millennial-blog-post-750x350

Karakteristik Konsumen Generasi Digital

Digitalisasi bukan hanya mengubah lanskap pemasaran dalam artian kanal untuk berkomunikasi. Era digital juga mengubah karakter dan perilaku konsumen, yang besar dan lahir di era ini. Generasi baru yang punya selera dan perilaku yang berbeda dalam pembelian produk, dan cara mereka mengkonsumsi.

Selamat datang era knowledgeable consumers!!! Ketika konsumen punya segudang info sebelum membeli

Pengaruh terbesar digital pada perilaku ini adalah, searching cost sebuah produk menjadi sangat murah. Untuk membandingkan sebuah produk, konsumen tidak perlu lagi datang dari satu toko ke toko lain, atau dari menghubungi satu penyedia jasa ke yang lainnya. Mereka hanya tinggal buka internet, mencari di mesin pencari, maka semua informasi lengkap mulai dari harga hingga review dari pengalaman konsumen sebelumnya.

Ini era baru di mana, bisa jadi konsumennya lebih pinter dibandingkan tim penjualan perusahaan. Konsumen tak bisa lagi ditipu, karena mereka biasanya datang dengan segudang informasi sebelum melakukan pembelian. Mereka menggunakan mesin mencari, meminta rekomendasi dan konfirmasi di media sosial ke teman-temn yang dipercaya.

Konsumen yang mengagungkan hipster dan anti mainstream, dan enggan menggunakan produk populer

Generasi digital ingin tampil unik dan beda, menjadi pelopor dan trend setter di lingkungannya. Mereka akan merasa bangga kalau punya selera yang beda. Mereka yang jadi pusat perhatian adalah mengkonsumsi brand yang justru temannya ngga tahu, travelling yang keren itu, ke tempat yang tidak biasa, dan belum banyak turisnya. Kebanggaan itu bila menggilai musik Indie yang ditemukan di lautan artis Spotify, Joox atau Youtube.

Itu sebabnya brand-brand fashion besar pun akhirnya harus melakukan perubahan dan adaptasi besar-besaran demi merayu generasi digital. Mereka was-was karena Louis Vuitton dianggap kurang cool, karena terlalu maisntream. Generasi ini memilih menjadi pelanggan desainer berbakat dari pelosok dunia, yang punya gaya unik, dan sesuai karakter mereka. Ini semua terjadi karena internet memungkinkan mereka untuk punya banyak pilihan, panutan dan juga referensi.

Konsumen yang lebih memilih menyewa, dibandingkan membeli

Generasi digital juga ditandai dengan sebuah perilaku baru. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terobsesi dengan memiliki dan mengkoleksi mulai dari CD, buku, mobil, DVD dan mungkin properti. Generasi ini lebih mendukung ide sharing and renting economy. Kepemilikan mobil bukan lagi parameter sukses, karena naik Uber lebih cool, dan sederhana. Mengapa? Karena mereka ini sukanya nomaden, bermukim berpindah pindah kota untuk mencari pengalaman dan tantangan baru. Kepemilikan mobil bahkan rumah akan menghambat.

Internet juga memudahkan mereka untuk memesan kendaraan semacam Uber, berlangganan musik di live streaming platform, atau menonton video tanpa batas, di plaform seperti Hoox dan Netflix.

Konsumen yang mementingkan pengalaman, dan story telling dalam memilih produk

Ini generasi yang mementingkan pengalaman dalam mengkonsumsi, dan cerita dibalik sebuah produk. Mereka menghargai pengalaman unik, yang ditawarkan oleh sebuah barang atau jasa. Misalnya ke kafe, mereka lebih mementingkan suasana kafenya, di industri musik mereka akan berbondong-bondong berburu tiket konser demi pengalaman tak terlupakan.

Mereka tidak perlu brand yang populer, tapi ingin tahu cerita dibalik layar visi dari produk ini. Mereka kepo dengan proses pembuatannya. Mereka lebih peduli dengan misi yang ingin diemban produk itu, dan tidak terlalu memperjuangkan harga yang termurah.

Baca juga: 3 Dampak Digital ke Industri Travel

Konsumen yang ingin diajak berkolaborasi menciptakan produk, dan bekerjasama dengan perusahaan yang peduli lingkungan dan sosial

Bagi generasi digital, fungsi perusahaan itu bukan hanya menghasilkan keuntungan. Tetapi juga harus membawa perubahan sosial dan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Ini adalah brand yang akan membuat jatuh hati konsumen digital. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Tom’s menjadi sangat populer, karena punya misi sosial untuk menyumbangkan satu sepatu ke Afrika untuk setiap penjualan sepasang sepatu.

Dan jangan lupa mereka juga ingin dilibatkan dalam proses membuat produk yang cocok buat mereka. Mereka tidak mau hanya menjadi obyek, mereka ingin didengar impiannya dan harapannya seperti apa dalam pengembangan produk. Mereka akan dengan senang hati terlibat untuk memberikan masukan ke perusahaan. Perusahaan yang sangat populer di dunia semacam Starbucks dan Lego sudah mengambil momentum ini.

Baca Juga: Transformasi Digital

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini