social-media-listening

Apa Yang Bisa Dilakukan Dari Social Media Listening Tools?

Saat ini mungkin banyak sekali brand yang menggunakan social media listening tools. Apakah ini? Yaitu alat yang digunakan untuk memonitor perbincangan di  media sosial. Biasanya kata kunci yang di monitor terkait merek yang dikelola, kompetitor atau kata kunci terkait dengan industrinya.

Namun sayangnya pake social media listening tools yang harganyamahal, tapi yang dilakukan hanya sekedar mengukur berapa banyak sentimen positif, netral dan negatif. Ini memang juga penting, tapi sayang kalau data yang dimiliki, hanya digunakan mengukur itu, yang ujungnya hanya mengantisipasi isu, dan mencegah krisis di media sosial meluas dan berdampak lebih merusak.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan di social media listening tools? Berdasarkan riset Econsultancy tahun 2012. Berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan, agar data yang diperoleh lebih bermakna, dan Return on Investmentnya (ROI) lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Competitive Intellegence, Mengintip Persepsi Konsumen Terhadap Pesaing & Efektivitas Strategi Mereka

Social media listening tools sangat bermanfaat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kompetitor. Bagaimana persepsi produknya di pasar? Apakah konsumen puas dengan produknya? Bagaimana strategi pemasaran mereka? Apa kelebihan mereka? Apa kekurangan produk mereka? Hal ini sangat penting untuk  mengidentifikasi apa yang harus kita respon, melihat apa yang terjadi.

Market Reaction, Melihat Bagaimana Persepsi dan Penerimaan Pasar atas Produk Kita

Ketika Anda menggunakan alat ini, kita bisa melihat bagaimana respon pasar terhadap produk kita. Apakah mereka puas? Apakah harga jual sesuai dengan kantong mereka? Apakah konsumen mudah mendapatkan produk kita? Apakah ada keluhan mengenai produk kita? Kita akan mendapatkan banyak masukan terkait produk. Tentu saja datanya tidak terstruktur, tapi setelah beberapa bulan Anda pastinya akan menemukan pola. Bagaimana secara umum persepsi tentang produk kita di pasaran. Lalu kita bisa menentukan langkah apa yang akan diambil untuk menyikapi itu.

Product Development Support, Menemukan Apa yang Konsumen Harapkan yang Belum Tersedia Saat Ini

Ini hal yang juga menarik dan bisa digali dari social media listening tools. Misalnya saya pernah mendengar cerita terciptanya mesin pembuat kopi Dolce Gusto, karena Nestle melihat banyak yang mengupdate di social media konsumen yang menginginkan mesin pembuat kopi yang sederhana buat sehari-hari di rumah mereka.

Beberapa hari yang lalu bertemu dengan tim Gatsby, mereka bercerita ide awal membuat Gatsby Pomade karena melihat banyaknya pencarian konsumen di Indonesia mencari pomade Gatsby. Akhirnya mereka mengusulkan ke prinsipal di Jepang untuk membuat pomade khusus untuk pasar Indonesia, dan akhirnya berhasil. Dan ternyata produk ini laris manis di pasaran.

Great Customer Service, Karena Tak Semua Keluhan Konsumen ke Kanal Resmi Brand

Satu lagi manfaat alat ini adalah bisa mendeteksi keluhan konsumen yang mungkin hanya menggerutu di social media, tapi tidak mention atau kontak di akun resmi social media brand. Bisa jadi karena mereka malas, atau tidak tahu. Tapi brand yang menggunakan alat ini pastinya akan bisa memonitor setiap keluhan itu, lalu segera merespon dan memberikan solusi.

Tentunya solusi yang datang tia-tiba ini akan membuat konsumen terkejut, dan merasa tersanjung. Ini akan mengubah konsumen yang tidak puas, menjadi promotor brand kita yang akan merekomendasikan ke mana-mana karena mengalami wow moment.

Feedback System from Offline Marketing Performance, Semua Kegiatan Marketing Akan Terlihat Reaksinya di Online

Apa pun kegiatan aktivasi pemasaran yang dilakukan misalnya billboard, iklan di tv, event dll akan bisa dilihat dan dievaluasi secara langsung di online. Mengapa? Konsumen biasanya akan membicarakan aktivasi itu di social media. Kita bisa melihat apakah mereka merespon positif atau negatif. Apakah iklan itu akan menarik mereka untuk mencoba produk kita atau tidak? Apakah brand ambassador yang kita pakai menginspirasi audiens untuk mencoba dan membeli? Dan banyak hal lainnya yang bisa digali dari sana.

Ketika saya mengelola dan memonitor brand sampo dan kosmetik, saya bisa melihat sendiri bagaimana brand ambassador sangat berpengaruh ke pembelian. Konsumen mengomentari tvc, billboard dll, lalu membeli produknya dan update di social media. Ada juga brand ambassador yang dikritik, dianggap tidak aspiratif bagi audiensnya. Iklan yang justru jadi bahan ejekan dll. Hal-hal semacam ini akan menjadi bahan masukan yang sangat baik untuk langkah berikutnya.

Ada yang berpengalaman mengelola social media listening tools? Ada yang mau ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini