ecommerce-services

6 Hal Yang Harus Diperhatikan Bila Ingin Membangun Portal Ecommerce Bagi Brand

Setelah booming ecommerce di tahun 2015, dengan ramainya berbagai portal ecommerce seperti MatahariMall, JD.id, Alibaba dll. Ada pergerakan baru dari pemilik merek, selain menjual dan mendistribusikan produknya via ecommerce besar. Mereka juga mulai membangun ecommerce-nya sendiri, misalnya Mitra Adi Perkasa (MAP), lalu Matahari Department Store dll.

Saya juga kebetulan menangani beberapa ecommerce, membantunya dari awal membuat situs web sampai dengan menganalisanya ketika sudah berjalan, dari brand-brand yang sudah mapan di offline.  Saya membantu mereka terkait, strategi apa saja yang harus dilakukan untuk mengakuisisi pembeli, dan supervisi terkait dengan pemeliharaan situs web tersebut. Menariknya ketika bertemu dengan beberapa calon klien, ada beberapa yang juga ingin mengembangkan ecommercenya sendiri, selain mereka menjual melalui kanal ecommerce yang sudah ada. Ini menginspirasi saya untuk menulis soal ini.

Baca Juga: 4 Reasons Why Indonesian Are “Social” Online Shoppers

Membuat situs ecommerce berdasarkan pengalaman yang saya alami mengelola klien, jauh lebih menantang dan perlu dipikirkan dengan matang, dibandingkan membuat situs web korporatm atau mengelola media sosial brand. Lalu apa saja yang perlu diantisipasi dan disiapkan? Berikut berbagi pengalaman yang pernah saya alami:

Ada dua bagian dari Teknologi Informasi (TI) yang terlibat yaitu infrastruktur jaringan dan satu lagi yang terkait dengan pengembangan front end situs web dan aplikasi

Saya yakin sebagian besar pengelola brand tidak terlalu paham atau hirau terkait ini, padahal ini sangat krusial. Walaupun sama-sama ahli TI keahliannya jauh berbeda. Infrastruktur bicara tentang jaringannya seperti apa, seberapa kuat menampung trafik ke situs web. Seberapa besar bandwith dan kapasitas server yang dibutuhkan. Sementara TI yang terkait front end bicara tentang apa yang kita lihat. Soal websitenya seperti apa, bagaimana dengan tampilan aplikasi dll.

Ini dua keahlian yang sangat berbeda. Dan ketika membangun ecommerce maka harus paham soal ini. Sebagai contoh gampangnya kalau kaitannya dengan tampilan website yang membingungkan, atau aplikasinya akan seperti apa tampilannya akan berkait sama bagian front end.

Lalu kalau misalnya saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) kemarin Gramedia.com karena diskonnya sangat menggiurkan, sehingga hang  susah masuk ini  berarti kaitannya dengan TI infrastruktur. Bagaimana mereka memprediksi kapasitas server dan jaringan untuk jumlah trafik yang akan masuk ke web.

Perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan untuk mengelola ecommerce ini juga bagian yang paling menantang

Ketika pemilik brand biasanya hanya berhubungan dengan distributor, lalu harus berhubungan dengan konsumen akhir. Maka harus dipikirkan perencanaan SDM-nya akan seperti apa? Apakah akan investasi admin di internal? customer care internal? Lalu siapa yang akan mengepalai divisi ini? Ini akan menjadi sesuatu yang menantang yang menguasai divisi ecommerce idealnya harus punya pengalaman atau pengetahuan yang terintegrasi tentang marketing sampai dengan sedikit teknis. Karena sebagai kepala divisi dia yang harus menjadi penengah dari sistem TI hingga ke penjualan.

Kalau ini dianggap merepotkan maka bisa juga dilakukan outsource ke perusahaan yang punya layanan jasa end to end terkait ecommerce, mulai dari customer service hingga ke sistem penggudangan dan pengiriman, misalnya yang sangat dikenal di Indonesia adalah Acommerce

Strategi pemasaran ecommerce yang teritegrasi dari Above The Line (ATL), Below The Line (BTL) dan Digital serta berapa besar komposisi budget dari masing masing kanal

Ini salah satu kompetensi paling mendasar yang harusnya dimiliki oleh kepala divisi ecommerce. Mengapa? Karena kanalnya akan sangat banyak, sebagai contoh di digital saja ada sangat banyak pilihan kanal untuk promosi dan akuisisi pembeli mulai dari konten dan iklan di media sosial, iklan di mesin  pencari, affliate marketing, iklan banner, komunitas online, online influencer, email marketing dll.

Mana yang paling efektif? Semua sangat tergantung oleh produk dan tingkat kompetisi dari kategori produk tersebut. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah melakukan eksperimen, lalu dianalisa kanal mana yang paling efektif, dan komposisinya berapa persen dari masing-masing kanal. Dan mesti diingat tujuan akhir dari kampanye yang dibuat tentu saja harus ke akuisisi pembeli, atau paling tidak akuisisi data pelanggan.

Menentukan Payment gateway mana yang paling sesuai

Ini juga hal yang sangat krusial dan harus diputuskan oleh manajemen. Payment gateway penting karena menjadi mediator transaksi  pembelian produk. Dengan adanya payment gateway, maka kita tak perlu direpotkan untuk membuat sistem dan menghubungi satu satu penyedia sistem pembayaran. Di sisi lain soal keamanan, karena ini sangat menyangkut ke keamanan dan kepercayaan. Data konsumen yang bocor di sistem kita maka akan sangat berbahaya.

Apa yang dilihat dari payment gateway antara lain, metode pembayaran apa saja yang bisa diakomodasi. Transfer atm, internet banking, kartu kredit, atau pembayaran melalui toko ritel dll. Kedua, kredibilitas dan tingkat keamanan dari sistem yang mereka punya. Ketiga, layanan purna jual dari payment gateway misalnya ketika ada masalah dalam transaksi apakah direspon dengan sigap ataukah tidak? Keempat, paling mudah dengan melihat ecommerce mana saja yang sudah menjadi kliennya. Apabila ecommerce besar pun mempercayakan ke mereka, berarti layanannya cukup teruji.

Standard Operating Procedure (SOP) internal terkait dengan penjualan via online

Ketika pemilik brand biasanya menjual hanya via kanal konvensional lalu menjual juga via online, maka bisa jadi ada SOP baru yang dibuat. Misalnya yang paling sederhana terkait pembukuan produk yang keluar dan juga penjualan. Lalu apabila ini semua dilakukan di internal perusahaan, maka harus membuat SOP operasional di internal terkait dengan respon ke konsumen, proses pengiriman, proses pengambilan barang dari gudang dll.

Apakah ada tambahan lain? Mari berbagi pengalaman di sini

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini