan, tapi konsumen terkadang membeli produk yang dipersepsikan “gue banget” mewakili kepribadiannya.

Ini bisa dilakukan misalnya dengan update konten terkait tips main Pokemon, update info di mana lokasi lokasi monster langka di social media. Atau minta audiens untuk berbagi koleksi monster, pengalaman berburu, atau levelnya berapa. Cerita terbaik akan mendapat hadiah. Ini sudah membangun interaksi, dan membuat konsumen merasa brand Anda juga kekinian.

Sales Stage

Kalau produk atau jasa yang dijual terkait lokasi sudah pasti ngga perlu dipertanyakan lagi. Anda hanya perlu bermodalkan lure, tanpa perlu banyak promosi diskon maka orang akan datang ke sana. Berdasarkan hitungan tim Upnormals Pingfans kemarin, dalam sebuah diskusi tentang Pokemon Go. Dengan modal Lure seharga 150 ribu rupiah Anda sudah bisa mengumpulkan massa selama 8 jam.

Bagaimana kalau bukan ritel atau yang bikin event? Anda misalnya jualan minuman? Atau snack? Mengapa tidak memanfaatkan lure di tempat tempat publik, di mana Anda punya titik titik penjualan. Ketika para pemain ini bergerak pasti kan haus dan lapar butuh makan dan minuman. Jadi ini akan berdampak langsung ke penjualan.

Ada ide lain? Atau yang mau ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini