business-internet-connection

#BookReview: Content Trap, Strategi Untuk Menghadapi Disrupsi Digital

content-trap

Buku ini, jujur lumayan berat untuk dibaca, tapi sangat menarik, dan memang perlu dibaca apabila Anda adalah para pengambil keputusan di sebuah bisnis, atau seorang pengusaha. Buku ini memberikan sebuah konsep dan sudut pandang yang tajam, bagaimana harus menyikapi kebakaran digital (digital fire). Sebuah tren yang tak bisa terelakkan. Saya yakin banyak sekali perusahaan, yang saat ini sedang gamang, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan ketika disrupsi digital hadir.

Ketika pesaing baru muncul, dan menggerogoti bisnis yang kita miliki. Content Trap mengacu pada fenomena yang dilihat Bharat Anand (penulis buku red), beliau mengamati, pengambil keputusan ketika menghadapi disrupsi digital berkutat pada konten. Konten apa yang akan ditawarkan, konten apa yang akan dibuat. Itulah maka ia menyebutnya sebagai jebakan konten, atau Content Trap. Semua fokus pada akan membuat apa? Bukan mengapa? Dan apa langkah untuk menyikapi perubahan?

Padahal apabila dilihat secara lebih luas, fenomena yang terjadi saat ini, disrupsi digital seharusnya dilihat sebagai sebuah koneksi dari berbagai faktor. Yaitu, pengguna, produk dan fungsi. Ketika Anda memahami 3 bagian ini, dan bagian mana dari koneksi yang didisrupsi oleh digital, maka Anda akan bisa menemukan strategi apa yang harus diterapkan agar tetap relevan dan memenangkan pasar.

connection-scheme

Koneksi pengguna, mengacu pada konsumen membeli produk bukan hanya karena mencari produk yang terbaik, tetapi produk yang banyak digunakan oleh orang lain, sehingga memudahkan mereka ketika bekerja dan berkoloborasi. Ini misalnya terjadi mengapa konsumen menggunakan Windows dibandingkan Mac, walau Windows secara produk tidak sebagus Mac? Karena pengguna Windows lebih banyak, sehingga akan memudahkan ketika datanya harus dikerjakan atau dibuka di komputer orang lain.

Koneksi produk,ketika terjadi digitalisasi mungkin saja penjualan produk atau jasa menurun. Tapi di sisi lain ini akan meningkatkan permintaan pada jenis produk atau jasa yang lain. Misalnya penurunan pembelian jumlah CD, karena konsumen mengunduh dari internet. Justru meningkatkan jumlah penonton konser, dan musisi bisa meningkatkan harga tiket konser lebih mahal. Di sisi lain meningkatnya jumlah permintaan official merchandise artis. Oleh karena itu dalam kasus seperti ini, perusahaan seharusnya melihat lebih luas, mengembangkan portofolio produk.

Koneksi fungsi, skema berpikir para pebisnis saat ini selalu dicekoki dengan cara pandang kacamata kuda. Lihat apa yang dilakukan kompetitor, tiru dan aplikasikan, lalu menangkan kompetisi.Padahal bisa jadi apa yang dilakukan itu tidak relevan, karena konteksnya berbeda, akibat perbedaan koneksi dari produk Anda. Setiap perusahaan dan bisnis harusnya memahami produk dan jasanya dengan memetakan, konteks lingkungan bisnis di mana dia berada, apa yang menjadi nilai tambah dari produknya, lalu fokus di bagian ini. Dan mengembangkan produk dan jasa baru berbasis digital, berdasarkan konteks tersebut.

Contoh yang sangat menarik ketika Bharat Anand menceritakan strategi Harvard Business School membuat kelas digitalnya, yang merupakan produk hibrida, dan berbeda dengan yang sudah ada, dan dirumuskan dengan proses berpikir dan pemetaan yang mendalam.

Apakah sudah membaca buku ini?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.