Digital Business Transformation als Konzept auf einem Kompass mit vielen Symbolen

Tahapan Kematangan Transformasi Digital di Indonesia

Sejak sekitar satu tahun yang lalu saya tertarik dengan transformasi digital, & disrupsi digital. Saya mulai membaca buku dan literatur di internet terkait ini. Di sisi lain, saya menyimak dan berdialog dengan berbagai perusahaan di Indonesia, untuk menggali insight sejauh mana pemahaman mereka, dan kesiapan mereka menghadapi era baru ini.

Dan kebetulan selama beberapa bulan terakhir, juga melakukan roadshow dengan ILC, salah satu provider training, untuk sharing mengenai hal ini ke beberapa perusahaan finansial. Dari berbagai sesi sharing, bertemu langsung dengan petinggi perusahaan, maka saya melihat ada beberapa tahapan kematangan perusahaan, menyikapi transformasi digital.

Baca Juga: Transformasi Digital

Transformasi digital menjadi bagian yang urgen dan harus segera dilakukan oleh semua perusahaan terutama pemimpin pasar, diberbagai industri agar tetap relevan dan bisa beradaptasi dengan jaman. Karena perubahan yang terjadi bukan hanya sekedar kanal komunikasi dan pemasaran.

Manajemen Puncak Generasi X yangmasih belum melek digital dan paham disrupsi digital

Ini adalah tahapan yang paling awal, sangat wajar apabila para manajemen puncak perusahaan saat ini masih dipegang oleh Generasi X. Mereka ada yang sudah menyadari perlunya melakukan transformasi, baik itu karena diaseseorang yang visioner, atau karena dipaksa oleh keadaan.

Tapi jangan salah masih banyak yang masih adem ayem, mereka pikir Belanda masih jauh. Pertama mereka tidak banyak bersinggungan dengan dunia digital, kedua industrinya juga masih adem ayem belum ada guncangan dari start up digital. Jadi ini kelompok yang paling rentan terjungkal, ketika industrinya terjadi kontraksi, dan disrupsi.

Baca Juga:#BookReview: Big Bang Disruption

Tidak tahu harus memulai dari mana

Tahap berikutnya yang saya lihat, dengar dan amati. Mereka tahu harus berubah, disrupsi digital dari bisnis start up digital mulai jadi anak macan yang siap menggigit, tapi bingung harus memulai perubahan dari mana. Hal itu menjadi lebih sulit ketika organisasinya sudah sangat besar.

Mereka gamang, ingin berubah tapi bingung harus mulai dari mana, apa dulu yang harus diubah? Bagaimana cara berubahnya? Apakah perubahan ini pasti akan berhasil? Karena akan mengorbankan cara lama yang selama ini sudah dikenal, dan sudah terbukti.

Budaya perusahaan tidak mendukung

Ini tahap berikutnya yang saya amati, pimpinan puncak sudah mencanangkan untuk melakukan transformasi, semangat menggebu-gebu. Tapi di bawahnya adem ayem. Mengapa? Karena budaya perusahaannya, yang menjadi lokomotif perubahan tidak ikut diubah.

Misalnya, dalam transformasi digital maka diperlukan banyak eksperimen, dan inovasi terus menerus. Bagaimana mungkin itu dilakukan, bila sistem reward &punishment, serta budaya perusahaan tidak toleran dengan kegagalan.

Mereka yang gagal akan langsung kena hukuman. Akibatnya tim selalu bermain aman, yang penting Key Performance Indicator (KPI) kinerja mereka selalu bagus. Kecuali perusahaan akhirnya mengubah sistem budaya dan penghitungan kinerja yang membuat inovasi menjadi sesuatu yang dihargai, dan eksperimen dan mencoba hal-hal baru apa pun hasilnya, akan dihargai dan kemudian dievaluasi bersama.

Tidak ada agen perubahan di setiap divisi

Transformasi digital tidak bisa dijalankan satu dua orang, harus ada sebuah tim yang akan bekerja bersama-sama, untuk membawa perubahan. Sering kali yang saya lihat, terjadi stagnasi karena tidak ada agen perubahan di tiap divisi yang disebar. Mereka ini penting untuk disisipkan, untuk mendorong dan menginspirasi divisinya berubah.

Karena pada dasarnya kita malas untuk berubah, kalau tidak dipaksa. Karena perubahan berarti keluar dari zona nyaman yang sudah kita tahu selama ini.

Perusahaan yang sudah melakukan transformasi digital

Ini tahapan yang paling matang, di mana mereka sudah sangat lincah secara organisasi menyambut era digital. Secara organisasi mereka cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, membawa perubahan bukan hanya sekedar eksis di kanal digital sebagai marketing channel. Tetapi juga budaya perusahaan, inovasi produk dll sudah diarahkan ke digitalisasi.

Kita bisa melihat indikatornya, misalruangan kerja yang lebih informal, budaya perusahaan yang lebih fleksibel, inovasi produk berbasis digital deras diluncurkan.

Mereka juga merangkul berbagai start up digital, membuat inkubasi bisnis start up digital sebagai bagian dari strategi untuk growth engine berikutnya sekaligus untuk meredam mereka ini tidak menjadi kompetitor yang akan menggigit, dan mengalahkan.

Di Indonesia para perusahaan konvensional yang sudah bertransformasi ke digital adalah industri media dan telekomunikasi. Karena mereka juga generasi pertama yang terimbas disrupsi digital. Industri finansial sepertinya mulai menggeliat tahun ini, untuk melakukan transformasi juga, bila diilihat tren dari pemain-pemain besar semacam BNI, BCA dan Mandiri. Indikatornya mereka mulai banyak membuat inovasi produk berbasis digital, dan membuat venture capital sendiri untuk merangkul bisnis start up digital fintech.

Ada yang mau menambahkan? Menyanggah? Atau memperkuat argumen ini?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO) Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATIS di sini