hoax

Selain Merdeka dari Hoax, Apa Kompetensi Lain di Era Digital?

Tepat di perayaan harikemerdekaan, saya sengaja menulis topik yang sangat seksi ini. Pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat mensosialisasikan kompetensi mengenali hoax alias berita bohong. Ini satu bagian kecil dari kompetensi digital, yaitu literasi digital. Definisi literasi digital adalah, kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, berbagi dan juga membuat konten digital, dan juga kemampuan berpikir analitis untuk mencari solusi permasalahan.

Lalu apa lagi kompetensi yang harus dimiliki agar bertahan di era digital? Saya pernah menulisnya di sini, tapi saya akan mengelaborasi lagi topik ini dengan lebih mendalam.

Pertama, kepekaan dan empati digital. Paham bahwa di digital juga perlu punya empati, dan soft skill sebagai bagianetika tak tertulis dalam berinteraksi.

Anda mungkin sering mendengar kata haters, mereka yang berkomentar dengan seenaknya, tanpa peduli perasaan orang lain. Mereka merasa tidak menyakiti siapapun karena tidak berhadapan langsung. Padahal kata-kata kasar dan menyakiti, mau itu disampaikan langsung atau pun tidak langsung. dampaknya sama kepada penerima pesan. Bedanya adalah yang satu kita melihat langsung, satu lagi tidak melihat langsung responnya.

Kemampuan untuk berempati sangat penting, karena bagaimanapun Anda berkomunikasi dengan manusia, bukan robot. Walaupun komunikasi ini melalui media perantara. Ini bukan menjadi alasan, karena tidak berhadapan langsung, maka tidak ada etika. Dan jangan salah, bukan hanya dampak sosial yang terjadi, tapi ujaran kebencian ini bisa membawa Anda dipenjara apabila korban melaporkan, dengan delik aduan, bisa dijerat dengan UU IITE.

Kedua, kompetensi komunikasi digital. Kemampuan berkolaborasi, dan menyampaikan pesan, melalui medium digital yang bisa jadi lintas budaya dan lintas geografis.

Kehadiran internet membuat semua orang yang terhubung, bisa berkomunikasi dan bekerjasama dengan siapapun dari seluruh dunia. Ini tentunya butuh kemampuan baru, bagaimana bisa beradaptasi dengan era ini. Kolaborasi menjadi hal yang standar dan biasa. Tapi apakah kita punya kemampuan untuk berkomunikasi lintas geografis, dan budaya? Dan juga melalui medium perantara yang ada via internet?

Kemampuan yang harus dimiliki misalnya kemampuan komunikasi lintas budaya, menulis e-mail, penggunaan teknologi dan alat kolaborasi lintas geografis dll. Komunikasi melalui medium seperti ini juga penuh tantangan, karena bisa terjadi kesalahpahaman karena ada bahasa tubuh yang tidak hadir di sana, sehingga bisa multi interpretasi.

Ketiga, kompetensi untuk menangkap peluang, dan memberdayakan digital untuk hal-hal yang produktif, bukan hanya sekedar menjadi konsumen.

Digital ini ruang yang sangat luas, banyak sekali peluang yang bisa dilakukan, sayang sekali banyak yang hanya menggunakan internet, dan digital sebagai tempat untuk mengkonsumsi hiburan, bermedia sosial, atau curhat.

Internet bisa digunakan untuk berjualan, belajar, membangun reputasi dan personal brand, berjejaring, riset dan mencari ide-ide baru, berkolaborasi membuat inovasi baru dll. Saya pernah membahas hal produktif apa yang bisa dilakukan di internet di sini.

Keempat, kesadaran tentang pentingnya perahasiaan data pribadi dan perlindungan data Anda di digital

Kita kadang tidak menyadari banyak sekali data yang kita bagikan diinternet dengan sukarela, dan tidak tahu apa konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus balik lagi ke jaman purba, tidak menggunakan internet sama sekali.

Internet dan kehidupan modern saat ini adalah hal yang tak bisa dihindarkan. Tapi Anda perlu memahami peluang, dan juga risiko yang bisa terjadi. Oleh karena itu perlu kemampuan untuk bisa lebih bijaksana, dalam membagikan informasi di internet. Karena ada banyak potensi risiko dengan membagikan data yang tak bijaksana, misalnya pencurian data, kriminalitas berbasis data yang Anda bagikan di internet, manipulasi perilaku berdasarkan data yang kita bagikan, persekusi akibat konten yang dibagikan di masa lalu dll.

Kelima, pemahaman tentang hak-hak kita di ranah digital misal hak cipta dan hak untuk dilupakan, dan menghapus data dan jejak di media sosial.

Anda mungkin kadang terlupa apa yang dibagikan di masa lalu, adalah hal yang dianggap memalukan, dan tak ingin ada lagi di internet. Atau Anda adalah seorang seniman yang punya hak agar karyanya diakui, dan mendapatkan royalti atas penggunaan karya tersebut. Atau di sisi lain seseorang pernah dituduh dengan tindakan tertentu, misalnya korupsi namun terbukti tidak bersalah oleh pengadilan, maka dia berhak untuk mengajukan penghapusan informasi yang akan merugikan ini.

Ada berbagai hak kita sebagai individual yang juga harus kita ketahui dan perjuangkan, karena dampaknya bisa ke diri sendiri atau lingkungan sekitar misalnya keluarga, kolega, perusahaan tempat bekerja dll.

Kompetensi apalagi yang menurut Anda perlu ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini