digital music

Revolusi Industri Musik Akibat Transformasi Digital

Industri musik adalah salah satu contoh nyata bahwa transformasi digital bergerak sangat cepat, dan mengubah keseluruhan wajah industri. Para pelaku industri musik, beberapa berteriak terkait pembajakan lagu,karena inisumber pendapatan mereka. Di sisi lain kita melihat banyak sekali ritel yang menjual musik fisik yang berguguran, paling tragis pasti tutupnya Aquarius Mahakam, sebagai ikon kejayaan penjualan musik berbentuk fisik dari era kaset hingga Compact Disk (CD).

Baca Juga: Transformasi Digital

Semua ini terjadi karena badai digitalisasi di berbagai bidang, dan industri musik tak bisa terhindarkan, terkena dampak yang dahsyat dari transformasi digital. Perubahan apa saja yang terjadi di industri musik saat ini?

Konsumen tidak lagi membeli musik, karena bagi milenial musik itu GRATIS

Bagi mereka yang berkecimpung di industri musik dan berpikiran konvensional pasti akan protes. Lalu bagaimana kami akan hidup? Dari mana musisi bisa menghasilkan uang, sehingga bisa melanjutkan berkarya? Kalau konsumen tidak mau membayar untuk membeli musik?

Milenial memang tidak pernah menganggap mengunduh music sebagai pembajakan, dan music seharusnya gratis. Ini saya kutip dari buku Grown Up Digital karya Don Tapscott. Lalu bagaimana artis mendapatkan uang? Bagi milenial mereka tidak mau membeli music, tapi bila menyukai band atau artis tertentu maka mereka mau membeli merchandise, tiket konser dll yang dijual oleh artis tersebut. Ini yang sudah diterapkan oleh artis-artis Korea dan JKT 48.

Artis Korea sengaja membiarkan musiknya diunduh, dan videonya ditaruh di Youtube. Lalu mereka membangun komunitas fans yang loyal, sehingga mau membeli aneka macam merchandise yang bisa dikoleksi, dan membuat tur konser yang selalu habis terjual.

Konsumen lebih suka streaming musik dibanding mengunduh

Era digital juga membuat perubahan yang sangat cepat, bagaimana konsumen menikmati musik, seiring dengan koneksi internet yang semakin kencang. Saat ini konsumen tidak lagi mengunduh lagu, tapi mereka lebih memilih streaming musik. Itu sebabnya aplikasi musik semacam Deezer, Spotify dll menjadi sangat popular.

Baca Juga: Apa Arti Hadirnya Spotify di Industri Musik Indonesia

Konsumen tidak perlu menyimpan music di handphone atau laptop mereka bisa mendengarkan musik melalui streaming sesuai dengan mood mereka saat itu, memilih dari jutaan lagu dan play list yang disediakan oleh aplikasi musik.

Screenshot (604)

 

Selera Musik Yang Anti Mainstream, Memungkinkan Tumbuhnya Selera Musik Niche

Kajian ini sebenarnya telah lama diprediksi di buku Long Tail karya Chris Anderson. Ketika hadirnya digital menyebabkan semua musik bisa tersedia di internet. Sesuatu yang mustahil di era sebelum adanya internet, karena keterbatasan tempat. Logikanya ketika tempat terbatas maka hanya yang populer saja yang bisa dipajang, dan dijual. Sementara di internet biaya itu menjadi sangat murah, dan semua bisa dipajang. Karena seberapa pun niche musiknya, aka nada penggemarnya. Ujungnya ini membawa perilaku milenial yang punya lebih banyak pilihan, dalam mendengarkan musik. Keadaan ini membuat milenial merasa lebih keren untuk ngefans dengan music-musik yang anti mainstream.

Banyak musisi yang sangat populer, walaupun musiknya tidak ngepop dan bukan diusung oleh label besar. Mereka punya banyak penggemar, dan bahkan setiap konsernya selalu penuh. Sebagai contoh di Indonesia musisi jenis ini adalah Barasuara dan Payung Teduh.

Demokratisasi Musisi Tak Lagi Bergantung Pada Selera Label Besar

Screenshot (605)

Dulu musisi sangat bergantung pada label besar seperti Aquarius dan Sony BMG untuk rekaman dan merilis lagu. Pertama karena biayanya sangat mahal, kedua butuh dana yang sangat besar untuk melakukan distribusi serta promosi sebuah lagu.

Saat ini karena teknologi digital semua menjadi lebih mudah dan murah, mulai dari proses rekaman, distribusi lagu hingga promosi bisa dilakukan dengan biaya sangat murah, dan bisa dilakukan sendiri.

Misalnya untuk mendistribusikan lagu di digital misalnya ke iTunes, Google Music, Spotify, Deezer dll mereka hanya perlu berhubungan ke satu agency music yang khusus dibidang ini seperti Tunecore. Biaya mendistribusikan musik di Tunecore juga terbilang sangat murah 10 dollar selama satu tahun. Mereka nanti akan mengelola sampai dengan royalty dari lagunya.

Promosi lagunya mereka bisa menggunakan social media seperti Facebook, Youtube, Instagram atau social media khusus untuk musik seperti soundcloud.

Ada yang mau ditambahkan? Atau ada yang mau berbagi pengalaman? Mari kita diskusi

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini