data-privacy

Pelajaran dari Cambridge Analytica 2: 9 Aksi Preventif dan Advokasi Konsumen Digital yang Bijak

Di tulisan bagian pertama, sayamembahas hal-hal dasarpenyebab kehebohan Cambridge Analytica. Lalu apakah ide hapus Facebook menyelesaikan masalah? Sama sekali tidak, di era sekarang suka tidak suka, mau tidak mau, kehidupan kita erat dengan digital dan internet. Data kita tersimpan bukan cuma di Facebook, tetapi juga di sistem data kependudukan pemerintah, di bank untuk semua transaksi keuangan, lalu juga Google dll.

Satu hal krusial yang kita semua perlu pahami, dan harus diperjuangkan untuk dilindungi adalah data pribadi kita yang disimpan di berbagi server. Masalah krusial di era digital, kalau mengutip konsep Johari Window ranah Unknown Self ini makin menipis kalau tak mau dikatakan menghilang, berubah semua menjadi Blind Self.

Ini yang berbahaya karena melanggar hak paling dasar manusia, untuk punya ranah tertentu yang terinvasi, dan lebih parahnya ini menjadi ranah unknown self. Apabila ingin memahami konsep Johari Window lebih jelas, konsep ini adalah sebuah bagan bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.

johari-window

Oleh karena itu ini beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melindungi, dan meminimalisir kebocoran data pribadi kita di internet. Ibarat di jalan raya, kita melek bahwa kita perlu pakai helm, sabuk pengaman, memperhatikan rambu lalu lintas dll.

Bijak mengunggah informasi di media sosial, dan selektif dalam memberikan informasi

Kita perlu berpikir ratusan bahkan ribuan kali sebelum unggah foto, mengisi profil, check in di media sosial, membagikan informasi dll. Mengapa? Semakin banyak informasi yang Anda sebar di media sosial apa pun itu, Facebook, Instagram, Twitter dll maka akan semakin besar porsi Unknown Self bergeser menjadi Blind Self.

Akibatnya apa? Anda akan lebih mudah diarahkan atau diprovokasi, apabila data ini jatuh ke tangan yang salah. Selama ini data dikumpulkan dan digunakan untuk menyasar iklan, membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran, efisiensi, tapi kita tidak pernah tahu data inibisa juga diselewengkan. Kasus Cambridge Analytica akhirnya membuktikan kekuatiran saja, dan saya yakin ini fenomena gunung es. Ada banyak kasus lain, yang mungkin belum terungkap.

Untuk meminimalisasi risiko, pilih setting friend only di Facebook atau media sosial lain yang sifatnya pribadi

Saya akhirnya memilih menggunakan fitur friend only di Facebook setelah melek tentang pentingnya keamanan data pribadi. Karena apabila dibuka untuk publik, data kitamudah sekali dimonitor oleh semua orang, yang saya tidak tahu tujuannya apa. Karena diantara semuanya, bisa jadi ada motif yang tidak baik. Apabila media sosial Anda yang lain, hanya diperuntukkan teman terdekat dan keluarga, bukan untuk personal branding, tidak ada salahnya untuk juga dibikin privat.

Jangan mudah tergoda ikut kuis-kuis, dan mengisi data sembarangan

Tahukah Anda kebocoran data di Facebook banyak dimulai dengan kuis-kuis kepribadian yang sangat menggoda, cek liputan kompas.com di sini. Kita merasa itu seru, dan menyenangkan tapi tidak sadar konsekuensinya.

Anda juga harus waspada dengan web atau aplikasi serupa yang mungkin dibagikan di WA dll. Jangan mudah terbujuk dengan situs web atau kuis yang kita tidak tahu kredibilitasnya, dan tujuannya untuk apa. Karena ketika mengumpulkan data Anda, bisa jadi mereka akan mengakses berbagai data penting lainnya. Atau mencocokkan dengan data pihak ketiga.

