generation-y

4 Tips Mengelola Generasi Digital di Dunia Kerja?

Digitalisasi dalam perusahaan, dan organisasi seperti beberapa kali pernah saya tuliskan, bukan melulu soal media komunikasi ke konsumen yang berubah, tapi berbagai aspek dalam organisasi. Salah satunya mengubah gaya kepemimpinan. Generasi Y sudah membanjiri dunia kerja. Generasi X yang saat ini sebagian besar  memegang tampuk kepemimpinan, harus bekerja dengan Generasi Y yang punya karakter yang jauh berbeda. Akibatnya sering kali timbul ketegangan, dan frustasi di kedua belah pihak.

Baca Juga: Tantangan Praktisi HR di Era Digital

Lalu bagaimana memimpin generasi baru ini? Ini beberapa hal yang harus dipahami Generasi X agar memunculkan potensi terbaik dari Generasi Digital:

Intangible Benefit For The Winner (FTW)

Perlu dipahami generasi digital lahir dengan begitu banyak pilihan, semua serba mudah, dan cepat. Ini adalah generasi yang punya aspirasi sangat tinggi. Ini bukan generasi yang mencari stabilitas, dan mengharapkan reward melulu soal uang, fasilitas semacam mobil, KPR, asuransi dll. Ini adalah generasi yang selalu butuh tantangan baru, generasi yang ingin ide dan inovasinya didengar dan bisa dieksekusi.

Mereka menghargai perusahaan, dan Bos yang punya visi yang jelas, terutama visi untuk membuat dunia yang lebih baik. Karena imereka tidak egois berpikir tentang diri sendiri, tapi mereka menginginkan dunia yang lebih baik. Bagi saya visi besar itu diterapkan di Upnormals Pingfans berupa, bagaimana semua tim punya kompetensi, keahlian dan karakter yang berstandar internasional. Tidak mudah menyerah, analisis yang kuat, dan selalu berpikir alternatif solusi, dibandingkan hanya mengeluh.

Saya selalu mengkomunikasikan ke tim, kita bersiap dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, jangan sampai posisi manajerial diisi oleh ekspatriat dari negara lain, karena kita tidak punya kompetensi itu. Saya menyiapkan mereka menjadi manajer, dan CEO handal masa depan.

Jam Kerja yang Fleksibel atau Remote Working Itu Idaman Milenial

Generasi digital tidak memisahkan antara kerja dan bermain. Bagi mereka yang penting adalah hasil, jadi jam kerja yang fleksibel itu sangat penting buat mereka. Kalau perlu bisa remote working. Saya mendengar cerita seorang teman di Bank Standard Chartered pun sudah memperbolehkan kerja dari rumah. Mead Johnson di Indonesia pun, juga memberlakukan jam kerja yang fleksibel.

Tentu saja, ini tidak bisa diberlakukan ke semua pekerjaan. Misalnya tim yang berhubungan langsung dengan konsumen, semacam teller, customer service, pekerja pabrik. Tapi di divisi-divisi lain seharunya sistem ini tidak menjadi masalah, asal diberikan saja standar dan deadline yang jelas kapan sebuah pekerjaan harus diselesaikan.

Otonomi dan kebebasan berkarya akan menghasilkan kinerja yang memukau

Generasi digital harus diakui lebih kreatif, inovatif dan melek teknologi. Kasih tahu saja garis besarnya, tantang mereka untuk memecahkan masalah dengan berkolaborasi. Maka Anda akan terpukau dengan apa yang bisa mereka hasilkan. Mereka punya internet dan Google untuk mencari informasi, belajar dari pengalaman ribuan orang dari seluruh dunia.

Mereka ingin melakukan sebuah pekerjaan dengan cara mereka, Anda cukup memberikan standar ekspektasi, dan tantang mereka untuk memberikan kejutan.Mantra yang akan membuat generasi ini kerja mati-matian adalah “Please surprise me with result beyond my standard!!”

Transparansi akan membuat mereka tahu harus ke mana dan mengapa

Generasi digital ini sangat kritis, dan ingin tahunya sangat tinggi. Mereka juga menganggap siapa pun itu sejajar. Jadi bagi generasi X mungkin dianggap sedikit kurang ajar. Sedikit-sedikit nanya mengapa harus begini dan begitu? Oleh karena itu untuk mengelola mereka, jadilah transparan. Jelaskan setiap alasan mengapa harus ada ini dan itu.

Tidak bisa hanya membungkam dengan kata-kata sakti. “Lakukan saja jangan banyak bertanya!!!” Karena ini seperti penghinaan, yang bagi generasi X ini sesuatu yang biasa. Bos itu dihormati, disuruh apa pun ya lakukan saja, karena dia Bosnya suka-suka dia.

Kalau ini dilakukan ke generasi digital, maka mereka akan memberontak, menganggap Bosnya otoriter dan hal paling ekstrim yang jamak dilakukan adalah mereka tanpa pikir panjang, resign aja walaupun belum ada pekerjaan baru.

Baca Juga: Trasformasi Digital

Punya pengalaman mengelola generasi digital? Yuk berbagi pengalaman di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini