facebook-politic

3 Kesimpulan dari Liputan Net TV Tentang Pilkada Jabar & Media Sosial

Sebenarnya liputan ini sudah tayang sekitar satu bulan lalu di mana saya diminta menjadi salah satu nara sumber untuk memberikan opini dari perspektif pemasaran digital, tapi saya baru teringat untuk menulis, dan menonton ulang di Youtube untuk bisa menganalisa, dan menyimpulkan bagaimana para politisi menyikapi disrupsi digital di politik, dan bagaimana mereka akan melakukan pendekatan ke pemilih terutama para milenial.

screenshot-tuhu-nugraha-01

Saya menulis ini dalam konteks pemasaran, karena pemilihan kepala daerah (pilkada) sebenarnya para calon sedang menjual ide dan visinya serta personal brand mereka ke para pemilih. Saya melihat ada3 hal menarik yang bisa disimpulkan dari wawancara dengan keempat calon kepala daerah.

Baca Juga:Digital Strategy untuk Personal Branding

 

Kesimpulan 1, media sosial sebagian besar dipersepsikan sebagai pencitraan

Bila menelaah dengan seksama beberapa politisi yang diwawancarai, semacam menjaga jarak dengan media sosial karena dianggap pencitraan, di mana konotasinya negatif. Pencitraan dipersepsikan membangun persona yang bohong, terlihat ideal biar dicintai padahal realitasnya tidak seperti itu.

Saya tidak sependapat dengan ini karena menurut saya, media sosial seperti yang saya ungkapkan diwawancara ini. Politisi harus otentik, karena media sosial begitu mudah dicek dan ricek datanya. Mereka yang tidak original, akan mudah tersandung.

Kesimpulan 2, ada yang menggunakan omnichannel, dan ada yang tidak percaya digital untuk pemasaran politik

Ini sah-sah saja, karena kita belum tahu juga mana yang lebih efektif sampai dengan hasil pilkada Jabar diumumkan. Tetapi yang menarik adalah melihat ada kubu yang memanfaatkan berbagai media yang berbeda untuk pendekatan pemilih dari generasi yang berbeda, ada yang percaya menggunakan cara konvesional karena percaya para pemilih ini sebagian besar masih menggunakan media konvensional, dibandingkan digital.

Kesimpulan 3, ada kandidat yang sudah paham memanfaatkan big data untuk memahami isu dan kemudian mengolah menjadi “jualan” ke pemilih

Ini sesuatu yang cukup menarik ketika kandidat bisa memetakan, dan sangat yakin isu apa yang relevan di segmen yang mana. Tentunya mereka mempunyai tim yang memanfaatkan big data, untuk mengkategorikan isu, lalu menawarkan solusi seperti apa.

Setelah menonton ulang saya jadi tertarik untuk mengetahui pendekatan mana yang akhirnya paling efektif memenangkan pilkada Jabar? Karena bisa dilihat dari pernyataan para calon gubernur, ada yang sangat agresif menggunakan pendekatan digital dan sosial media, moderat hingga sangat konservatif. Menurut Anda mana yang paling efektif?

Video lengkapnyabisa ditonton di sini:

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.