Multiethnic Group of People Planning Ideas

3 Start Up Digital Yang Paling Paham Keunikan Pasar Indonesia

Start Up digital menjadi fenomena yang sedang trendi dan heboh saat ini. Impian para mahasiswa, fresh graduate, dan bahkan para pebisnis adalah bikin start up digital, karena peluang yang besar, dan imbalan yang menjanjikan. Tapi perlu diingat menurut saya untuk mengembangkan start up digital yang mumpuni, harus dilandasi dengan konsep yang kuat, dan pemahaman akan persoalan lokal yang ingin diselesaikan.

Kalau bikin start up hanya mengekor apa yang lagi populer di negara lain, atau asal yang penting beda. Maka kesuksesannya bisa jadi akan dipertanyakan, terutama untuk jangka panjang. Mengapa? Misalnya kalau bikin produk me too dari produk yang lagi tren di Silicon Valley, maka hanya persoalan waktu maka akan dilibas, dan tergilas. Kecuali memang tujuan akhirnya adalah, untuk dijual ke perusahaan raksasa sejenis. Ini lain cerita.

Berikut beberapa start up digital yang masuk dalam radar saya, sebagai perusahaan yang sangat paham keunikan pasar Indonesia. Hal-hal ini tidak terbayangkan oleh mereka yang tidak paham pasar Indonesia. Karena ini konteksnya sangat Indonesia.

Kudo; Ecommerce online to offline

Screenshot (585)

Konsep Kudo sangat menarik, dan berbeda dengan e-commerce yang ada di Indonesia lainnya. Jauh dari riuh kebisingan berita tentang sensasi e-commerce di Indonesia. Kudo menawarkan konsep bisnis yang Indonesia banget. Apa itu? Yaitu e-commerce yang menghubungkan online ke offline. Cara kerjanya Kudo melakukan crowd sourcing agen penjualan, untuk menjangkau segmen terbesar konsumen Indonesia yaitu kelas menengah bawah, pertama mereka mungkin gaptek. Kedua, belum memiliki akses ke perbankan.

Para agen tidak perlu stok barang, tinggal menunjukkan barangnya via aplikasi mobile. Para pembeli bisa beli dengan membayar tunai ke si agen, lalu barang akan dikirim. Ini konsep yang sangat menarik, dan memang cocok dengan pasar Indonesia. Berdasarkan data 2015, jumlah penduduk yang punya rekening bank baru 19% dari total jumlah penduduk. Ini berarti sisanya kan tidak bisa akses ke e-commerce. Karena paling populer kan saat ini adalah transfer. Tapi kan ada Cash On Delivery (COD) atau mini market. Benar sekali dua metode ini memang bisa bayar tunai, tapi cakupannya sangat kecil. COD hanya menjangkau terutama Jabodetabek, dan mini market terkonsentrasi di kota-kota terutama di pulau Jawa.

Baca Juga: Mengapa Fintech akan Jadi Tren Berikutnya di Indonesia

Sale Stock: Belanja E-commerce Rasa Instagram

Screenshot (586)

Sale Stock juga jauh dari hingar bingar pemberitaan tentang start up, tapi menurut saya mereka punya konsep yang sangat unik, dan kontekstual dengan konsumen Indonesia. Coba cek tampilan websitenya, sangat sederhana, keluar dari pakem desain web e-commerce. Tampilannya lebih mirip desain instagram. Mereka sudah jelas, menyasar perempuan yang hobi belanja di social media, terutama Instagram.

Anda mungkin tidak sadar bahwa belanja di social media seperti di Facebook atau Instagram itu mungkin hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara lain terutama di Amerika dan Eropa, social media ya untuk berinteraksi bukan untuk berbelanja. Celah inilah yang diambil oleh Sale Stock. Bahasa yang mereka gunakan juga sangat mudah dipahami oleh ibu-ibu, dan ada chat box yang sangat chatty dan hangat siap menyambut. Benar-benar seperti mereka sedang belanja di Facebook.

Saya pernah punya pengalaman menarik ketika home visit research, penasaran kenapa ibu-ibu suka belanja di social media? Ternyata jawabannya mencerahkan, dan logis. Mereka lebih suka belanja di social media karena bisa ngobrol dulu, diskusi nanya ini itu. Mereka tidak sensitif soal harga, bukan pencari harga termurah, tapi lebih memilih bertransaksi dengan mereka yang nyaman di hati.

Sale Stock membawa pengalaman belanja di social media itu, ke webnya. Kalau Anda penasaran, dan belum pernah coba sila dicek dan dicoba.

KitaBisa.com; Crowd Funding Sosial

Screenshot (587)

Ini juga start up digital yang menarik, mereka terinspirasi dengan konsep Crowd Funding dari luar negeri. Lalu disesuaikan dengan karakter di Indonesia, membuat crowd funding untuk penggalangan dana sosial, baik itu membantu individu atau lembaga. Dan berikutnya mereka juga memperluas donasi yang diberikan ke Zakat, dan birthday fundraising.

Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, perusahaan sosial ini pun tumbuh pesat. Mereka sudah mengumpulkan lebih dari 117 ribu donatur, dan lebih dari 5000 orang ber-zakat. Padahal layanan Zakat online ini masih sangat baru, layanan ini baru beberapa bulan diluncurkan. Pilihan membuat market place zakat online ini sangat cerdas karena pasarnya sangat besar, dan konsumennya akan reguler berzakat tiap bulan, dan bagian dari aturan wajib agama.

Baca Juga: Beberapa Pelajaran Penting Digital Strategy untuk Non Profit dari KitaBisa.com

Bagaimana menurut Anda? Apalagi start up digital di Indonesia yang menarik, dan idenya sangat kontekstual dengan kondisi konsumen di Indonesia?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini