big-data-1

Pelajaran dari Cambridge Analytica 3: Waspada 5 Risiko Ini dari Big Data di Internet

Saya sudah menulis dua bagian sebelumnya, terkait dengan apa sebenarnya yang terjadi dengan algoritma Facebook, dan bagian kedua tentang bagaimana kita bisa melindungi data pribadi dan meminimalisi risiko. Lalu apa saja sebenarnya risiko yang mengintai? Saya merasa perlu untuk mengedukasi konsumen, karena sebagian besar belum pahamisu ini.

Pemahaman tentang risiko, akan membuat kita lebih bijak menggunakan internet dan media sosial. Semua baru terbelalak panik ketika skandal Cambridge Analytica, padahal ada banyak risiko lain yang wajib dipahami. Jadi kita bisa bijak dalam memberikan data, dan mengelola risiko.

Provokasi dan hasutan begitu mudah, karena Blind Self sangat mudah dicari, dan diakses orang lain

Ketika era digital seperti saat ini, data kita terkumpul semua di internet. Itu bukan cuma Facebook seperti yang sekarang lagi diributkan. Tapi juga Google, di bank, bahkan di aplikasi Go-Jek. Go-Jek mungkin lebih tahu makanan favorit Anda, dibanding pacar atau pasangan Anda. Kenapa? Karena Go-Jek tinggal melihat dari data pesanan Go-Food misalnya.

Artinya apa, ada pihak-pihak ketiga yang bahkan lebih tahu siapa kita, dibanding diri kita sendiri atau orang terdekat. Dalam Johari Window yang sudah dibahassebelumnya, ini berbahaya ketika data jatuh ke orang yang salah. Data ini bisa digunakan untuk memanipulasi kita, dihasut dan diprovokasi. Karena dengan data-data yang dikumpulkan, bisa terpetakan alam bawah sadar, ketakutan dan harapan kita.

Bully dan ancaman menggunakan data-data yang sangat pribadi yang ada di media sosial, atau dibocorkan

Pernahkah kita berpikir, foto-fotoanak kecil yang dianggap lucu lalu diunggah ke media sosial, bisa jadi boomerang ketika si anak jadi remaja. Foto itu dijadikan bahan tertawaan, dan teror dari teman-temannya. Data-data yang sangat pribadi bisa juga dibocorkan untuk menebar ancaman, meminta suap, menjatuhkan lawan bisnis dan politik dll. Hal ini mungkin sejak jaman dulu sudah dilakukan, tapi era digital dengan data yang terakumulasi di server, membuat pekerjaan ini menjadi lebih mudah dilakukan.

Data ini bisa juga digunakan untuk melakukan tindakan kriminal

Anda mungkin sekarang mulai akrab dengan berbagai tindakan kriminalitas yang terinspirasi dari internet. Misalnya pedofilia, lalu penculikan dan berbagai kejahatan lainnya yang diawali dengan mengintip data pribadi diinternet. Faktor yang paling sering terjadi, akibat data yang dibagikan di media sosial.

Pedofilia subur, karena banyak orang tua membagikan foto anaknya di media sosial. Penculik dengan mudah memetakan, karena informasi lengkap di mana anaknya sekolah, alamat rumah dicantumkan, check in lokasi yang sering dikunjungi dll.

Pengumpulan data yang mengerucut pada konglomerasi dan menjadi monopoli

Saat ini, kita melihat banyak perusahaan berbasis digital yang melakukan pengumpulan data pribadi konsumen. Lalu beberapa perusahaan berkonsolidasi, perusahaan kecil diakusisi oleh yang lebih besar. Ini yang terjadi saat ini misalnya di konglomerasi Facebook, Google dan Amazon di tingkat dunia.

Di Indonesia kita mulai melihat konsolidasi data di konglomerasi besar misalnya group Djarum, Lippo dll. Bayangkan kalau mereka mengkonsolidasikan data konsumen dalam satu grupnya. Ini akan memudahkan mereka untuk memanipulasi cara berpikir kita, untuk kemudian berjualan produk dan jasanya. Kedua, konsumen akan dibuat ketergantungan dengan produk dan jasa mereka, karena tidak ada pilihan lain. Misalnya saat ini, ketika kita hapus Facebook, apakah kita punya pilihan lain? Konsumen ketika dirugikan akhirnya tetap menggunakan, karena tidak punya alternatif.

Pengumpulan data terpusat juga berbahaya bila negara dikuasai penguasa otoriter

Kalau dulu saya belajar Hubungan Internasional, dalam politik ada yang disebut idiosinkretik atau sistem nilai individual dari pemimpin tersebut. Apabila negara dipimpin oleh pemimpin yang otoriter, dan dia punya kekuasaan atas data semua rakyatnya maka ada peluang besar untuk menyingkirkan musuh politik, pembersihan etnis, manipulasi untuk mempertahankan kekuasaan dll.

Oleh karena itu, dari poin risiko ini hal lain yang sangat penting adalah bagaimana peraturan pemerintah bisa meminimalisir potensi-potensi bahaya dari big data. Oleh karena itu bagian selanjutnya, saya akan menulis poin-poin penting yang harus diperhatikan regulator.

Baca Juga:6 Hal Tentang Big Data & Data Privasi Yang Harus Dipahami

Baca Juga:4 Buku Referensi Untuk Memahami Big Data

Apakah ada hal lain yang perlu ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.