expertise-2

#BookReview: The Death of Expertise, Untuk Memahami Fenomena Hoax & Anti Media Saat Ini

death-of-expertiseAnda semua mungkin saat ini bertanya-tanya, mengapa di Indonesia kok banyak sekali berita hoax? Mengapa banyak perkelahian dan debat-debat tak logis di media sosial? Atau apa yang terjadi, audiens saat ini tidak percaya dengan media, tapi percaya dengan berita hoax atau berita yang tersebar di internet yang justru tidak jelas sumber dan kredibilitasnya.

Jujur sebelumnya saya sering frustasi, dan sangat terganggu dengan perdebatan dan komentar, yang tak logis di media sosial. Perdebatan yang cenderung menjadi debat kusir. Lalu saya menemukan buku ini. Ternyata persoalan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, penulisnya Thomas M. Nichols membahas fenomena yang sama, yang terjadi di Amerika Serikat.

Setelah membaca buku ini, saya jadi paham bagaimana menyikapi keadaan. Walaupun penuli, baru sampai tahap menjelaskan apa yang terjadi, beliau pun belum punya solusi apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan perubahan sosial ini.

Ada beberapa penyebab keributan dan gejolak sosial yang terjadi saat ini, sebagian besar diakibatkan hadirnya internet dan media sosial. Berikut faktir-faktor yang dijelaskan di buku ini:

Expert & Laypeople bertemu dalam satu ruang yang sama

Tak pernah dalam sejarah para expert dan laypeople berada dalam satu ruang yang sama, dan bisa langsung berdiskusi sebelum hadirnya media sosial. Expert di sini didefinisikan dengan jelas oleh penulis sebagai, orang yang punya keahlian di bidang tertentu, yang telah teruji. Thomas M. Nichols mendefinisikan expert harus memenuhi kriteria pengakuan yang diperoleh dari kombinasi pendidikan, bakat, pengalaman, dan afirmasi dari komunitas keahliannya. Sementara laypeople adalah kalayak umum, yang tidak punya pengetahuan khusus di bidang tertentu.

Keduanya lalu bertemu di media sosial, di mana audiens umum harus diakui punya pemahaman yang sangat terbatas terhadap berbagai topik, sering kali menjadi pemicu konflik dengan para expert. Ketika di media sosial, orang cenderung akan mempertahankan pendapatnya, walaupun ada berbagai macam fakta, dan data yang berlawanan.

Perdebatan akan terus terjadi karena kedua belah pihak, expert dan laypeople akan bertahan dengan pendapatnya masing-masing. Dan ada tren juga masyarakat merasa tidak percaya lagi dengan otoritas dan kredibilitas yang dimiliki expert. Padahal ini sangat berbahaya, karena expert butuh berbagai proses untuk mencapai tingkatan yang dimiliki.

Pendidikan tinggi yang makin memanjakan, konsumen selalu benar

Penulis juga mengkritik sistem pendidikan tinggi Amerika yang disindir sebagai “Luxury Vacation”, karena pendidikan telah menjadi industri. Perguruan tinggi, lebih banyak menawarkan dan mengiming-imingi fasilitas penunjang pendidikan, misalnya lapangan basket yang keren, kegiatan mahasiwa yang banyak, asrama yang mewah dll.

Ini juga diperparah dengan inflasi nilai, di buku ini dituliskan bagaimana nilai di universitas ternama di Amerika, bahkan sekelas Harvard mengalami inflasi. Dosen direview juga oleh mahasiswa, dan ketika memberikan nilai yang tidak bagus akan kena teguran. Itu sebabnya inflasi nilai terjadi. Dampaknya apa? Terjadi penumpulan daya kritis lulusan universitas dan kompetensi akademik, karena harusnya yang diutamakan adalah proses berpikir yang benar, berpikir kritis.

Pertanyaannya kalau di Amerika terjadi semacam ini, bagaimana di Indonesia? Saya yakin keadaannya lebih parah. Saya tidak punya data kuantitatif pendukung, tapi kita bisa lihat sendiri dari hasil pendidikan tinggi di Indonesia.

Googling membuat semua orang merasa sebagai expert

Ini sepertinya sudah menjadi gejala umum. Audiens merasa sudah sangat ahli, dan cas cis cus membahas sesuatu ketika Googling. Mereka tak percaya apa yang dikatakan dokter, apabila itu berlawanan dengan apa yang mereka temukan di internet.

Satu hal yang perlu dipahami apa-apa yang ada di internet belum tentu benar, internet menyediakan banyak sekali informasi. Tapi informasi itu belum tentu fakta yang layak dipercaya, diantara banjir informasi, Anda harus bisa memilah mana yang benar dan salah, mana yang bisa dipercaya atau tidak. Oleh karena itu seorang expert dibutuhkan, menurut Thomas M. Nichols.

Era baru jurnalisme, ketika audiens mencurigai media

Anda mungkin sama frustasinya dengan saya, ketika melihat orang-orang yang lebih percaya dengan berita yang disebarkan oleh blog atau media yang tidak jelas kredibilitasnya, dibandingkan dengan media yang sudah teruji, punya redaksi yang jelas dll.

Saat ini banyak sekali audiens yang tidak percaya dengan media, lebih percaya berita hoax dll. Ini ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia, di Amerika pun ini jadi fenomena yang melelahkan. Audiens lebih percaya dengan berita yang memvalidasi cara pandang yang sudah dimiliki sebelumnya. Apabila media memberitakan berlawanan, langsung dicurigai. Dianggap tidak independen, berpihak pada kepentingan tertentu dll.

Ini fenomena global, ketika hadirnya internet, dan semua orang bisa menjadi penulis dan melaporkan sebuah peristiwa. Audiens menjadi apriori terhadap media-media “konvensional”. Mereka menyukai informasi live report sesama netizen, yang dianggapnya lebih independen, dan menyuarakan suara mereka juga.

Padahal mereka lupa, media punya etika dan aturan yang jelas untuk sebuah pemberitaan. Sementara informasi dari netizen dll, seringkali kurang bisa dipercaya, karena tidak punya bekal ilmu jurnalistik, dan editor yang akan menyaring. Ini bisa sangat berbahaya, bahkan menyesatkan.

Saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini, biar lebih bisa berempati dan tak larut dalam debat kusir di media sosial. Di sisi lain, para pengambil kebijakan, dan orang-orang media perlu membaca buku ini, untuk kemudian membangun kembali kepercayaan audiens ke media. Dibandingkan mempercayai apa yang tersebar dan berserak di internet, tapi belum ketahuan kredibilitasnya. Inti dari semuanya, era baru ini membawa sebuah konsekuensi kompetensi baru, yaitu literasi digital.

Apakah ada yang sudah membaca buku ini? Ada komentar? Ditunggu ya.

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.