m-commercelogo-1

6 Hal Terkait Fitur Growth Hacking yang Menarik dari Shopee

Beberapa bulan yang lalu saya mengenal Shopee dari para online shopper terutama perempuan, karena saya belum pernah kenal dan ternyata sedang boom. Saya pikir ini kok menarik, iklannya tidak gede-gedean, tapi bisa jadi kuda hitam. Semalam saya unduh aplikasinya, karena berkepentingan untuk membuat materi training di salah satu inkubator, terkait dengan tema Growth Hacking.

Baca Juga:#BookReview: Growth Hacker Marketing: A Primer on the Future of PR, Marketing, and Advertising

Lalu saya terkesima dengan fitur-fitur yang menurut saya berkontribusi besar, pada keberhasilan Shopee mengakuisisi penjual dan pembeli, hingga kemudian membangun retensi konsumen.

Baca Juga:Growth Hacking Buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Shopee menjanjikan belanja mudah via mobile

screenshot_20170527-195652

Shopee di aplikasinya sudah membuat tagline yang sangat menjanjikan “Jual Beli di Ponsel”, dan ketika mencoba aplikasinya, memang sangat terasa mereka memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk bertransaksi via mobile. Dan semua dilakukan via mobile, tidak perlu bantuan komputer desktop.

Mereka jelas cerdas sekali mengambil pasar yang lebih besar, yaitu late adopter yang terhubung pertama kali dengan internet via HP. Dan mungkin HP adalah satu-satunya akses ke internet bagi mereka, tidak pernah akses ke komputer desktop.

Impor foto dari Instagram langsung ke Shopee

screenshot_20170528-121430

Fitur ini sangat brilian untuk mengakuisisi penjual. Mengapa? Di Indonesia banyak sekali orang yang berjualan di Instagram, ketika mereka berharap orang mau membuka lapak di Shopee, salah satu hal yang jadi kendala adalah, buang waktu harus unggah ulang foto, dan belum tentu akan ramai jualan di Shopee. Fitur ini memudahkan para penjual, menghemat waktu, dan menurunkan risiko untuk mau mencoba. Bagi mereka toh tidak banyak pengorbanan yang dilakukan.

Bagi Shopee ini hal yang penting, semakin banyak penjual maka semakin banyak ragam barang, dan rentang harga yang bervariasi. Ini sangat dibutuhkan untuk menggoda konsumen membeli, dan meretensi mereka.

Chat dengan penjual, fitur yang sahih untuk Indonesia

screenshot_20170527-195454

Saya teringat beberapa tahun lalu, ketika melakukan riset pasar home visit. Saya menemukan ibu yang kami datangi lebih nyaman belanja via Facebook, dibandingkan dengan belanja via situs ecommerce. Walaupun menurut pengakuannya, dia sering membandingkan harga ke ecommerce, dan kadang harganya lebih mahal di Facebook. Dan dia lebih pilih belanja di FB, padahal biasanya ibu-ibu price sensitive? Paling jago nawar, dan ngejar semua diskon? Ternyata yang membuat dia lebih suka belanja di FB, salah satunya bisa kenalan, ngobrol dengan penjualnya, konsultasi dll.

Kenyamanan emosional, ternyata mengalahkan rasionalisasi harga yang lebih murah. Shopee cerdas memindahkan pengalaman itu, di situs webnya. Bagaimana dengan yang lain? Biasanya konsumen hanya bisa mengkontak penjual via fitur kontak yang terhubung ke e-mail, yang jelas bukan perilaku yang pas bagi ibu-ibu. Karena penjualnya pun belum tentu terbiasa buka email setiap saat, akibatnya respon lama, dan pengalaman interaksinya berbeda.

Fitur social media sharing yang lengkap

screenshot_20170527-200017

Ini juga ide yang sangat bagus, memudahkan bukan hanya penjual, tapi pembeli untuk menyebarkan informasi ke teman-temannya, dan calon konsumen. Dalam ilmu Growth Hacking, salah satu hal penting untuk menjadi viral, dan mendapatkan trafik organik adalah memberikan fitur yang memudahkan audiens, menyebarkan informasi.

Fitur social commerce yang akan membangun retensi dan mendorong transaksi

screenshot_20170527-195305

Satu lagi fitur yang menurut saya menarik dari Shopee adalah, fitur social commerce. Di mana kita bisa follow teman di FB, yang sudah ada di Shopee, atau follow penjual. Ini fitur yang cerdas, membuat pembeli akan terikat dalam ekosistem Shopee, selalu kepo untuk melihat apa yang baru. Masyarakat kita juga kan kepo dengan yang dibeli orang lain, plu tidak mau kalah. Dan akhirnya terdorong untuk berbelanja.

Produk-produk yang dijual di sana sebagian besar terkait fashion, di mana bagi segmen perempuan, ini produk yang impulsif. Ketika transaksi makin besar, maka penjual akan semakin semangat menambah koleksi di Shopee.

Pencarian via hashtag membawa pengalaman belanja ala Instagram

screenshot_20170528-123034

Saya pernah bertanya ke teman-teman yang perempuan, dan juga para penjual di Instagram. Bagaimana mereka menemukan sebuah produk. “Hashtag adalah koentji” ternyata benang merahnya sama. Ketika Shopee menambahkan fitur ini, maka konsumen yang terbiasa berbelanja di Instagram, dan penjual yang jualan di sana tidak susah untuk beradaptasi. Karena fitur dasar, sesuai dengan perilaku belanja di Instagra, ditambah berbagai kemudahan lain.

Bagaimana menurut Anda? Share yuk pengalamannya buat yang pernah berbelanja di Shopee

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATIS di sini