3d-printing-creation

3D Printer Akan Merevolusi Industri, Apa Saja & Mengapa?

Suatu hari ketika sedang membuat materi inhouse training tentang Digital Transformation, saya mencari video di Youtube tentang 3D Printer, dan menemukan video ini yang membuat tercengang. Sebaiknya tonton dulu video ini, sebelum melanjutkan membaca.

Reaksi pertama saya? “Wooww speechless”. Dan berpikir ini akan menjadi revolusi yang sangat dahsyat, dan menurut saya, ini akan menjadi revolusi besar setelah revolusi industri di abad ke 18. Informasi lebih lanjut tentang Revolusi Industri bisa dibaca di sini.

Baca Juga:4 Jurus Market Leader Beradaptasi di Era Disrupsi Digital

Apa saja yang akan mengalami kontraksi dan revolusi, dan siapkah kita mengantisipasi era ini?

Semua orang bisa memproduksi barang

Kalau saat ini Anda sudah mengalami era revolusi media, di mana sebelumnya media hanya bisa dimiliki sekelompok pengusaha, atau dikuasai pemerintah. Dengan hadirnya internet, blog, media sosial dll, maka muncul era baru di mana semua orang punya suara yang sama. Semua orang bisa membuat medianya sendiri, menyuarakan pendapat dan mempengaruhi tanpa harus menunggu diterbitkan Gramedia, tanpa harus deg degan akan lulus dari editor Kompas, Tempo dll.

Berikutnya akan hadir revolusi dalam produksi barang. Saat ini, mereka yang bisa membuat produk misalnya sabun, shampoo, buku, dan perlengkapan lainnya haruslah mempunyai pabrik yang sangat besar, dan produksi massal. Mengapa? Karena ini adalah era warisan Revolusi Industri. Ketika barang bisa menjadi lebi murah, apabila dibuat oleh mesin.

Tapi investasi untuk membeli mesin tentunya tidak murah, sehingga mereka yang punya modal besar, yang akan mampu memproduksi barang. Namun setelah adanya 3D Printer yang bisa membuat apa pun, dan ingat yang paling penting BIAYA nya jauh lebih murah. Apakah produksi massal masih relevan? Karena konsumen bisa disuguhi produk yang sangat kustom, dengan harga yang bersaing? Apakah ketika itu kita masih butuh Indofood? Unilever? P&G? Ini akan menjadi pertanyaan yang menarik.

Revolusi Kustomisasi

Era industrialisasi ditandai dengan produk yang sifatnya massal, dan murah. Oleh karena itu Ford edisi pertama Ford T, yang berwarna hitam menjadi hit di masanya. Karena bisa merevolusi produksi kendaraan bermotor. Demi mengejar efisiensi dan harga yang murah, maka semua berwarna hitam. Apakah semua konsumen ingin warna hitam? Tentu tidak. Tapi mereka harus berkompromi terima warna hitam, demi harga yang terjangkau.

Lalu bagaimana ketika hadir 3D Printer yang akan bisa memproduksi produk yang sangat unik, sesuai imajinasi masing-masing, dan harganya murah? Tentu saja semua konsumen akan beralih ke sini. Era kustom sudah mulai terlihat misalnya di selera fashion, hingga musik karena generasi kekinian diterpa dengan ragam pilihan yang lebih banyak. Ke depan semua bisa kustom, termasuk mobil yang dikendarai. Kustom dari segi desain bahkan mungkin fitur, bukan hanya sekedar berbeda cat mobil dan aksesoris seperti yang ada saat ini.

Kekuatan Merek & Faktor Emosional Akan Berbicara

Ketika semua bisa membuat produk, lalu apa yang membedakan? Bukan hanya sekedar harga termurah, karena bisa jadi itu sudah ngga laku lagi. Perusahaan raksasa mendadak akan bersaing dengan perusahaan kecil, yang bisa lebih kustom, dekat dengan konsumennya, penjualnya lebih mengenal konsumen secara mendalam.

Merek dan faktor emosional yang akan menjadi panduan dan preferensi konsumen. Karena itu yang akan membedakan satu sama lain. Karena faktor rasa, komposisi dll saya yakin akan mudah ditiru. Karena ketika ini hadir, proses riset dan pengembangan juga akan semakin murah, trial & error bisa terus dilakukan karena risiko dan biayanya rendah. Riset bisa dilakukan di garasi rumah oleh ibu rumah tangga, tak perlu lagi laboratorium yang canggih dan mahal.

Ini tentunya akan merevolusi bagaimana produk berinteraksi dengan konsumennya, di mana biasanya lebih memfokuskan penyebaran informasi yang sifatnya masif, dan menjangkau semua orang. Pembelajaran tentang teori pemasaran dan periklanan, juga harus beradaptasi dengan perubahan jaman.

Saat ini misalnya sudah banyak digital influencer atau artis televisi yang membuat produk, lalu memasarkannya sendiri via media sosial ke para penggemar loyal mereka. Misalnya Lizzy Farah (seorang beauty blogger) membuat produk lipsticknya sendiri. Ke depan tentunya akan menjadi lebih masif, karena saat ini masih terkendala dengan proses produksi.

Mereka tetap bergantung dengan maklon ke perusahaan besar. Ketika 3D Printer marak, dan harganya makin terjangkau, maka apa yang akan terjadi?

Regulasi yang harus mengantisipasi ledakan ini

Regulasi sering kali tergopoh gopoh dalam mengantisipasi perubahan. Padahal ini sangat diperlukan sehingga tidak terjadi chaos. Ketika terjadi revolusi transportasi publik, dengan hadirnya Uber. Atau diindustri perhotelan dengan Air B&B saja sudah banyak menimbulkan gejolak di berbagai negara, bukan cuma di Indonesia. Atau revolusi media, yang menyebabkan negara pun tergopoh gopoh menangani hoax.

Lalu bagaimana ketika era di mana semua orang bisa memproduksi barang? Bagaimana dengan proses standarisasi produk? Yang tidak akan membahayakan konsumen? Bayangkan ketika siapa saja bisa memproduksi mobil. Bagaimana faktor keamanannya? Apakah tidak akan merugikan orang lain di jalanan? Bagaimana dengan aspek lingkungan? Atau misalnya memproduksi makanan? Apakah berbahaya bagi kesehatan? Bagaimana proses produksinya? Higienis atau tidak? dll.

Sistem & Industri Pendidikan Juga Harus Beradaptasi

Sistem pendidikan yang ada saat ini kan menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan era Revolusi Industri IMHO. Ketika industri harus mengejar membuat sesuatu yang masif, maka dibutuhkan spesialisasi. Karena dengan menjadi spesialis dan keahlian di ilmu tertentu, maka akan bisa mengerjakan dengan lebih efisien.

Bagaimana dengan era baru produksi nanti, pasca 3D printer? Seorang dokter gigi bukan cuma harus tahu anatomi gigi, tapi paham multi media, dan teknologi untuk membuat gigi palsu misalnya. Seorang arsitek harus punya pemahaman teknologi, untuk bisa mencetak rumah.

Bayangkan kalau ini terpisah-pisah, bisa jadi hanya sekedar bikin desain rumah yang lucu dan keren, tapi setelah beberapa bulan ambruk. Karena strukturnya tidak diperhitungkan.

Industri baru yang nanti terbangun sepertinya bukan lagi, sebuah organisasi yang besar. Di mana di dalamnya terdapat struktur yang rigid, dan terspesialisasi. Era ke depan saya yakin adalah sebuah organisasi yang kecil, dan bergerak lincah lintas batas. Dan bisa cepat merespon perubahan, oleh karena itu proses pembelajarannya juga tidak bisa terkotak-kotak dan terspesialisasi.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO)Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdi sini