facebook

Pelajaran Dari Cambridge Analytica 1: 4 Hal Dasar Sebagai Konsumen Facebook Yang Perlu Anda Tahu

Kasus Cambridge Analytica yang lagi heboh dampaknya sangat luar biasa. Setelah kasus ini, persoalan data privasi akhirnya mencuat, dan menjadi perbincangan hangat. Kasusnya memang terjadi di Amerika Serikat. Tapi bisa jadi itu akan terjadi di Indonesia juga. Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah menutup akun media sosial adalah pilihan terbaik? Itu sama saja, kita tidak mau pergi kemana-mana, karena melihat risiko di jalanan macet, dan banyak kecelakaan.

Ketakutan dan kegalauan terjadi, karena kita belum memahami sebenarnya apa yang terjadi dengan big data dan media sosial. Saya rasa tulisan ini harus dibuat beberapa bagian. Bagian pertama saya akan bahas mengenai apa hal-hal fundamental yang perlu dipahami Anda sebagai konsumen, atau pengguna Facebook.

Semua data yang Anda unggah maka akan tersimpan oleh Facebook, bahkan belum tentu terhapus ketika akun dihapus

Anda harus tahu semua informasi yang diunggah di Facebook, termasuk pesan pribadi, foto, check in dll akan disimpan di server atau semacam komputer raksasa. Data dan informasi masa lalu yang mungkin sudah tidak diingat, atau bahkan tak ingin diingat masih terdokumentasi dengan rapi di sana. Dan ketika Anda menghapus akun Facebook misalnya, akun Anda memang tidak akan muncul, tetapi data itu masih tersimpan di server untuk dianalisa. Kecuali Undang Undang Privasi Data sudah berlaku di Eropa, individu bisa menuntut kalau datanya masih disimpan apabila akun media sosialnya sudah dihapus.

Data Anda yang sangat beragam dianalisa untuk targeting iklan

Data kita yang begitu banyak, digunakan untuk menganalisa preferensi dan ketertarikan kita terhadap produk dan jasa. Tujuannya adalah iklan yang kita terima hanya iklan yang relevan buat Anda. Karena dengan adanya iklan inila, maka kita bisa menggunakan Facebook secara gratis. Bahkan perbincangan kita di Whatsapp pun dianalisa, untuk kemudian memasang iklan yang sesuai di Facebook dan Instagram yang merupakan bagian dari Facebook group.

Facebook menganalisa alam bawah sadar setiap orang berkat kemampuan big data

Dengan tujuan untuk menyasar iklan yang sangat relevan, sebenarya Facebook sudah memetakan bahkan alam bawah sadar kita. Mereka punya banyak sekali variabel data, mulai dari dengan siapa kita berinteraksi, apa yang kita “likes”, ke mana kita pergi dan check in berkat fitur GPS, dengan siapa kita berfoto dll. Data-data ini membuat Facebook bisa jadi lebih memahami diri kita, dibanding diri sendiri.

Karena tanpa disadari kita dengan senang hati memasukkan semua informasi ke dalam platform mereka. Bedanya dengan media konvensional, di media konvensional riset hanya bisa melihat Anda sebagai bagian dari statistik sebuah kategori. Ketika big data dan media sosial, mereka bisa melihat data Anda sebagai individual.

Algoritma Facebook membuat timeline hanya berisi konten yang relevan berdasarkan analisis sejarah interaksi kita

Kalau Anda perhatikan timeline yang muncul di Facebook bukan yang paling baru, tapi konten yang diprediksikan oleh sistem Facebook akan kita sukai. Status dari teman dan FB Page yang sering kita likes, comments dan shares. Ini juga menggambarkan isu atau konten apa yang menarik bagi kita di masa lalu. Oleh karena itu jangan kaget, kalau tanpa sadar persepsi dan opini kita digiring oleh rekomendasi Facebook, tanpa kita sadar. Kita tidak independen sebenarnya dalam melakukan pilihan.

Kesadaran akan beberapa hal sederhana ini penting sekali, sehingga akan menjadi pijakan bagaimana Anda akan menyikapi Facebook. Saya akan menulis bagian terpisah, untuk membahas bagaimana kita meminimalisasi dampak negatif isu ini, ditulisan selanjutnya.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.