digital-dispruption

4 Jurus Market Leader Beradaptasi di Era Disrupsi Digital

Disrupsi digital terjadi di mana-mana, dan akan menggulung semua industri, korban yang paling mencolok dan nyata di Indonesia adalah Bluebird. Sebuah perusahaan raksasa yang terkena badai, dan lalu limbung oleh pendatang baru. Contoh kasus lain sebenarnya juga banyak, misalnya Pos Indonesia, yang terlambat mengantisipasi perubahan perilaku konsumen yang tidak lagi berkirim surat, digantikan dengan e-mail, messenger dll.

digital-disruption-in-finance-7-638

Pertanyaannya kemudian bagaimana perusahaan yang sudah ada saat ini, bisa bertahan di era disrupsi? Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk beradaptasi dan bertahan sehingga nama besarnya tidak hanya sekedar legenda seperti Kodak atau Nokia.

Tahu kapan gelombang disrupsi akan menghantam

Setiap perusahaan yang sudah eksis dan menjadi penguasa pasar, harus punya orang-orang yang visioner, dan mampu memprediksi masa depan. Individu ini bisa jadi ada di internal perusahaan atau dari eksternal. Mereka bisa jadi adalah tim riset, manajemen puncak, atau karyawan dari berbagai divisi.

Terkadang mereka yang visioner dan bisa memprediksi justru dianggap sebagai karyawan yang “nakal”, dan suka mempertanyakan sesuatu. Penting bagi perusahaan untuk lebih peka melihat orang semacam ini, karena mereka adalah aset bagi perusahaan.

Kalau perlu mereka diberi tugas khusus untuk melakukan analisa perubahan lingkungan bisnis, termasuk juga datang ke berbagai acara dan festival start up dan komunitas start up, untuk melihat inovasi baru dari start up ada yang akan berpotensi menjadi pesaing langsung, atau tidak langsung bagi keberlangsungan perusahaan.

Memperlambat proses disrupsi

Kalau kita sudah tahu ada start up yang berpotensi menjadi pesaing. Maka ada dua pilihan, apakah akan mengakuisisi start up tersebut, atau mengulur waktu dan memblokade sumber daya sehingga kita mampu membuat tandingannya, dan menguasai pasar.

Ini bisa kita lihat bagaimana strategi Facebook misalnya, mereka mengakuisisi Instagram karena akan berpotensi mendisrupsi Facebook di masa depan. Lalu mereka membuat fitur yang sama persis dengan Snapchat, karena gagal proses akuisisi Snapchat oleh Facebook.

Ketika masih dalam bentuk Minimum Viable Prototype (MVP) atau dalam tahapan awal, dan kita sudah bisa memprediksi ini akan berpotensi besar, maka saat itulah harus segera mengambil langkah. Apakah mau akuisisi, atau bikin yang serupa. Kalau sudah tumbuh besar, dan menghasilkan uang dari model bisnisnya, maka bisa jadi pemimpin pasar yang akan terlindas. Dan ini sering kali tidak membutuhkan waktu yang lama.

Bersiap untuk exit strategy

Disrupsi kadang datang sangat cepat, dan tidak terdeteksi. Ketika dalam posisi ini, bisa jadi segera keluar dari industri adalah pilihan yang paling tepat, jual lini industrinya dan fokus ke bisnis lain yang lebih menguntungkan. Tidak perlu terlalu banyak romansa dan sentimentil karena merasa ini adalah bagian dari legenda perusahaan dll. Karena bisa akan menggerus perusahaan secara keseluruhan.

Contohnya mungkin IBM, dulu dikenal sebagai perusahaan penyedia perangkat keras komputer dan piranti lunak. Ketika era digital datang, mereka dengan cepat menjual lini bisnis perangkat keras ke Lenovo, dan fokus pada piranti lunak dan konsultan.

Diversifikasi Bisnis

Ketika bisnis masih berjaya, dan sudah melihat ada tren disrupsi harus segera melakukan diversifikasi bisnis ke berbagai hal yang dianggap lebih berpeluang. Peluang yang bisa menjadi cash cow berikutnya. Itu sebabnya jangan heran hampir semua konglomerasi di Indonesia juga punya unit bisnis inkubator start up. Saya pernah memberikan training di grup Indika Energy, yang punya banyak start up digital juga sebagai diversifikasi untuk tulang punggung masa depan.

Perusahaan telekomunikasi semacam telkom, indosat oredoo, dan XL juga sudah pasti punya inkubator perusahaan start up. Bahkan sekarang beberapa bank pun berinvestasi di fintech, karena ini jadi cash cow masa depan, dan juga mengantisipasi disrupsi di masa depan. Dari pada mati dikalahkan kompetitor, lebih baik mati dikalahkan sesama anak perusahaan sendiri.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO)Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdi sini