digital-literacy

5 Tips Memilah Informasi Layak Dipercaya Atau Tidak

Era internet dan media sosialmempunyai konsekuensi baru, yaitu banjir informasi. Banyak dari kita sebenarnya tidak siap, gagap tapi malu-malu mengakui bahwa kita tidak punya kompetensi menghadapi era ini. Ciri-cirinya? Kita mudah stres dan emosi dengan informasi yang belum tentu benar. Mudah terombang-ambing oleh berita bohong atau hoax.

Oleh karena itu mungkin beberapa tips ini bisa membantu, berdasarkan pengamatan saya, diskusi dengan berbagai teman, membaca buku, riset diinternet dll.

Tips 1, cek dan ricek informasi yang belum jelas sumbernya di Google

Ketika terima informasi apalagi cuma copy paste (copas) dari grup, media sosial dll jangan buru-buru bagikan, tapi cek dulu di mesin pencari seperti Google. Kalau ragu, atau malas untuk mencari informasi lanjutan, lebih baik jangan dibagikan itu bukan menebar kebaikan, tapi menyebar kebohongan. Ibarat kita saja masih ragu, lalu menyesatkan orang lain. Moral dan hati nurani kita pasti tak tega melakukan ini bukan?

Tips 2, berpikir kritis dan logis. Apakah ini secara nalar masuk akal kah?

Saringan lain yang bisa dilakukan adalah melihat apakah argumen dan fakta yang diungkapkan itu secara logika masuk akal? Apakah dua, atau lebih hal yang diungkap di situ itu saling terkait? Atau sebenernya ngga logis? Jangan-jangan ini cocoklogi? Awal-awal mungkin terasa susah, tapi semakin kita belajar untuk kritis, maka daya nalar kita akan semakin tajam.

Tips 3, media mainstream itu lebih layak dipercaya dibandingkan informasi diinternet yang belum jelas sumbernya

Tren yang sangat memprihatinkan saat ini, orang tidak percaya dengan media mainstream. Ini maksudnya media yang populer misal Kompas, Metro, Viva, TvOne dll, mereka lebih percaya update status orang, atau blog-blog yang tidak jelas siapa penulisnya dll.

Mengapa media lebih layak dipercaya? Karena jurnalis yang bekerja di media adalah mereka yang kuliah jurnalistik, atau sudah menjalani pelatihan jurnalistik. Karena menyajikan informasi tidak sekedar merekam video, atau menulis konten lalu disebar. Ada etika di sana, ada standar penulisan, ada dampak sosial, ekonomi dll yang harus juga dipikirkan.

Media mainstream juga punya sistem untuk mengendalikan subyektivitas dengan adanya standar pencarian fakta, ada editor yang melakukan pengawasan, ada dewan pers dll. Paling tidak ini lebih bisa dipercaya bukan?

Tips 4, media mana pun itu mainstream atau blog cek kredibilitas, afiliasi politik, pemiliknya dll

Walau di atas saya menyebut media mainstream lebih bisa dipercaya, tapi benar sekali kadang media punya agenda tertentu. Di sinilah, daya kritis kita diuji, untuk mengetahui konteks mengenai siapa pemilik medianya, siapa afiliasi politiknya, artikelnya lebih banyak condong ke mana. Atau memang terlihat memang ya independen kok. Itu harus dicek, dan ditentukan sendiri, jangan mudah percaya kata orang lain, dan mudah dikomporin tanpa pernah melakukan cek dan ricek sendiri.

Bagaimana dengan blog dan media lainnya? Hal yang perlu dicek juga sama. Dan perlu dicek juga siapa penulisnya misal perorangan, atau redaksinya. Apakah ada alamat redaksinya? Bagaimana mungkin dipercaya kalau nama penulisnya pake samaran, alamatnya tidak ada. Apakah patut, dan layak kita percaya?

Tips 5, apabila itu blog atau konten lepasan cek otoritas pemberi opini, apakah dia ahli dan layak dipercaya terkait isu itu?

Orang yang opininya layak dipercaya terkait isu tertentu, adalah mereka yang memang ahli dibidang itu. Keahlian itu ditentukan oleh konsistensi bergelut di bidang ini, lalu pengalaman, pengakuan dari komunitas terkait bidangnya, dan juga jenjang pendidikan formal. Ini menjadi standar kelayakan yang bisa kita pertimbangkan untuk berpkir, apakah opininya layak atau tidak dipercaya.

Misalnya saya hanya ahli dibidang digital, karena memang menggeluti ini sejak tahun 2008, dan konsisten berkarir di sini. Dan mungkin sedikit tentang fashion, karena saya melabeli sebagai #fashionabletrainer, dan konsisten mengunggah foto terkait ini di Instagram @tuhunugraha. Lalu apakah saya layak dipercaya ketika bicara soal sejarah atau politik? Tentu TIDAK. Karena itu bukan bidang yang saya geluti, dan saya tekuni.

Walaupun Anda tentunya tidak bisa melarang saya, sok tahu mengunggah opini soal sejarah misalnya, tapi Anda punya hak untuk tidak mempercayai opini saya. Itu sangat wajar.

Itu adalah beberapa poin dan tips yang bisa saya bagikan, jadi dalam proses mencerna informasi Anda bisa menggunakan langkah-langkah itu semuanya, atau sebagian. Itu tergantung situasi dan kondisi. Anda pun mungkin punya masukan, atau tips yang lain? Yuk berbagi di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.