Commercial-and-SME-Banking

3 Alasan Mengapa UMKM Perlu Melek Digital

Pertumbuhan digital di Indonesia sangat pesat, sekarang di mana-mana semua mulai bicara tentang digital. Tapi ketika dunia berlari sangat cepat, sebagian besar masih berpikir digital ini hanya sebagai kanal komunikasi, terutama komunikasi pemasaran. Dan lebih tragis lagi yang diketahui oleh kalayak Usaha Mikro Kecil & Menengah (UMKM) adalah social media, terutama Facebook, Twitter dan Instagram untuk promosi atau untuk jualan.

Padahal digital ini lebih dari sekedar kanal komunikasi dan promosi. Digital membawa perubahan yang mendasar, termasuk di dalamnya model bisnis yang berubah. Masihkah Anda melihat wartel? Masih kah Anda melihat agen koran? Tukang loper koran? Masihkah Anda kirim-kiriman surat? Lalu apa fungsi perangko?

Dan sekarang hampir semua industri sudah digoyang oleh kehadiran teknologi dan digitalisasi. Angkot pun ngelih sama saya, katanya sekarang sepi karena ada Go-Jek dan Grab. Jadi bukalah mata lebih luas bahwa dampak digitalisasi itu sudah kemana-mana.

Oleh sebab itu, saya bagi jadi tiga alasan utama kenapa UMKM harus melek digital!!!

Konsumen Migrasi ke Digital

Anda suka tidak suka, yakin tidak yakin konsumen bermigrasi dengan sangat cepat ke digital. Pertumbuhannya tiap tahun itu berkali-kali lipat. Data tahun 2015 saja berdasarkan Wearesocial, pengguna internet Indonesia sudah mencapai 88 juta, dari 250 juta lebih penduduk Indonesia. Tahun sebelumnya baru di angka 60-an juta.

Ini berarti ya betul, mau ngga mau Anda memanfaatkan digital media untuk mengkomunikasikan produk baik itu untuk promosi, atau pun jualan.

Kompetitor dari “Dunia Lain”

Pekerjaan rumah pertama sudah dilakukan, maka tantangan kedua Anda mesti waspada, karena  si penantang baru di industri bisa datang dari mana saja, dan justru biasanya bukan pemain lama di industri. Lebih parahnya lagi, ini ngga mengenal batas negara. Contohnya Anda punya toko baju paling ternama di Tasikmalaya misalnya. Dulu Anda hanya akan berpikir kompetitornya adalah ya toko sekitar sana. Tapi sekarang jangan salah, pasar Anda bisa jadi diambil MatahariMall, Zalora, Tokopedia, atau malah pedagang baju di Instagram misalnya.

Makanya jangan heran kalau Ramayana pun merespon dengan cepat hal ini dengan cara masuk ke digital walaupun sejauh ini baru sebatas komunikasi pemasaran saja. Anda bisa membaca lebih lanjut di sini. Ini yang sering kali tidak disadari karena kita fokus dengan kompetitor langsung, yang menjadi kompetitor kita saat ini.

Digital membuat kita mesti waspada, karena bisa jadi itu bukan kompetitor langsung, tapi menjadi pengganti dari produk atau jasa yang kita jual. Selain lengah memonitor kompetitor, tantangan lainnya adalah takut kanibalisasi dengan apa yang kita punya saat ini. Hal ini sering kali saya dengar. Tapi saran saya, daripada diambil pesaing, kanibal saja produk sendiri.

Data BegituMurah, Tapi Dituntut Kemampuan Filter Informasi

Tantangan UMKM jaman dulu adalah susah akses ke data dan informasi. Maklum UMKM dana terbatas, maka selalu haus akan ilmu. Digital membuat informasi bertebaran dengan sangat banyak, namun yang perlu dipikirkan adalah punyakah kemampuan dan kompetensi memilih informasi mana yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan? Jangan mentang-mentang informasi gratis lalu ditelan semua. Karena jadi ngga berguna juga.

Kedua kemampuan untuk menganalisa data yang diperoleh. Percuma kalau Anda terima begitu banyak data, tapi ngga paham ini artinya apa? Insight apa yang bisa disimpulkan dari situ? Langkah apa yang berikutnya bisa dilakukan? Ini menjadi keahlian baru yang harus dimiliki.

Sebenarnya masih banyak hal yang menarik yang bisa digali terkait digital untuk UMKM, kalau Anda berminat bisa ikut workshop bersama saya di bawah ini untuk yang berdomisili di Bogor. Ada yang mau ditambahkan? Disanggah? atau dikomentari dari 3 opini diatas? Mari diskusi

workshop bogor

Tuhu Nugraha Dewanto

Chief Operating Officer (COO) Upnormals Pingfans

Penulis Buku Best Seller “WWW.HM Defining Your Digital Strategy”

Unduh e-book GRATIS di sini