Selektif mengunduh aplikasi, cek review dan juga hanya unduh dari toko aplikasi resmi android atau ios

Anda sebaiknya sangat selektif dalam mengunduh aplikasi, apalagi yang gratisan. Aplikasi dari pengembang yang tidak dikenal, bisa saja berisi malware yang merekam semua informasi yang ada di gawai Anda, bahkan real time merekam percakapan dan perbincangan via suara atau pun teks.

Oleh karena itu disarankan juga memasang antivirus, dan scanner malware untuk melakukan pencegahan pencurian data dari gawai yang Anda miliki.

Baca dengan seksama Syarat dan Ketentuan Aplikasi yang diunduh

Ini pekerjaan rumah yang jarang dilakukan oleh konsumen, termasuk saya. Kita tahu bahwa Syarat dan Ketentuan seperti sengaja dibuat panjang, bertele-tele dan menggunakan bahasa hukum yang akan susah dipahami konsumen, dan secara tidak langsung menjebak kita untuk IYA saja.

Ini sebabnya di UU data pribadi baru di Uni Eropa, semua pengembang aplikasi harus membuat hal ini lebih singkat, dan mudah dipahami, karena ini sangat penting bagi kita sebagai konsumen untuk tidak masuk dalam jebakan batman.

Hindari sign in berbagai aplikasi dan situs web menggunakan akun media sosial atau dikenal single sign in

Ini terlihat sangat menyenangkan dan mudah, tapi juga membawa banyak risiko. Apabila satu data akun media sosialnya bocor dihack misalnya, maka akan terkena juga ke semua akun yang menggunakan single sign in tersebut. Ibarat Anda membuat satu kunci untuk semua pintu di rumah. Berbahaya kan?

Apabila melakukan transaksi ecommerce, pastikan web dan aplikasi punya sertifikasi keamanan

screenshot-kemanan

Sekarang tren belanja via online, saya tidak merekomendasikan Anda berbelanja di toko online yang belum dikenal. Anda harus cek apakah mereka punya fitur keamanan. Karena transaksi toko online melibatkan data yang lebih sensitif, misalnya nomor kartu kredit dll. Apabila sistem keamanannya lemah, bisa dengan mudah datanya bocor. Untuk mengetahui apakah sudah memenuhi standar kemanan atau belum, coba cek fitur ini, biasanya ada di bagian bawah situs webnya.

Sebisa mungkin hindari transaksi keuangan, dan yang sensitif di wifipublik

Kebocoran data bisa juga dilakukan ketika Anda memanfaatkan wifi publik, mereka merekam data Anda kita tak pernah tahu. Oleh karena itu hindari melakukan transaksi keuangan, dan hal yang sensitif di koneksi internet publik karena bahaya mengintai.

Perjuangkan hak Anda dengan menekan pemerintah dan DPR untuk membuat regulasi yang lebih ketat terkait pelindungan data pribadi

Hal paling esensial saat ini, bukan hanya tutup saja Facebook atau hapus aplikasi Facebook. Hal paling penting adalah bagaimana pemerintah dan DPR membuat sebuah aturan main yang lebih komprehensif untuk melindungi data pribadi, dan menciptakan pagar-pagar sehingga ruang gerak untuk penyelewengan makin sempit.

UU terkait perlindungan data pribadi yang terbaik dan jadi acuan di seluruh dunia adalah UU yang dimiliki oleh Uni Eropa, bernama EU General Data Protection Law (GDPR). Ini sangat penting sekali, sementara di Indonesia ketergantungan kita pada media sosial dan digital sangat tinggi, bahkan pemerintah terus mendorong digitalisasi tapi perlindungan belum ada, dan edukasi literasi digital terkait perlindungan data pribadi juga sangat rendah.

Berikutnya saya akan membahas, mengenai apa dampak yang mungkin bisa terjadi terkait kebocoran data, lalu bagian mana saja terkait data ini yang perlu diatur sehingga terbayang mengapa ini menjadi sangat krusial.

Baca Juga:6 Hal Tentang Big Data & Data Privasi Yang Harus Dipahami

Ada yang ingin menambahkan poin poin diatas?

 

Tuhu Nugraha Dewanto

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.