youtuber

9 Tips Bagi Orang Tua Mendampingi Anak Jadi Digital Influencer

Ketika pulangkampung liburLebaran kemarin, teman bercerita anaknya masih SD, terobsesi jadi Youtuber. Ini kesekian kalinya saya mendengar cerita orang tua, anaknya ingin jadi Youtuber, Instagram Influencer dll.

Saya lalu terbersit ide untuk menulis risiko dan potensi yang bisa dikembangkan? Karena biasanya orang tua jaman now, kalah dengan anaknya soal perkembangan digital. Padahal anak-anak hanya melihat sisi indahnya, dan hasil akhir saja. Misal jadi terkenal, punya uang banyak, bisa beli barang-barang mahal, dikirimin barang-barang dari para fans. Orang tua menurut saya, sebaiknya mendukung impian anaknya, tapi sekaligus menjadi mentor dan teman diskusi untuk memaksimalkan potensi itu.

Baca Juga:Jajaran Youtubers Indonesia Dengan Bayaran Tertinggi, Siapa Saja?

Tulisan ini sangat relevan untuk Anda yang punya anak-anak berumur 8 tahun hingga remaja 18 tahun, karena diumuran inilah asumsi saya mereka sudah mulai terobsesi secara eksplisit atau implisit mau jadi influencer digital, di saat yang sama mereka butuh didampingi untuk membangun personal brand mereka.

Berikut beberapa tips untuk mendampingi anak-anak menapaki karir digital influencer.

Satu, eksplorasi mau bikin konten apa dan di kanal digital mana

Orang tua sebaiknya mendampingi, dan mengajak anaknya berdiskusi apa passion anaknya? Apa talentanya? Untuk bisa mendapatkan panggung, di saat semua orang dengan mudah membuat panggung, maka harus punya keunikan dari sisi konten, dan juga konten ini mau dibikin di kanal mana? Apakah memulai dari Youtube? Atau Instagram? Carilah kanal yang memang pas dengan audiens yang mau disasar, sesuai dengan konten yang akan dibuat.

Kedua, biasakan dan dampingi untuk melakukan riset mendalam

Digital influencer yang hebat dan bertahan lama adalah yang punya keunikan dan otentik. Ini hanya akan bisa dilakukan, bukan sekedar ikut-ikutan tapi perlu melakukan riset mendalam, audiensnya suka yang seperti apa? Siapa kompetitornya? Trennya sekarang lagi apa? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Dampingi anak untuk mencari data-data tersebut, sehingga mereka pun tahu untuk menjadi profesional memang perlu melakukan standar pengerjaan yang juga tak kalah serius.

Baca Juga:Digital Strategy untuk Personal Branding

Ketiga, kasih pemahaman ada yang namanya proses untuk jadi hebat dan menghasilkan uang

Cita-cita anak ingin jadi Youtubers atau Instagram Influencers, atau bahkan buzzer di Twitter dan Blogger bisa mengajarkan anak-anak, segala sesuatu itu butuh PROSES. Ini adalah kompetensi yang langka di generasi Y dan Z. Generasi yang mikir semua bisa serba instan.

Ketika mereka memahami semua butuh proses, maka paham tidak ada sukses yang instan. Ketika di awal tidak ada yang menonton videonya misal, tidak mudah stres, dan menyerah. Mereka akan tertantang untuk mencoba, dan mempelajari lagi.

Keempat, inovasi adalah kunci

Konsumen digital itu cepat bosan sangat tipikal. Karena pilihan konten yang sangat beragam, dan selalu ada pendatang baru. Oleh karena itu, orang tua sebagai mentor perlu menekankan ke anaknya betapa penting inovasi konten yang dibikin.

Mereka perlu terus belajar hal-hal baru, melihat berbagai referensi. Ajarkan untuk mencari benchmark bukan hanya yang ada di Indonesia, tapi dari seluruh dunia. Karena internet ini tidak terbatas, biasakan mereka menggunakan internet untuk hal-hal yang produktif.

Bahkan bisa juga, mencari referensi dari bidang yang berbeda, bisa jadi ada elemen-elemen yang bisa dimasukkan ke dalamnya, sehingga menjadi stand out dibandingkan digital influencers sejenis di bidangnya.

Kelima, tekankan pentingnya kemampuan komunikasi untuk mengelola fans dan haters

Ketika membuat konten di media sosial, maka bersiaplah bahwa selalu akan ada fans dan haters. Kemampuan mengelola emosi, dan menjalin komunikasi yang baik kedua tipe audiens ini, sangatlah penting. Karena ini bagian alamiah dari komunikasi terbuka di internet. Sopan santun, dan etika tetap harus dijaga. Etika tidak tertulis yang ada di dunia nyata, bisa jadi pegangan untuk di dunia maya. Walaupun saat ini pranata sosial di dunia maya memang masih sangat kabur, dan belum ada.

Itu sebabnya media sosial sebenarnya memberikan batasan umur untuk mereka yang bisa membuat akun. Minimal umur biasanya 13 tahun, karena dianggap sudah cukup dewasa dan bisa mengelola emosi.

Lalu bagaimana kalau di bawah umur itu? Sebaiknya bikin konten berkolaborasi dengan orang tua. Atau akun atas nama anak, tetapi orang tua boleh mengakses, dan tahu password akunnya. Orang tua berperan sebagai mentor, dan mengawasi apabila ada hal-hal yang membahayakan.

Keenam, komunikasikan kemungkinan terjadi bullying, dan apa yang harus dilakukan

Saya pernah membaca buku, yang bercerita tentang anak SD yang bunuh diri, akibat bullying di Facebook. Orang tuanya tak pernah tahu terjadi bullying di media sosial, sampai akhirnya Si Anak bunuh diri.

Apabila anak membuat akun media sosial, maka potensi ini akan selalu ada. Hal ini perlu dikomunikasikan, apabila ini terjadi mereka harus bercerita ke Anda. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu blogger Zatali Gouw, ketika anaknya mengalami bullying di Youtube, yang dilakukan adalah mengajak anaknya berdiskusi. Apakah kuat dengan bullying ini? Kalau tidak kuat hapus saja akunnya. Saya pikir ini adalah masukan yang keren, anak sendiri yang mengambil keputusan, orang tua jadi mentor yang memberikan kebebasan anaknya untuk berpikir mana yang terbaik.

Ketujuh, diskusikan mengenai model bisnis dan bagaimana menghasilkan uang

Sebagian besar anak-anak ini terinspirasi menjadi digital influencers, karena sepertinya seru terkenal, dan punya banyak uang. Anda perlu perkenalkan selain harus kerja keras, anak-anak ini perlu tahu ada potensi apa saja yang mereka bisa lakukan untuk menghasilkan uang, selain terima endorse. Saya sudah pernah membahas mengenai model bisnis digital influencer di artikel ini.

Kedelapan, kasih masukan pentingnya memahami teori dasar dan meningkatkan keahlian serta pengetahuan

Saya banyak sekali melihat digital influencers yang cuma ikut-ikutan. Idenya sangat miskin inovasi, dan terkesan membosankan. Mengapa? Karena fondasinya tidak kuat. Anak-anak ini perlu diajarkan pentingnya memahami teori dasar, misal bagaimana fotografi yang baik, membuat video, edit video dll.

Ajarkan mereka untuk rutin belajar, dan meningkatkan kompetensi. Saat ini belajar kan bisa dari mana saja, generasi milenial lebih lihai memanfaatkan youtube, hingga webinar untuk mengakuisisi pengetahuan baru.

Kesembilan, kesadaran mengenai keamanan digital

Anak-anak perlu diajarkan pentingnya kesadaran tentang keamanan digital. Informasi apa yang sebaiknya tidak dibagikan di digital. Misalnya ada anak yang bikin live video tentang kamarnya atau rumahnya. Atau mereka selalu rutin check in di mana pun berada, ini sangat memudahkan mereka yang berniat jahat misalnya merampok atau menculik.

Apakah Anda punya tips lain, atau punya pengalaman? Yuk berbagi

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.