digital-wallet-new

6 Alasan Go-Pay Akan Menjadi Pemenang E-Money di Indonesia

Seperti yang saya prediksikan, di 2017 pergerakan perusahaan rintisan digital yang paling riuh adalah di industri Financial Technology alias Fintech. Dan pertempuran paling seru ada di e-money. Banyak sekali pemain dari berbagai industri berburu ceruk pasar seksi ini, mulai dari bank, perusahaan telekomunikasi, payment gateway sampai dengan perusahaan transportasi.

Beberapa produk yang mungkin Anda sudah kenal memperebutkan pasar ini antara lain ada T-Money, TCash, Money Pro, Rekening Ponsel, Jenius, Go-Pay, Sakuku, Doku dll. Saya melihat persaingan yang sangat seru di sini, indikatornya adalah investasi yang sangat gencar untuk promosi misalnya Jenius, Rekening Ponsel, dan TCash.

Baca Juga:Fintech di Indonesia yang Menyasar Kelas Menengah Bawah

Tapi saya melihat dan meramalkan, Go-Pay akan mendominasi e-money di Indonesia. Mengapa? Berikut beberapa argumen saya terkait ini:

Go-Pay punya ekosistem yang kuat yang memberikan alasan konsumen untuk bertransaksi rutin

Go-Pay adalah bagian dari Go-Jek yang berawal dari perusahaan transportasi mengantarkan penumpang, lalu berekspansi ke berbagai layanan semacam salon, pijat, antar barang, pembelian pulsa dll. Semua layanan yang mereka punya, terutama di layanan antar orang, adalah kebutuhan rutin.

Bayangkan mereka yang setiap hari harus bepergian ke kantor atau aktivitas lainnya misal sekolah dll, pastinya akan dengan senang hati mempunyai akun di Go-Pay, dan menggunakan Go-Pay karena pembayaran dengan Go-Pay banyak promo diskon, bahkan bisa gratis antar, misalnya untuk layanan Go-Food.

Ingat ketika berbicara tentang e-money, pengukuran tidak berhenti hanya sampai pada berapa orang yang mendaftar dan mempunyai akun. Tapi seberapa banyak transaksi dilakukan, dan berapa jumlah transaksi yang dilakukan. Dengan ekosistemnya yang sudah jadi, dan terintegrasi Go-Pay sudah punya pelanggan loyal.

Biaya akuisisi konsumen yang sangat murah

Go-Pay pastinya akan terus tumbuh seiring dengan pertambahan konsumen yang menggunakan jasanya, dan juga para pengendara yang tergabung di dalamnya. Mereka tidak perlu melakukan edukasi yang panjang, dan memakan biaya yang mahal. Karena Go-Pay menjadi bagian yang terintegrasi, dari layanan Go-Jek yang sangat beragam.

Calon konsumen cukup mengunduh satu aplikasi, sudah mencakup semua layanan, dan memberikan solusi bagi berbagai kebutuhan mereka. Itu sebabnya pertumbuhan Go-Pay akan terus melaju. Sementara para pesaingnya, harus tertatih dan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membujuk konsumen, pertama mengunduh aplikasinya. Kedua, bekerja keras membujuk mereka mau menggunakan aplikasi itu untuk bertransaksi.

Go-Jek sebagai induk dari Go-Pay melakukan strategi ekspansi yang sistematis

Kita harus mengakui Go-Jek sebagai induk dari Go-Pay sangat sistematis dalam melakukan ekspansi. Mereka punya visi yang sangat jauh ke depan, lalu melakukan eksekusi dengan seistematis dan cepat. Mereka mencoba dan bereksperimen dengan yang kecil terlebih dahulu, baru kemudian diperluas, dan terus-menerus dikembangkan.

Kita bisa liat bagaimana ekspansi mereka dari segi layanan, dan jangkauan yang sangat sistematis dan selalu ada inovasi baru untuk memperkuat ekosistemnya. Ekosistem yang terbangun ini akan membuat mereka semakin susah dikalahkan kompetitor, karena barrier to entry yang sangat kuat.

Mereka melakukan ekspansi bertahap, dengan melihat pergerakan data. Strategi yang sama, yang membuat perusahaan berbasis digital lainnya bisa bertahan di tengah kompetisi yang sangat sengit. Misalnya Facebook, Apple dan Google, mereka melakukan ekspansi sistematis dengan beragam cara. Mereka melakukan inovasi diinternal, atau mengakuisisi start up lainnya untuk memperkuat ekosistemnya.

Go-Pay punya pendekatan yang cerdas untuk mengambil pasar konsumen yang unbankable

Konsumen Indonesia yang sudah punya rekening di bank baru sekitar 20%, semua fintech sebenarnya berlomba-lomba menjangkau konsumenyang 80%. Dan Go-Jek menurut saya punya solusi paling jitu untuk menangkap pasar ini. Bagaimana caranya? Caranya dengan mengakuisisi via pengemudi Go-Jek.

Permasalahan utama mereka yang tidak punya rekening di bank adalah, bagaimana mereka akan top up rekeningnya? Karena semua yang lainnya menggiring mereka untuk top up via transfer dari rekening bank. Go-Jek memberikan solusi yang sangat mudah, dan cocok sama budaya Indonesia, top up tunai ke pengemudi Go-Jek. Ini menguntungkan bagi pengemudi, karena mendapatkan pendapatan tambahan, dan bagi konsumen karena mereka lebih nyaman.

User Experience paling mudah dibandingkan kompetitor

Anda harus akui user experience Go-Pay ini sangat mudah dan intuitif. Pertama, untuk punya akun Go-Pay tahapannya tidak banyak, karena ketika punya akun Go-Jek otomatis akan punya akun Go-Pay, tinggall top up. Ketika mau transfer juga sangat gampang cuma butuh dua langkah, masukkan data KTP dan NPWP.

Saya juga menjadi loyalis membeli pulsa via Go-Pay. Mengapa? Karena sangat sederhana, cukup dua langkah, dan selesai. Ini salah satu kunci hebatnya Go-Pay, seperti halnya kesuksesan Traveloka menurut saya karena user experience yang sangat bagus dibandingkan aplikasi untuk layanan sejenis.

Membangun sistem loyalitas konsumen dengan gamification

Seperti yang sudah saya paparkan di atas, Go-Jek membangun semua fitur dan layanannya dengan sangat sistematis, dan visi jangka panjang. Ketika mereka sudah berhasil melakukan konversi konsumen menggunakan Go-Pay, maka mereka membuat inovasi strategi bagaimana konsumen loyal dengan layanannya. Maka lahirlah sistem poin loyalitas, yang poinnya diperoleh dengan memainkan permainan yang mudah, tapi menyenangkan.

Konsumen pun punya banyak sekali pilihan, untuk menukarkan poin yang dimiliki. Mereka membuat semua orang dengan poin berapapun merasa punya harapan untuk menukarkan poin. Ini secara tidak langsung, akan mengunci konsumen untuk lebih loyal dan lebih sering menggunakan layanannya. Dan saya yakin ke depan, Go-Jek akan memperluas jangkauan Go-Pay bisa digunakan untuk bertransaksi bukan hanya di layanan Go-Jek, tapi di merchant-merchant lainnya misal e-commerce, bahkan toko.

Setuju dengan pendapat ini? Menurut Anda siapa yang akan memenangkan kompetisi e-money?

Baca Juga:4 Tren Besar Fintech, Mana yang Sudah Menjamur di Indonesia?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATIS di sini