fintech

4 Tantangan Fintech Yang Menyasar Kelas Menengah Bawah

Pertumbuhan Fintech saat ini sedang marak, dan saya melihat pertumbuhan terbesar berdasarkan data keanggotaan di Fintech Indonesia, perusahaan rintisan keuangan terbanyak, terkait dengan memberikan pinjaman atau pembelian secara kredit. Lalu saya terpikir, pasar terseksi dari Fintech sebenarnya  di segmen kelas menengah bawah. Apa definisi dari kelas menengah bawah? Kalau berdasarkan artikel dari Kompas.com, definisinya adalah konsumen yang pengeluarannya di bawah 10 dolar AS per hari, yang jumlahnya tentu sangat besar, dibandingkan dengan total penduduk Indonesia.

Baca Juga:Mengapa Fintech Akan Menjadi Tren Berikutnya di Indonesia?

Tapi ketika Anda ingin masuk ke pasar ini, dan menggarap pasar ini, ada beberapa tantangan yang harus dipahami, sehingga bisa memberikan solusi yang tepat.

Gadget yang digunakan adalah spek yang sangat minimalis

Apa pengaruhnya? Jangan bermimpi mereka akan mengunduh aplikasi, atau kalau pun mereka mau mengunduh aplikasi. Aplikasi yang dibuat tidak boleh berat, karena akan membuat handphonenya han,  akibat memori tidak memadai. Maka di awal mungkin akan lebih memungkinkan, apabila platform yang digunakan adalah situs web yang ramah mobile.

Kuota dan paket internet masih menjadi barang yang mahal

Anda mungkin tidak membayangkan bahwa mereka ini bahkan sulit untuk membuka situs web. Mengapa? Karena paket data yang dibeli hanyalah paket data unlimited media sosial, ketika mereka harus buka situs web akan gagal. Paket data media sosial sangat populer di kelas menengah bawah, karena perilaku mereka memang lebih banyak mengakses media sosial, selain mereka juga merasa terlalu mahal membeli paket data full service.

Kalau buka situs web saja tidak bisa, lalu bagaimana kabarnya dengan aplikasi? Sudah pasti itu tidak memungkinkan. Sebagian besar dari mereka mengandalkan wifi gratis untuk mengunduh aplikasi dan membuka situs web.

Hanya 24% konsumen Indonesia yang punya akun di bank

Berdasarkan riset bank Mandiri yang dikutip Kompas di tahun 2015, jumlah pemilik akun bank baru 60 juta, dari total 250 juta penduduk Indonesia. Ini berarti hanya 24% populasi yang mempunyai rekening bank. Jadi ketika membuat Fintech misalnya kaitannya dengan pinjaman dan pembelian produk secara kredit, apabila dalam prosesnya harus melibatkan bank. Maka jelas akan sangat membatasi konsumen yang bisa diraih. Karena 76% masyarakat Indonesia ini masih belum punya rekening bank.

Baca Juga:Mengapa CIMB Niaga Adalah Bank Yang Paling Responsif di Era Disrupsi Fintech?

Literasi teknologi yang masih sangat rendah dan proses panjang untuk edukasi

Kelas menengah bawah sebagian besar adalah late adopter terutama kaitannya dengan teknologi, fintech berarti menawarkan digitalisasi layanan keuangan yang pastinya akan lebih murah, dan mudah. Tapi bagi siapa? Itu persepsi bagi kelas menengah atas, yang notabene berpendidikan lebih tinggi, dan intelektualitasnya tinggi.

Baca Juga:Hambatan Terbesar Bagi Fintech di Indonesia

Kelas menengah bawah sebagian besar hanya mengenali teknologi sebatas media sosial dan chatting. Sebagai contoh saya pernah melihat layanan jasa menginstal aplikasi di Blok M Mall.  Jadi akan butuh waktu yang panjang untuk melakukan edukasi ke mereka, setelah proses akuisisi. Salah satu contoh yang berhasil adalah edukasi yang dilakukan Go-Jek mengedukasi para pengendara ojek pangkalan, untuk boisa memahami dan menggunakan aplikasi Go-Jek.

Apalagi yang menurut Anda menjadi tantangan Fintech di segmen ini? Saya tunggu masukannya.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer(CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATIS di sini