Source: http://www.bonakey.com/article/73

5 Tips & Strategi Mengelola Pemangku Kepentingan (Stakeholder) di Digital

Saya mengelola pemangku kepentingan (stakeholder) dengan cukup serius melalui berbagai kanal, tapi dalam tulisan ini saya hanya akan membahas dalam konteks digital. Sebagai seorang pebisnis, konsultan dan trainer saya punya banyak sekali pemangku kepentingan, yang harus dijaga hubungannya sehingga memberikan hasil yang optimal.

Oleh karena itu saya membaginya menjadi 5 langkah, dan tahapan strategi mengelola para pemangku kepentingan ini:

Pertama, definisikan tujuannya mau apa, sehingga lebih fokus apa yang tepat untuk dilakukan

Ketika berbicara dalam konteks kepentingan kita, maka ada banyak aspek. Saya bukan hanya fokus bicara soal bagaimana meningkatkan penjualan. Karena dalam proses meningkatkan penjualan, maka ada banyak variabel lain, misalnya, reputasi baik, otoritas dan kredibilitas, lalu kepedulian sosial atau bagaimana bisa mempengaruhi opini publik, bahkan kebijakan pemerintah.

Faktor-faktor ini harus didefinisikan dengan jelas terlebih dahulu, sehingga kita bisa melihat lebih jelas kanal mana yang paling sesuai, dan siapa pemangku kepentingan yang berpengaruh.

Kedua, siapa pemangku kepentingan yang hendak disasar

Setelah tahu apa yang ingin dicapai, maka saya mencari tahu siapa orang yang tepat untuk disasar. Ada begitu banyak pemangku kepentingan yang harus dikelola. Mulai dari klien, calon klien, pengambil keputusan di perusahaan, para influencers, orang yang berpengaruh di industri, aparat pemerintahan, jurnalis dll. Sering kali kita berpikir terlalu sempit, hanya membangun hubungan baik sama klien atau calon klien. Itu memang benar untuk kepentingan jangka pendek, tapi pemangku kepentingan yang lain juga pengaruhnya sangat besar berkontribusi jangka panjang, misalnya untuk membangun reputasi dan otoritas. Ketika Anda tidak punya reputasi dan otoritas yang kuat, maka akan mudah digantikan oleh orang lain.

Bagaimana contoh implementasinya? Saya ingin mengedukasi masyarakat pentingnya kerahasiaan data di digital, atau literasi digital. Saya akan memetakan sebenarnya siapa yang akan bisa menyuarakan lebih jauh soal ini. Maka saya melihat, bicara langsung dengan audiens akhir jadalah salah satu sasaran, sasaran lain yang tak kalah penting adalah media, dan aparatur pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

Ketika saya sudah tahu siapa yang akan jadi pemangku kepentingan, maka akan sangat memudahkan ketika pertanyaan berikutnya kanal digital mana yang paling tepat?

Ketiga, kanal mana yang tepat untuk mempengaruhi

Kanal digital sendiri sangat beragam. Kita harus jeli untuk memahami konteks, kira-kira kanal mana yang paling sesuai untuk menyampaikan isu. Kanal digital yang bisa digunakan ada groups messenger, Facebook, Twitter, Blog, Youtube, Instagram dll. Misalnya ketika saya mau membuka isu pentingnya kerahasiaan data, maka saya memaksimalkan blog sebagai alat utama untuk kemudian dibagikan ke pemangku kepentingan misalnya ke jurnalis, aparatur pemerintahan, dan yang paling penting adalah mesin pencari.

Jurnalis dan para pengambil kebijakan akan membuka mesin pencari, ketika mereka membutuhkan informasi tertentu. Dan saya ingin memastikan mereka akan menemukan tulisan saya, sehingga saya akan diundang untuk wawancara, atau memberikan masukan. Logis kan?

Keempat, bagaimana cara kita mengelola hubungan juga menentukan, tidak semua tentang materi tapi ketulusan

Ketika saya melempar isu soal menjaga hubungan baik dengan pemangku kepentingan, ada komentar yang menarik di Facebook “mahal”. Setelah saya tanya lebih lanjut kenapa begitu? Karena dalam persepsinya “entertain” klien saja sudah mahal, apalagi semua pemangku kepentingan.

Saya justru melihat, hadirnya kanal digital membuat interaksi dengan pemangku kepentingan jadi lebih mudah dan murah. Mengapa? Kita tidak perlu bertemu langsung, cukup dengan rutin menyapa di Instagram, Facebook atau LinkedIn.

Saya menggunakan media sosial dengan sifat alamiahnya untuk menjalin hubungan baik dengan semua pemangku kepentingan. Saya rajin menyapa dan menulis di kolom komentar. Apakah ini bukan bagian dari menjalin hubungan baik? Sehingga orang lain selalu mengingat kita? Intinya kan bagaimana menjaga hubungan baik, dan itu tidak berarti harus selalu mentraktir, ngopi bareng dll.

Kelima, frekuensi kontak bergantung seberapa penting Sang Pemangku Kepentingan, dan momentum yang pas, serta kontekstual

Saya mengelola banyak media sosial dari Instagram, Facebook, LinkedIn, blog dan juga bergabung di puluhan groups di WhatsApp, Facebook, Line dan Telegram. Saya tak mungkin memberikan perlakuan yang sama ke semuanya, karena waktu saya sangat terbatas. Kedua, terlalu sering komentar juga akan terlihat berisik dan lebay.

Lalu bagaimana? Saya membuat skala prioritas, mana yang akan dikelola dengan lebih intens, dan mana yang prioritasnya lebih rendah. Pemangku kepentingan yang sangat berpengaruh maka harus diperhatikan secara khusus, lebih intens berinteraksi di media sosial. Lebih banyak berkomentar di groups, dan juga membantu dan ikut berdiskusi ketika topiknya memang relevan.

Bagaimana bisa menentukan mana yang punya dampak lebih besar? Kita perlu melakukan eksperimen, dan mengukur dampaknya bukan hanya di online tetapi juga offline. Misalnya ketika saya menulis blog, saya tidak asal bagikan ke semua groups yang saya punya. Saya akan mengkurasi grup mana saja yang cocok dengan tema ini. Ada grup yang sangat strategik, maka konten yang sifatnya teknis dan how to tidak akan saya bagikan di sana. Tetapi groups yang sifatnya beragam, semua konten akan saya bagikan ke sana.

Konten yang saya bagikan di Instagram misalnya, hanya yang sifatnya lebih ringan dan mudah dicerna. Mengapa? Karena Instagram didominasi oleh generasi yang lebih muda. Tetapi saya juga perlu berkomunikasi dengan mereka, karena saya ingin meremajakan brand saya. Jangan sampai hanya diingat generasi senior, tapi dilupakan generasi muda. Karena 10-20 tahun ke depan, merekalah para pengambil keputusan.

Bagaimana menurut Anda, ada masukan? Atau mau berbagi pengalaman mengelola pemangku kepentingan? Yuk ditunggu di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.