digital-influencer

Pembelajaran Untuk Digital Influencers Agar Tidak Terperosok Seperti Broddie

Hari ini jagad Twitter lagi heboh, dengan tweet dari akun @BanyuSadewa. Dia mengklaim ini dari kisah nyata selebgram berkode Broddie, yang melesat namun akhirnya terperosok dalam kesulitan keuangan akibat halusinasi tuntutan gaya hidup ala selebgram, dan miskinnya inovasi untuk bertahan di industri hiburan digital yang hiperkompetitif. Cerita berakhir tragis jadi simpenan sugar daddy. Cerita selengkapnya bisa dibaca di chirpstory berikut.

Baca Juga:Jajaran Youtubers Indonesia Dengan Bayaran Tertinggi, Siapa Saja?

Cerita ini baru disebar dari tanggal 10, dalam 1 hari, sudah viral kemana-mana, di chripstory pembacanya sudah lebih dari 6,000, belum lagi yang share link langsung ke Twitter. Ini kisah klasik, yang sudah saya kuatirkan sejak lama, dan sering kali saya ingatkan, terutama ketika saya berbicara ke generasi milenial yang banyak sekali bercita-cita menjadi digital influencer.

Karena dalam persepsi mereka profesi ini terlihat cool dan keren. Selalu bahagia, bergelimangan kemewahan, dan bisa dicapai dalam waktu yang singkat, & instan. Sayangnya hampir semua digital influencer baik itu di youtube, atau instagram, dua media sosialternama saat ini, tidak punya keunikan yang kuat. Sehingga akan mudah sekali membuat audiens bosan, lalu lari ke pendatang baru yang dianggap lebih fresh, dan menawarkan sesuatu yang baru.

Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh para digital influencers, agar mereka bisa mengelola bisnis mereka secara berkelanjutan.

  • Inovasi dan eksperimen tiada henti untuk membangun loyalitas

Digital influencer banyak sekali bermunculan, dan tiap hari selalu saja ada pendatang baru. Ini industri yang sangat kompetitif. Mengapa? Karena untuk bisa menjadi influencers sangat mudah, dan gampang sekali. Siapkan handphone, lalu unggah konten maka selesai.

Hambatan yang rendah masuk ke industrinya, membuatpelaku yang sudah terkenal tak bisa lengah. Mereka harus terus inovasi dan eksperimen. Efek kejutan harus terus ada, untuk menjaga fans loyal pada konten Anda, kalau ngga ditinggalkan. Ketika fans menurun, maka pendapatan juga akan menurun. Karena klien kan loyal hanya kepada influencer yang memang menghasilkan Return On Investment (ROI) yang tinggi.

  • Riset penting sekali untuk mencari inovasi baru, dan mendeteksi pesaing baru

Saya merekomendasikan digital influencers juga harus rajin melakukan riset, dan membandingkan konten kreatif dari berbagai orang di seluruh dunia. Mereka tidak bisa bergantung hanya satu keberuntungan mendadak meledak. tetiba meledak itu justru harus dijadikan pembelajaran, bagaimana ini kemudian bisa diduplikasi di masa depan. Polanya seperti apa? Apa yang bikin meledak? Dll.

Karena dengan begitu, maka terkait dengan poin pertama, akan bisa dilakukan inovasi berikutnya agar trennya terus naik. Akunnya bisa mengakuisisi audiens baru, dan mempertahankan audiens yang lama. Apabila sudah cukup besar, dan ternama. Bisa juga membuat tim sendiri untuk melakukan riset, dan menganalisa pola.

  • Investasi pengembangan kompetensi dan jejaring

Saya melihat banyak sekali, walau tidak bisa dipukul rata digital influencers yang masih sangat muda ini, ketika mereka memperoleh ketenaran yang diikuti dengan penghasilan yang melimpah. Mereka lebih banyak menggunakan uangnya untuk meningkatkan gaya hidup, yang kemudian polanya sama memamerkan dan menjual mimpi di kanal media sosialnya.

Mengapa mereka tidak menyisihkan sekian persen dari penghasilan itu untuk pengembangan kompetensi dan berjejaring? Misalnya mengambil kursus editing, meningkatkan keahlian akting dll. Ikut berbagai festival youtuber di luar negeri. Hal ini penting untuk mendapatkan inspirasi baru, jejaring bar,u yang kemudian bisa menghasilkan karya-karya baru dan inovatif serta kolaborasi. Karena industri yang mereka geluti, menuntut constant innovation, kalau perlu setiap detik dan tarikan napas ada yang baru, biar audiensnya loyal.

  • Pengelolaan bisnis secara profesional

Sebagai praktisi di industri pemasaran digital, saya sering mendengar keluhan dari tim, klien, para partner dan vendor betapa sulitnya bekerjasama dengan para digital influencers. Contohnya? Harga yang bisa berubah-ubah dengan cepat. Kedisiplinan kerja, mood yang tak bisa ditebak dll.

Digital influencer sering kali lupa, ketika sedang naik daun memang semua brand akan tunduk dan memaklumi, tapi setelah itu mereka akan membuat black list. Mereka tak akan lagi menggunakan, apalagi kalau tidak terlalu unik, dan mudah digantikan dengan yang lain. Di mana kontennya sama, harga lebih murah atau lebih mudah diajak kerjasama.

Kalau pekerjaan ini ingin dijadikan pekerjaan jangka panjang, maka harus bersikap profesional, termasuk juga soal harga. Karena tidak jarang ditemukan harga minggu ini, dan minggu depan sudah berbeda dengan alasan penambahan jumlah followers. Padahal di korporat pengambilan keputusan kan tidak bisa diputuskan secepat itu, butuh proses dll. Oleh karena itu manajemen harga misalnya harus dikelola dengan baik.

  • Literasi tentang uang dan investasi

Digital influencers sebagian kaget ketika pendapatannya meningkat drastis, tapi mereka lupa bahwa pendapatan yang tinggi ini tidak akan selamanya. Mereka perlu belajar mengelola uangnya, untuk tidak dihabiskan semuanya saat ini. Gaya hidupnya tidak perlu meningkat terlalu tajam, karena sebagian besar harus diinvestasikan untuk masa depan saat pendapatannya mulai menurun. Karena siklusnya ini sangat pendek, saya belum pernah menemukan hasil riset berapa lama siklus naik turun digital influencers, tetapi bisa diasumsikan ini bahkan lebih pendek dibandingkan pemain sinetron dan musisi.

  • Memperluas bisnis dan mengeksplorasi model bisnis dengan memanfaatkan fans

Kekuatan utama dari digital influencers adalah fans dan audiens. Selama ini mereka semua berkutat dan berlomba meningkatkan jumlah fans dan followers agar mendapat lebih banyak endorse, ujungnya adalah pendapatan. Oleh karena itu mereka harus terus mengeksplorasi kontennya.

Padahal model bisnis yang bisa dibangun dengan memanfaatkan aset fans dan audiens ini sangat beraga. Beberapa beauty blogger, akhirnya mengeluarkan produk make up-nya sendiri. Ini bisa jadi salah satu referensi. Ada juga yang membuat warung ayam geprek, toko kue dll. Beberapa influencer seperti Barry Kusuma bahkan tidak mengejar penghasilan dari endorse di media sosial, dia menggunakan Instagram hanya untuk memajang portofolio karyanya, sehingga dia mendapatkan banyak proyek dokumentasi Business to Business (B2B).

Ada ide lain? Atau mungkin ada yang jadi influencers mau berbagi pengalaman?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.