marketing-plan

6 Curhat Para Pengelola Brand Terkait Digital Marketing

Tanpa terasa saya sudah berkecimpung 9 tahun di industri digital dari awal tahun 2008. Selama perjalanan karir sebagai seorang konsultan, pengajar di kampus, dan juga dalam berbagai kesempatan pelatihan. Saya sudah mengelola lebih dari 50 brand. Saya melihat ada beberapa hal yang sering kali jadi tantangan dari sisi pengelola brand terkait dengan digital marketing. Ini beberapa hal yang sering kali saya dengar

Brand masuk ke digital dengan tujuan yang tidak jelas, hanya sekedar ikut-ikutan kompetitor

Ini sering kali saya temukan ketika baru pertama kali dengan calon klien, bahkan di kelas ketika berdiskusi dengan mahasiswa. Kebetulan saya pernah mengampu mata kuliah digital marketing communication, dan saat ini mengampu mata kuliah social media for business di kelas S2 London School of Public Relations (LSPR). Saya tidak kaget kalau bertemu dengan pengelola brand, yang tidak tahu tujuannya di digital. Biasanya hanya sekedar ikut-ikutantren, atau kedua karena kompetitor sudah melakukannya.

Padahal memahami tujuan di digital ini hal mendasar, yang akan mempengaruhi berbagai hal selanjutnya. Apakah ingin awareness? Engagement? Jualan? Edukasi? Atau apa? Karena bisa jadi tujuan yang berbeda, solusi kanal digital yang digunakan akan berbeda, dan pada akhirnya juga tujuan yang jelas akan memudahkan untuk melakukan pengukuran sukses atau tidaknya aktivitas di digital.

Baca Juga: Apa Saja Tujuan Digital Strategy di Organisasi Nirlaba?

Agency hanya memberikan solusi yang sifatnya teknis dan tidak menjawab kebutuhan bisnis

Ini hal lain yang sering terdengar curhatan dari sisi klien. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini, pertama digital berkembang sangat pesat, dan terus berubah setiap saat. Saya yakin tidak semua secepat itu mengikuti perkembangan jaman. Kedua, digital marketing cakupannya sangat luas, karena belum ada standarisasi, biasanya sebagian besar agency, bahkan juga praktisi di sisi brand memulainya menjadi spesialis. Oleh karena itu yang terjadi solusi yang ditawarkan sangat sempit sesuai dengan perspektif yang dipahami. Idealnya  seperti seorang dokter dia belajar jadi dokter umum dulu, jadi punya pemahaman yang luas, baru kemudian belajar spesialis.

Ketiga, ilmu tentang digital ini barrier to entry sangat mudah. Semua orang dari berbagai latar belakang pendidikan banyak yang berkecimpung di sini. Apabila mereka yang berlatar belakang marketing atau manajemen dan bisnis mungkin akan bisa melihat digital dalam perspektif yang lebih luas. Tapi bagi mereka yang misalnya bukan berasal dari latar belakang tersebut, maka memang akan menjadi tantangan tersendiri. Sehingga yang terjadi adalah ketidaksinkronan proses berpikir dan pemahaman.

Baca Juga: 3 Hal Esensial Untuk Menjadi Digital Marketer Handal

Aktivitas digital tidak terlihat dampaknya pada peningkatan penjualan

Saya sering mendengar manajemen puncak tidak mau berinvestasi di digital, karena mereka merasa investasinya tidak terukur. Ukuran yang dimaksud tentunya bukan cuma berapa jumlah fans, engagement dll. Mereka mengharapkan peningkatan penjualan, setelah adanya aktivasi digital. Mereka menggunakan standar misalnya ketika memuat store promo, atau menayangkan iklan di tv maka sales langsung merangkak naik.

Satu hal yang harus diakui adalah iklan tv masih sangat ampuh untuk meningkatkan penjualan, dan awareness. Tapi digital sangat diperlukan karena sebagian besar konsumen sudah beralih di sini. Dan hal lain yang perlu dipahami makanya perlu adanya tujuan yang jelas di awal tujuan masuk digital untuk apa? Kalau tujuannya adalah sales, maka aktivasi di digital harus diarahkan ke sana, dan sudah dipikirkan cara pengukurannya bagaimana.

Sering kali saya menemukan kasus, mereka tujuan di digital adalah penjualan. Tetapi aktivitas di digital tidak menuju ke arah yang sama, atau tidak tahu bagaimana nanti pengukurannya seperti apa.

Bingung menentukan kanal digital mana yang paling tepat sesuai dengan tujuan dan kategori produk

Kanal di digital itu sangat beragam, tapi yang paling populer hanyalah social media. Pengelola brand biasanya mengalami kebingungan budget digital ini akan dilarikan ke kanal mana? Berapa persen di mana dll.

Untuk kasus ini kembali lagi harus punya pemahaman tentang tujuan masuk digital untuk apa, lalu karakter produknya seperti apa. Misalnya kalau tujuannya untuk membangun loyalitas konsumen, maka perlu situs web untuk akuisisi database dengan sistem Customer Relationship Management (CRM) yang baik, lalu melakukan e-mail marketing. Jika tujuannya untuk menjadi customer care, karena ekspektasi konsumen adalah bisa dilayani 24 jam ketika bertanya dan butuh solusi di digital, maka social media menjadi krusial dan harus berinvestasi admin 24 jam.

Membuat pengukuran dan key performance indicator (KPI) aktivitas digital

Ini juga menjadi isu yang sering kali membuat galau. Mengapa? Karena bisa jadi pemahaman yang belum terlalu mendalam tentang digital, atau belum melakukan proses yang benar dalam membuat serangkaian digital strategy. KPI ini tentunya harus sesuai dengan tujuan awal. Maka sekalilagi menetapkan tujuan yang jelas menjadi hal yang sangat krusial.

Baca Juga: Apa Itu WWW.HM? Di Buku “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Menterjemahkan metriks digital ke bahasa yang dipahami manajemen puncak

Ini adalah kasus yang paling menarik menurut saya. Manajemen puncak seperti yang dibicarakan diatas bicara dalam frekuensi “show me trhe money, berapa return on investment (ROI) digital?”. Sementara di digital sebagian besar metriks hanya bicara tentang jumlah fans, followers, engagement dll. Pertanyaan mereka selalu, apa dampaknya jumlah fans ke bisnis? Ketika engagement kita bagus, apa dampaknya ke penjualan?

Ini yang menjadi misteri, karena  keduanya berbicara di frekuensi yang berbeda. Saling tidak memahami, manajemen puncak biasanya adalah generasi X atau generasi Babyboomers yang merasa digital tidak penting, dan kedua tidak memahami istilah teknis terkait metriks digital. Sementara yang mengelola digital belum bisa menterjemahkan ini dalam bahasa bisnis.

Apakah pernah mengalami satu dari hal ini? Atau ada isu lain yang belum tercakup? Mari kita berdiskusi.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini