awkarin-7

Tantangan “Selebritis” Online & Tips Mengelolanya

Artis Instagram, Twitter atau Youtube isaat ini jadi impian Generasi Milenial. Sangat wajar, selain terkenal, bergelimangan fans, duit juga mengalir deras. Barusan tadi bertemu dengan salah satu founder start up yang banyak kerja bareng dengan Youtuber. Ada lho Youtubers penghasilannya dari Youtube Ads saja 5000 US Dollar, atau sekitar 65 juta rupiah per bulan!!!

Siapa yang ngga tergiur kalau Anda baru berumur 16 tahun sudah sebanyak itu penghasilannya. Belum lagi penghasilan dari diendorse oleh brand, diundang jadi pembicara di event, temu fans yang berbayar, lalu kiriman hadiah dari para fans.

Baca Juga: Twitter Buzzer & Social Media Strategy

Tapi dibalik semua kilauan dan sinaran itu, ada beberapa tantangan yang menurut saya, sangat layak dipikirkan oleh mereka yang sudah terjun di sana, orang tuanya, atau mereka yang bermimpi menjadi selebriti digital.

Life cycle yang pendek, dan pentingnya inovasi secara konsisten dari segi kanal dan konten

Selebriti digital itu sama saja sebenarnya seperti artis televisi, mereka sangat cepat menjulang tapi juga dengan mudah tenggelam. Bahkan menurut saya, siklus di digital lebih pendek. Mengapa? Kanal tempat audiens berkerumun terus berubah, coba lihat saja dari blog, lalu Facebook, Twitter, Youtube, Instagram dll. Ketika seseorang terkenal di Twitter, belum tentu akan menjadi selebritis di Instagram, sementara semua audiens sudah hijrah ke sana.

Kedua konsumen milenial ini sangat mudah bosan, dan sangat menyukai eksplorasi mencari hal-hal yang baru. Kalau yang ditawarkan hanya itu-itu saja, tidak ada kejutan baru maka bisa dipastikan akan segera ditinggalkan.

Bayangkan apakah 10 tahun lagi, karya Anda masih relevan dengan pasar? Bagaimana agar tetap disukai? Bagaimana fans tidak melupakan? Ini pertanyaan paling besar yang harus dipikirkan.

Selebritis Online Tidak Scalable, Maka Harus Memikirkan Bisnis atau Pemasukan Lain Sebagai Cadangan

Menjadi selebritis online memang banyak duit, tapi pertanyaannya semua sangat berpusat pada dirinya. Ketika dia sakit, liburan atau tidak bekerja, maka dia tidak akan menghasilkan apa-apa. Produknya juga tidak bisa diduplikasi menjadi bersifat massal, dan menghasilkan uang yang lebih banyak.

Oleh karena itu mumpung ketika tenar dan banyak uang, harus mulai memikirkan bisnis atau sumber pendapatan lain yang bisa dijadikan sandaran saat misalnya tidak tenar lagi, atau saat istirahat dan liburan dll. Bisnis yang bisa berjalan tanpa sosoknya harus hadir, bisa berjalan karena sebuah sistem, dan bisa diperluas dan menghasilkan uang yang lebih banyak. Karena sebenarnya ketika dia menjadi selebriti online, maka dia menjadi pengusaha, yang dijual apa? Ya personal brand dia, dan juga kreatifitasnya.

Barrier to Entry Sangat Rendah, Sehingga Rentan Tergeser yang Lebih Muda dan Idenya Lebih Segar

Semua orang bisa dengan mudah terkenal di social media, itu terlihat menyenangkan dan mimpi yang jadi kenyataan. Tapi di sisi lain, ini juga berita buruk. Karena setiap hari akan ada ribuan bahkan jutaan orang lain yang bermimpi dan memulai karirnya sebagai selebriti online. Dan untuk memulainya sangat gampang, tidak perlu banyak modal finansial, atau keahlian khusus.

Ini sebabnya kalau dilihat selebritis online yang bertahan beberapa tahun, dan masih diakui ya sangat terbatas. Mereka biasanya adalah sosok yang visioner, dan cepat beradaptasi. Beberapa yang saya lihat konsisten bersinar dan beradaptasi adalah Benakribo, Raditya Dika, Amrazing, Trinity.

Monetisasi Fans, Ini Bisa Dilakukan Dalam Berbagai Hal Bukan Sekedar Bergantung Endorsement atau Iklan

Aset utama yang perlu disadari para selebriti digital selain kontennya yang menarik, tentunya adalah fans. Mereka ini sebenarnya bisa diolah untuk menghasilkan uang yang lebih banyak. Selama ini yang saya lihat, yang dilakukan hanya sebatas menggantungkan pada penghasilan iklan, endorsement, lalu meet up berbayar.

Banyak sekali strategi monetisasi yang harusnya mungkin dilakukan, kuncinya adalah satu. Audiens Anda yang notabene sesama milenial sangat haus dengan namanya “experience”. Mereka akan membeli produk apapun yang dibuat. Merchandise bisa menjadi pilihan untuk monetisasi ini, atau berikutnya untuk meningkatkan scalability seperti yang sudah dibahas diatas, membuat lini produknya sendiri.

Beberapa selebriti online mulai menyadari ini, dengan membuat labelnya sendiri misalnya Lizzie Parra yang membuat brand lipstick, lalu Diana Rikasari yang membuat brand fashion. Benakribo membuat komunitas Indovidgram, yang kemudian juga dimonetisasi dengan menjadi agency bagi talent-talent berbakat baru di industri.

Apa kira-kira tantangan lain yang mungkin saya tidak melihat? Yuk mari berbagi pengalaman ya, ditunggu di kolom komen.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini