smart-phone-dumb people

6 Etika Diskusi di Media Online

Media berkembang sangat cepat, beberapa tahun lalu Anda berdiskusi via surat pembaca di koran, atau via telpon atau sms ke radio. Lalu muncul nternet yang memungkinkan diskusi via blog, lalu forum dan saat ini ada media sosial dan messenger.

Perubahan teknologi alat berdiskusi sangat cepat, tapi tidak diimbangi kesiapan manusia untuk mengantisipasi perubahan. Ada istilah yang sangat relevan “smart phone dumb people”. Oleh karena itu, sangat penting membuat diskusi, dan kajian terkait apa sih etika ketika diskusi online. Saya memaparkan beberapa hal yang terpikir, dan sangat terbuka apabila ada yang ingin menambahkan.

Prinsip 1, berikan komentar yang bertanggung jawab, karena apa yang Anda tulis akan meninggalkan jejak digital, dan punya dampak pada orang lain

Beberapa orang berpikir komentar di media onine bisa bebas saja, toh tidak berhadapan langsung, maka sopan santun tak perlu ada. Benarkah begitu? Kedua, karena tak melihat reaksinya, maka tak akan terjadi apa-apa, dan tak ada yang akan tersakiti. Ketiga, ya karena tak melihat langsung orang lain, maka boleh komentar ngasal aja, karena tak ada dampaknya. Yakin?

Semua pemikiran diatas sangat salah. Kita berdiskusi langsung sangat santun, karena sejak kecil diajarkan semacam itu, maka di online kenapa brutal? Pranata sosialnya sama, bedanya ini diskusi dimediasi alat bernama internet. Apapun komentar yang Anda sampaikan sangat berdampak secara psikologis, banyak yang mengalami masalah psikis akibat bully, dan komentar yang sangat kejam di online, walau Anda tidak melihatnya, bukan berarti tidak berdampak kan?

Ketiga, Anda jangan lupakan komentar yang ditinggalkan akan meninggalkan jejak, dan akan menggelayuti Anda sampai kapan pun. Rekam jejak ini bisa membuat Anda terkucil secara sosial, menghambat karir dll. Apakah pernah memikirkan ini?

Prinsip 2, kalau Anda ingin dihargai, maka belajarlah untuk menghargai pendapat orang lain yang mungkin berbeda, walaupun kelihatan (maaf) sangat bodoh sekalipun

Ada satu buku yang menurut saya sangat menarik memaparkan fenomena saat ini, yang kadang bikin kita frustasi. Buku The Death of Expertise, salah satunya membahas internet dan media sosial membuat kaum intelektual, dan non intelektual saat ini berada dalam satu ruangan yang sama. Ini salah satu yang menyebabkan terjadinya frustasi di kedua belah pihak. Review lengkap bukunya bisa dibaca di sini.

Oleh karena itu, pemahaman dan empati jadi penting banget. Anda harus sadar berbagi ruang dengan orang dari berbagai level intelektualitas, jadi belajarlah untuk menghormati dan menghargai perbedaan. Jangan membully, kalau pun Anda sangat yakin Anda benar, dan komentar itu sangat bodoh. Komentar pedas dan melecehkan, justru memicu konflik. Dan justru merugikan diri sendiri. Setuju?

Prinsip 3, fokus diskusi pada poin utama dan fakta pendukung, jangan melebar apalagi malah nyerang personal. Ini menunjukkan Anda baperan, dan belum siap terjun diskusi online.

Ini yang sering saya temukan di berbagai media sosial dan messenger. Kita harus paham poin sebelumnya, penghuni media sosial itu sangat beragam, oleh karena itu perlu empati yang lebih tinggi. Di sisi lain, yang menunjukkan betapa rendahnya diri kita, misal kalah diskusi lalu melebar ke hal-hal lain yang ngga berkaitan, atau menyerang personal. Ini sesuatu yang menunjukkan ketidakmatangan emosional Anda. Orang-orang lain mungkin cuma diam dan menyimak, tapi diam-diam mencatat seberapa kualitas pribadi Anda.

Prinsip 4, komentar sensasional biar terkenal itu tidak akan menguntungkan di jangka panjang

Saya melihat ada juga tren membuat komentar-komentar sensasional di lapak lapak yang ramai. Tujuan utamanya biar banyak yang penasaran, lalu follow akun dia. Benarkah ini menguntungkan? Anda akan dapat banyak follower mungkin benar, tapi apakah ini akan menjadikan Anda jadi selebritis ternama media sosial? Apa lantas bisa jadi influencer dan diendorse? Belum tentu. Sekarang brand juga lebih pintar memilih siapa yang jadi influencer, mereka akan melihat bukan cuma jumlah followers, tapi juga seberapa berpengaruh dan tentunya dalam artian yang positif.

Sementara risiko sosialnya akan lebih besar, mulai dari dibully di media sosial, dikucilkan dalam pergaulan online dan offline, atau bahkan dijegal karirnya akibat dianggap berperilaku tidak baik. Masih yakin mau bikin komen komen sensasi?

Prinsip 5, biasakan konfirmasi dan klarifikasi, jauhi asumsi dan tuduhan. Karena diskusi di online kita cuma membaca sekilas, dan hanya teks, sangat mungkin miskomunikasi

Diskusi di online kadang kita tidak menyadari situasinya seperti ini; kita membaca komentar dari orang yang kita tidak kenal, kita hanya membaca sekilas, komentarnya multi interpretasi, hanya terdiri dari teks tanpa emoticons. Lalu kita terlanjur gatal, penuh emosi, hampir memberondong dengan kalimat sarkas dan bully, tanpa kesabaran untuk mengklarifikasi apakah persepsi kita akan komentar dia, sesuai atau tidak.

Pernah mengalami situasi seperti ini? Saya yakin kita sering sekali ada di posisi begini.

Diskusi online menuntut kematangan emosional, dan juga tidak baperan dengan hal semacam ini. Biasakan untuk minta klarifikasi dan konfirmasi. Singkirkan dulu insting dasar kita yang lebih suka menyerang, tanpa berpikir panjang. Kesadaran bahwa jejak digital ini, bisa jadi akan kita sesali akan membuat kita bisa lebih mengendalikan diri.

Prinsip 6, pahami etika tidak tertulis berkomunikasi di online, sehingga tidak menimbulkan prasangka.

Ada banyak sekali contoh etika tidak tertulis kaitannya dengan menulis di online. Misalnya, menulis dengan huruf besar semua dianggap semacam teriak, dan marah-marah. Lalu hal yang sama juga, apabila Anda menggunakan huruf merah.

Apabila Anda ingin memberikan konteks pada kalimat yang Anda tulis, Anda bisa menggunakan emoticon untuk mengekspresikan emosi Anda saat menuliskan. Karena bahasa tulis itu hanya 30% dari total komunikasi, dengan memanfaatkan emoticon maka Anda memberika pesan yang lebih luas akan konteks apa yang ditulis.

Baca Juga:5 Kompetensi Komunikasi Digital yang Harus Dikuasai, Apa Saja?

Apakah ada poin lain yang ingin ditambahkan? Saya tunggu di kolom komentar ya.

 

Tuhu Nugraha

Digital Strategy Expert & Trainer

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini