Social-Media-privacy-and-security-risks_header

4 Potensi Risiko yang Mengakibatkan Krisis di Media Sosial

Sering kali kita melihat brand yang tersungkur dalam krisis di media sosial. Penyebabnya sangat beragam, dan cara penanganan dari masing-masing brand juga berbeda.Ketika memasuki era digital, potensi krisis menjadi lebih besar, terutama karena hadirnya media sosial. Semua orang bisa berbicara, semua orang punya media. Lalu apa saja  potensi risiko krisis di media sosial? Berikut beberapa hal yang harus dipahami dan diantisipasi, oleh pemilik dan pengelola brand

Rusaknya Reputasi Brand Akibat Isu Negatif dan Keluhan yang Tidak Ditangani dengan Baik

Ini adalah kasus yang sering kali terjadi. Konsumen yang melontarkan keluhan, dan tidak ditangani dengan serius atau ditangani tapi terlambat, menyebabkan isunya menyebar luas, dan ujungnya merusak reputasi brand dalam sekejap. Padahal untuk membangun reputasi, brand sudah menginvestasikan waktu dan uang yang tidak sedikit.

Misalnya keriuhan terbaru adalah isu produk J.CO dianggap tidak halal, dan menyebar dengan luas. Untungnya melalui penelusuran di internet, mereka sudah menanggapi dengan cepat persoalan ini. Karena soal halal dan tidak halal adalah hal yang sangat krusial bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Saya juga pernah menulis sekitar 4 tahun lalu, krisis di social media yang terjadi pada maskapai Mandala Airlines akibat keluhan yang dibiarkan begitu saja. Anda bisa membacanya di link ini.

Baca Juga:  Apa Yang Bisa Dilakukan Dari Social Media Listening Tools?

Membocorkan Informasi Rahasia

Ini sering kali justru dilakukan oleh karyawan perusahaan atau pemangku kepentingan lain yang terkait misalnya vendor, partner dll, baik itu disengaja atau pun tidak disengaja. Dan saya menduga banyak kejadian bocornya informasi justru dengan tidak sengaja.

Misalnya saja, karyawan melakukan live video di Facebook dalam sebuah meeting yang membahas hal yang sangat sensitif. Atau karyawan menceritakan di media sosial produk baru yang sedang dikembangkan, padahal produk itu belum resmi muncul di pasaran.

Melanggar Hukum, Aturan dan Kepatuhan

Ini bisa terjadi misalnya dengan sengaja mencuri data perusahaan lalu menyebarkannya melalui media sosial. Saya dulu pernah mendengar sebuah perusahaan besar, rencana bisnisnya bocor dan menyebar di internet. Sejak itu mereka memperketat siapa saja yang boleh akses ke lantai atas gedung perkantoran, dan pastinya mereka akan memperketat penyimpanan dan siapa yang berhak mengakses data, terutama data yang bersifat sangat rahasia.

Pencurian Identitas Media Sosial Brand Oleh Pihak Ketiga

Kasus ini artinya mereka mengambil alih akun media sosial dari pemilik resminya. Hal ini sering terjadi biasanya ke brand-brand ternama, terutama personal brand. Tujuannya bisa sangat beragam, sekedar iseng-iseng, mau menjatuhkan reputasi dengan mengunggah hal-hal yang kontroversial. Atau motifnya adalah uang dengan meminta uang tebusan, atau melakukan penipuan menggunakan akun yang sudah dicuri.

Baca Juga:  Online Crisis: Bagaimana Menghadapinya?

Bagaimana menurut Anda? Ada yang mau ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini