4

6 Alasan Joox Merajai Indonesia, Mengalahkan Spotify

Saya sesungguhnya cukup kaget ketika tim Joox datang presentasi ke Upnormals Pingfans, dan menunjukkan data bahwa mereka lebih mengungguli Spotify di pasar Indonesia. Sebelumnya dalam benak saya, Spotify itu lebih dominan dibanding dengan Joox, karena Spotify adalah aplikasi music streaming terbesar di dunia. Berdasarkan data di bagian press release situs resminya, mereka telah hadir di 60 negara, sementara Joox, baru hadir di pasar Hongkong, Indonesia, Malaysia, Thailand berdasarkan data di Wikipedia.

Baca Juga: Revolusi Industri Musik Akibat Transformasi Digital

joox-1

Lalu setelah menyimak presentasinya, saya bisa memahami mengapa Joox menalukkan pasar Indonesia, walaupun dugaan saya secara jumlah koleksi lagu Spotify lebih unggul (data di Wikipedia, jumlah lagu di Joox tidak ada, hanya ada Spotify dan aplikasi lainnya). Satu hal yang unggul dari Joox dibanding Spotify menurut analisa saya, Joox memahami SELERA ASIA. Apa saja selera konsumen Asia yang saya maksud? Berikut beberapa hal yang menurut saya penting, dan sangat Asia berdasarkan menyimak presentasi dan mencoba aplikasinya.

Baca Juga: Apa Arti Hadirnya Spotify ke Industri Musik Indonesia?

Joox punya kustomisasi desain halaman yang bisa disesuaikan dengan mood dan selera

screenshot_20170129-161817

Seperti halnya Winamp di jaman dulu yang pernah populer, maka Joox membawa fitur ini. Ini tentunya strategi yang cerdas, dan sangat pas dengan perilaku konsumen Asia, yang rajin berganti-ganti desain sesuai mood, dan biar beda sama yang lain. Hal ini tidak ada di Spotify, karena Spotify lebih menonjolkan fungsi dan kemudahan dalam mendengarkan musik bukan “kosmetik” terkait itu.

Joox punya gamification untuk membuatnya viral, dan dimudahkan berbagi lagu hampir semua media sosial

screenshot_20170129-161404

Joox sepertinya memang paham bagaimana caranya agar viral, dan menjangkau banyak pengguna. Mereka paham orang Asia suka sekali membagikan lagu di media sosial, untuk menunjukkan perasaannya, atau sekedar menyindir orang lain. Ini mereka tunggangi untuk memicu aplikasinya semakin viral, dengan memberikan insentif, apabila mereka membagikan lagu  di media sosial.

Insentifnya adalah menjadi pelanggan VIP (yang harusnya diperoleh dengan langganan berbayar), GRATIS. Tentu saja ini menarik sekali untuk pengguna, terutama di segmen remaja dan kelas menengah ke bawah yang daya belinya terbatas. Bagaimana dengan Spotify? Mereka punya fitur berbagi tapi terbatas, tidak bisa ke Instagram, Path dan WeChat yang sangat populer di Indonesia.

screenshot_2

 

Pelanggan premium Spotify juga hanya bisa dilakukan dengan langganan berbayar. Business model Spotify tidak secanggih Joox, mereka lebih menyasar konsumen menengah atas yang ngga mau repot, dan punya kemampuan untuk membayar. Atau mungkin mereka belum terlalu memahami konsumen Asia dan khususnya Indonesia? Bahwa share lagi itu bukan kerepotan, tapi justru kesenangan tersendiri. Karena share lagu itu adalah “kode”, sebuah perasaan yang  seluruh dunia harus tahu.

Joox punya menu video clip yang disukai ama orang Indonesia yang terbiasa dengan budaya nonton TV

screenshot_20170129-161750

Ini juga fitur menarik yang sangat cocok dengan sebagian besar masyarakat Indonesia yang sangat kuat dengan budaya mendengar dan menonton. Ketika ada fitur video clip pasti akan sangat digemari oleh konsumennya. Fitur ini memudahkan generasi TV, dan menggeser peran MTV dalam bentuk yang lebih handy dan cool.

Joox memahami konsumen Indonesia yang suka karaoke, dan berbagi lirik “kode” isi hati

screenshot_20170129-161309

Ini menurut saya ide yang sangat cerdas, dan memang sangat khas konsumen di Asia khususnya Indonesia. Orang Asia sangat suka karaoke, lihat saja di mana-mana munculjasa karaoke. Sehingga lirik lagu itu penting sekali, ditambah lagi mereka sangat sensitif membaca data tren penggunaan aplikasinya. Joox melihat banyak yang screen capture lirik lagu secara manual, lalu dibagikan di media sosial.

Peluang ini mereka tangkap dengan membuat fitur berbagi lirik, dan latar belakangnya pun bisa dikustomisasi. Ini saya yakin tidak terbayangkan oleh tim Spotify, yang menggunakan kacamata konsumen Eropa.

Joox punya fitur live streaming yang bisa mengintegrasikan pengalaman offline to online 

screenshot_20170129-161531

Joox juga meredefinisi aplikasi musik,  mereka hadir dengan aplikasi yang cocok dengan konsumen Indonesia yang suka dengan visual, dengan menambahkan fitur live streaming acara musik. Konsumen bisa merasakan riuhnya sebuah konser yang sekarang jadi bagian lifestyle generasi muda, tanpa perlu hadir di sana. Joox pandai melihat pasar, bahwa industri konser musik menjadi booming setelah adanya media sosial. Banyak konsumen yang pamer lagi nonton konser, karena ini adalah salah satu parameter tingkat kegaulan, selain jalan-jalan.

Lalu bagaimana yang ngga bisa nonton langsung? Karena misalnya waktunya bentrok dengan hal lain? Atau kendala jarak dan dana? Mereka bisa nonton live streaming via Joox. Ide yang cerdas bukan?

Joox punya konten khusus yang dibuat internal untuk mengelola fans para artis

screenshot_20170129-161909

Kalau Spotify hanya fokus pada pengalaman mendengarkan musik bagi Si Pengguna, maka Joox melompat lebih jauh bagaimana mengemas pengalaman mendengarkan musik, dan interaksi antara penggemar dan artis. Itu sebabnya mereka punya konten-konten khusus yang mereka produksi sendiri, bahkan Joox punya studio sendiri untuk memproduksi acara-acara mereka.

Contohnya ada live chat di sini, hal ini juga salah satu kunci sukses Kakao Talk di Korea karena para Fans bisa berinteraksi langsung dengan artis artis K Pop. Di mana Anda semua mungkin sudah tahu bahawa penggemar K Pop sangat militan dan loyal, karena mereka dikelola sebagai sebuah komunitas yang sangat erat. Ini juga jalur yang ingin dibangun oleh Joox.

Sejujurnya saya pribadi untuk menikmati musik lebih menyukai Spotify dibanding Joox, karena lebih sederhana dan fungsional. Tapi saya harus akui Joox, bisa menyalip di tikungan, dan mengambil hati konsumen Indonesia karena sangat memahami harapan dan kecemasan konsumen Indonesia. Bagaimana menurut Anda? Penggemar Joox atau Spotify? Yuk share pengalamannya di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini