Image of three business people working at meeting

Ketika Puncak Pimpinan Mengalami Gegar Budaya di Media Sosial

Pada public training minggu laludengan tema “Social Media Strategy for Financial Industry”, saya banyak mendengar cerita mengejutkan tentang puncak pimpinan alias CEO bank yang “tersandung” di media sosial yang bikin deg degan timnya. Misalnya mempublikasikan tweet yang meresahkan, dan kontroversial.

Baca Juga: 4 Potensi Risiko yang Mengakibatkan Krisis di Media Sosial

Ini sudah kesekian kalinya mendengar cerita semacam itu, pernah saya juga mendengar di traiing ILC lainnya, seorang pemilik saham bank papan tengah di Indonesia, membuat kehebohan media, dan kepanikan bursa saham, karena mempublikasikan akan membeli saham sebuah bank lain. Ini padahal aksi individual, tidak ada kaitannya dengan perusahaan tapi tetap saja, publik melihatnya berbeda. Dia mewakili gerbong yang lebih panjang, yang ini kadang tidak disadari.

Bagi saya ini menarik, karena belakangan makin banyak puncak pimpinan yang terseret isu, dan krisis di media sosial. Padahal dulu saya pikir, krisis media sosial yang disebabkan internal itu akan lebih berisiko akibat karyawan. Ternyata sekarang berbalik ke puncak pimpinan.

Fenomena apakah ini? Mengapa sekarang banyak terjadi? Lalu bagaimana tips mencegahnya? Berikut analisa saya:

Generasi X hadir di media sosial & mengalami gegar budaya melihat hubungan yang sangat cair dan horisontal

Generasi X adalah generasi migran di media sosial. Mereka juga biasanya adalah late adopter yang datang belakangan. Mereka mungkin terkaget-kaget melihat media sosial yang ternyata sangat horisontal, bisa disapa bahkan dimarahin anak berumur 15 tahun yang adalah konsumennya. Padahal di kantor mereka sangat dihormati, tidak ada yang berani komentar, apalagi mengkritik.

Lalu bagaimana menanggapi ini? Para manajemen puncak harus diberitahu, bahwa konsekuensi media sosial memang seperti ini. Tidak ada batasan, dan “kasta” yang membuat orang segan karena jabatan, bahkan kadang lebih kejam, tanpa saringan kalau berbicara di media sosial. karena tidak berhadapan langsung.

Persiapan mental ini sangat penting, karena bisa jadi gegar budaya, dan stres melihat komentar yang dianggap tidak sopan. Ketika emosi, bisa saja tidak terkontrol dan marah-marah, yang berujung pada krisis di media sosial.

Konten media sosial itu ranah publik, bukan area privasi

Seringkali kontroversi dan isu terjadi, karena kita tidak memahami bahwa media sosial itu ranah publik. Saya seringkali mengingatkan, ini bukan diari Hanya kita dan orang-orang tertentu yang bisa baca.

Kalau kita punya mindset ini adalah ranah publik, maka otomatis kita akan berpikir ribuan kali sebelum mempublikasikan sesuatu. Sayangnya Generasi X kurang menyadari akan hal ini. Walaupun isu ini bukan hanya terjadi di Generasi X, Generasi Y dan Z pun, banyak yang tidak punya kesadaran ini.

Walaupun opini pribadi, ketika kita memegang jabatan tertentu. Audiens akan mempersepsikan itu sebagai opini dari keseluruhan organisasi.

Jurnalis dan masyarakat umum tidak memisahkan opini pribadi, dan organisasi. Apabila Anda memegang jabatan tertentu, maka harus lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan bukan hanya kepada media, tapi juga di media sosial. Karena ini pun media, tapi Anda sendiri yang mengelola.

Kadang kita tidak sadar akan hal ini, karena merasa kita tidak mencantumkan jabatan di media sosial. Tapi audiens dengan mudah mencari informasi siapa kita, karena ada mesin pencari. Oleh karena itu perlu diberikan pelatihan khusus bukan hanya media handling kaitannya dengan bagaimana teknik ketika pidato atau diwawancara media.

Manajemen puncak juga seharusnya perlu paham dan dilatih, bagaimana mengupdate dan merespon komentar di media sosial. Karena seringkali ini tidak dilakukan, karena dianggap tidak penting. Padahal media seringkali mengutip, dan memonitor media sosial key person dari organisasi.

Ada yang ingin ditambahkan? Mari diskusi

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATIS di sini