data-privacy

6 Hal Tentang Big Data & Data Privasi Yang Harus Dipahami

Kita banyak melihat ulasan berita dan seminar membahas big data, semua begitu antusias terkait ini. Bagaimana data akan menjadi tambang emas berikutnya menghasilkan uang. Tapi tak banyak yang membahas big data, kaitannya dengan data privasi sebagai konsumen. Di sisi lain, audiens di Indonesia sepertinya tidak terlalu peduli dengan isu privasi.

Ini bisa terjadi karena dua hal, pertama tidak ada edukasi mengenai konsekuensi negatif dari isu ini. Kedua, masyarakat Indonesia sifatnya komunal, tidak telalu menonjolkan individualisme dan privasi. Sementara itu, data privasi penting karena kehidupan kita semakin bergantung ke internet, hampir semua data terekam. Mulai dari aktivitas harian, misalnya via GPS di handphone, sampai dengan pola konsumsi dari pola belanja di internet dan e-money. Interaksi sosial kita terekam di media sosial.

Oleh karena itu saya akan menulis, mengenai beberapa hal dasar terkait big data dan data privasi yang perlu dipahami. Sehingga ke depan, kita lebih bijak ketika memberikan data, atau mengunggah sesuatu di internet.

Unggah hanya konten yang tak akan disesali di masa depan

Manusia akan terus berubah, dan hak untuk terlupakan atas apa yang kita lakukan, kita suarakan di masa lalu, menjadi sirna ketika sudah terkait di internet. Karena apa pun yang kita katakan, akan terekam jejaknya di internet. Walaupun sudah dihapus, maka bisa jadi orang sudah screen capture, atau tanpa disadari data-data yang kita unggah 10 tahun lalu, jadi batu sandungan di masa sekarang.

Misalnya dulu jaman kuliah, berfoto seronok, atau pesta pora tak terkendali. Siapa yang tahu di masa sekarang Anda jadi figur terkenal? Lalu foto itu dijadikan bahan untuk menjatuhkan oleh lawan. Atau karena ketidakmampuan menjaga emosi, kita tak sadar dulu pernah mengunggah hal-hal yang penuh kebencian, keluhan dll, ternyata menjadi batu sandungan ketika akan ada promosi jabatan. Pernah terpikir akan hal ini?

Big data yang membuat kita tak independen menentukan pilihan

Anda mesti memahami big data memang akan membuat Anda lebih mudah menentukan pilihan, karena internet akan memberikan rekomendasi sesuai dengan selera, dan ketertarikan Anda di masa lalu. Tapi sadarkah ini terkadang juga menjerumuskan?

Misalnya? Timeline Facebook Anda, hanya diisi oleh berita-berita yang Anda suka. Entah itu beritanya benar atau salah. Iklan yang muncul sesuai dengan perilaku belanja, situs web yang sering dibaca dll. Bahkan misalnya saya membaca buku via Kindle. Kindle memberikan rekomendasi buku bacaan, berdasarkan apa yang sering saya baca.

Intinya kita diarahkan hanya melihat apa yang menarik menurut kita di masa lalu. Kita merasa tahu banyak, padahal tahunya ya hanya itu-itu saja. Kita merasa punya otoritas untuk memilih apa yang mau dibeli, padahal kita sudah diatur oleh mesin, tanpa disadari. Bahkan hasil pencarian di Google pun, atas nama personalisasi bisa berbeda setiap orang tergantung perilaku kita dan juga teman-teman kita.

Semakin banyak data, semakin menyenangkan untuk pelaku kriminal

Orang yang berperilaku kriminal bisa hadir di mana saja. Mereka bisa merampok dalam kehidupan nyata, atau juga di internet. Atau campuran mereka merampok di dunia nyata, berdasarkan data yang kita sebar di internet.

Bayangkan bila Anda memasukkan semua data di Facebook, atau Twitter dll. Semua mulai dari anggota keluarga, hobi, alamat rumah, aktivitas harian. Bukankah ini akan dengan mudah perampok mengatur, kapan harus merampok?

Atau mereka yang sering mengunggah foto anaknya di internet. Apakah sudah dipikirkan dengan bijak?Ini patut dipertimbangkan untuk tidak sembarangan, apalagi anaknya cuma pakai celana, atau sedang mandi. Ini akan mengundang para pedofil, yang bisa hadir di mana saja. Dan bisa juga dari lingkungan terdekat.

Data privasi Anda diperjualbelikan tanpa sepengetahuan Anda

Anda mungkin sudah cukup terganggu sering ditelpon oleh agen Kartu Kredit yang tak pernah merasa memberikan nomor ke mereka. Situasi lain, misalnya ada banyak surel masuk, tanpa pernah kita merasa memberikan data kita.

Tapi pernahkah membayangkan kalau data kita yang diserahkan, misalnya ke berbagai perusahaan di internet lalu dijual ke pihak ketiga, untuk berbagai kepentingan misalnya credit rating (kelayakan Anda mendapatkan kredit), untuk targeting iklan dll. Apakah ini bisa terjadi? Tentu saja sangat bisa terjadi.

Potensi kebocoran data dari internal dan luar perusahaan

Data yang kita serahkan ke berbagai perusahaan terutama yang berbasis internet, saat ini semakin banyak. Anda perlu paham juga, tiap perusahaan punya tingkat pengamanan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sekarang saya sangat memperhatikan ketika akan memberikan data, perusahaannya sudah dilengkapi dengan sertifikasi keamanan atau belum. Biasanya ini ditampilkan di halaman depan sebelum memasukkan data.Ini penting untuk mencegah kebocoran data akibat serangan hacker dari luar yang mengincar data ini untuk menghasilkan uang atau sekedar kepuasan batin mencuri data lalu mempublikasikan.

Ini belum lagi kaitannya dengan kebocoran yang dilakukan oleh karyawan internal perusahaan, perusahaan yang tidak punya sistem yang bagus dan Standard Operating Procedure (SOP) yang mumpuni akan mudah terjadi kebocoran.

Indonesia belum punya Undang Undang (UU) Data Privasi

Berita buruk lainnya Indonesia belum punya UU terkait data privasi dan perlindungan konsumen. Saat ini yang ada hanya Peraturan Kemenkominfo di mana ini hanya sebatas himbauan. UU data privasi yang sudah cukup mumpuni dan relevan di era big data saat ini adalah yang dimiliki oleh Uni Eropa yang telah disahkan dan akan diberlakukan di Mei 2018.

Perlindungan konsumen biasanya terkait hak untuk dihapus jejaknya secara digital apabila tidak lagi bergabung dengan aplikasi atau web tertentu dll.

Apakah ada hal lain yang perlu ditambahkan? Atau punya pengalaman yang ingin dibagikan kaitannya dengan data privasi? Ditunggu ya di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Executive Officer (CEO)Upnormals Pingfans

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdi sini